Gerhana Bulan Menurut Warga Kebon Belek

Berbagai macam tradisi masyarakat Lombok yang sering dilakukan saat terjadi gerhana bulan mulai dari memukul perabot  oleh ibu rumah tangga dan anak-anak sebagai pertanda terjadinya gerhana bulan,  seperti yang dilakukan oleh warga dusun Kebon Belek desa Mekar Sari Kecamatan Narmada beberapa saat setelah terjadinya gerhana bulan pada Kamis malam 8 Oktober 2014 warga beramai-ramai keluar rumah setelah sholat Magrib.

Dengan membawa berbagai macam perabot rumah tangga seperti panci, ember dan lainnya.  selanjutnya dipukul-pikul hingga terdengar suara gaduh diseluruh penjuru kampung, menurut keterangan Ahyar  salah seorang warga yang saya temui mengatakan, “ini cara warga disini bila terjadi gerhana bulan dan sudah berlangsung sejak dulu sudah dicontohkan oleh orang tua kami.”

Selain itu ada juga sebagian warga yang keluar dengn membawa pusaka berupa pedang, keris dan jenis lainnya untuk dimandikan pada malam itu karena mereka berkenyakin jika pusaka seperti keris bila dimandikaan saat gerhana bulan maka akan punya keampuahan,  kelebihan dan khasiat tersendiri. Biasanya berbagai jenis pusaka dimandikan ditempat penampungan mata air, biasa disebut Lingko’ diiringi prosesi ritual sederhana dengan mengucapkan doa-doa dan membakar kemenyan yang menebarkan bau harum semerbak kesekelilingnya.

Suasana malam itu semakin ramai dengan suara gamelan Gendang Belek yang ditabuh mengiringi semakin jelas terlihat rembulan terpotong menjadi dua menandakan puncak gerhana bulan dimalam itu, ternyata peralatan mereka bawa tidak hanya sekedar ditabuh namun rombongan Kesehe (kelompok) Gendang Belek menuju kearah sungai besar disebelah utara dusun yang berpenduduk sekitar 500 jiwa itu. Karena mungkin penasaran dan rasa keingin tahuan yang besar banyak anak-anak yang mengikutinya atau mungkin mereka sekedar  menganggapnya sebagai sebuah hiburan yang menyenangkan dan jarang ditemui.

Cara memandikannya biasa saja persis sama seperti membersihkan perabot biasa hanya saja menurut ketua kelompok Gendang Belek dusun Kebon Belek, “gerhana bulan adalah berkah dari yang maha kuasa jadi kami membersihkan peralatan gamelan ini supaya ikut mendapatkan berkahnya, tentu sebagian dari berkah itu grup gamelan kami semakin banya yang nanggep (dipakai ) diberbagai acara.

Tidak sampai disitu saja, yang paling unik adalah ibu-ibu yang sedang hamil. Saya melihat beberapa orang ibu hamil bergegas menuju tempat pemandian umum dengan membawa peralatan mandi lengkap seperti sabun, shampoo dan handuk. Setelah mendapatkan keterangan salah ternyata mandi saat gerhana bulan bagi ibu hamil diyakini akan mendatangkan kesehatan bagi ibu dan anak dalam kandungan serta saat melahirkan akan mendapatkan kemudahan tentunya dengan seizin yang maha kuasa.

Dengan melihat, mendengar dan merasakan langsung berbagai macam kegiatan dan tradisi yang dilakukan masyarakat dusun Kebon Belek yang tergolong masih polos dengan tingkat pendidikan dan wawasan pengetahuan menengah kebawah, saya sejenak termenung sambil berpikir, sedikit sekali dari mereka yang tahu dan mengerti  teori Ilmu Pengetahuan Alam  yang menjelaskan tentang penyebab terjadinya gerhana bulan, bagaimana posisi Bumi, Bulan dan Matahari sehingga bulan terlihat hanya sepotong saat gerhana dan masih banyak lagi pertanyaan lainnya.

Namun ketidak tahuan itu malah tidak menjadi penghalang kuatnya keyakinan mereka akan berkah dari penomena alam tersebut. Mereka percaya Allah tidak menjadikan sesuatu sia-sia pasti ada tujuan dan manfaatnya, Gerhana Bulan mereka anggap sebagai kejadian luar biasa yang Allah perlihatkan dan setiap yang luar biasa pasti punya keutamaan, keutamaan itulah yang mereka kejar dengan melakukan berbagai macm tradisi saat gerhana Bulan tiba. (Abdul Satar) - 05

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru