Gamelan, Masih Eksis

KM.Jakem-Menyebut nama dudsun Penarukan, Bongor yang ada dikecamatan Gerung dan Bakong Dasan yanag ada di kecamatan Lembar umumnya bagi masyarakat Lombok Barat sudah tidak asing lagi karena hanya di dusun ini alat musik gamelan ditemukan dan sampai hari ini masih tetap eksis dengan segala kegiatannya dan tetap lestari sampai saat ini.

Alat music tradisional ini masih diminati banyak orang khususnya dikalangan orang tua karena menurut mereka gamelan (dalam bahasa Indonesia)dan Gambelan (dalam bahasa sasak) mempunyai sejarah panjang yang mengikuti perkembangan umumnya suku sasak di Nusa Tenggara Barat dan dalam pandangan orang-orang tua kita keberadaannya harus tetap dijaga dan dilestarikan.

Kemunculan Gendang Belek, Kecimol dan Ale-ale tidak bisa menghapus keberadaan alat music yang satu ini saking langkanya tarifnya juga terbilang mahal untuk satu kali pentas dalam satu desa saja nilainya tidak kurang dari 3 juta sedangkan jika pentas diluar kecamatan atau kabupaten tarifnya lebih dari 5 juta rupiah. Kemunculan gendang belek adalah sebagai bentuk modifikasi dari gambelan, sedangkan jumlah personil dalam satu kelompok kurang lebih 25 orang dalam bahasa sasak kelompok atau geroup ini disebut SEKEHE yang sudah dilengkapi dengan keahlian masing-masing seperti tukang tabuh gambelan, tukang suling dan pemukul gong.

Keberadaan gambelan ini biasanya diikuti dengan adanya gandrung atau yang biasa disebut penari/joged gandrung dan biasanya mereka ditampilkan dimalam hari untuk menghibur tamu undangan dan masyarakat sekitar dan tentunya untuk menghibur sohibul hajat atau yang biasa disebut dalam bahasa sasak “Epen Gawe”.

Dalam sejarah perkembangannya gambelan ini identik dalam budaya hindu. Namun setelah melalui proses akulturasi budaya local/sasak maka terciptalah gambelan dengan berbagai bentuk dan jenis seperti yang kita kenal saat ini. Dalam kontek keislaman alat music ini (Gambelan) dipakai oleh para wali sebagai alat untuk menyiarkan agama islam dengan mengubah sya’ir-sya’ir lawasnya dengan bacaan sholawat dan lain sebagainya. Kemunculan gendang belek , Kamput ale-ale adalah bentuk modifikasi dari gambelan, khusus untuk ale-ale cendrung adalah hasil modifikasi antara gambelan dan jogged gandrung.

Biasanya pementasan gambelan ini dari malam hari sampai keesokan harinya untuk mengiringi rombongan pengantin yang akan melakukan prosesi adat yakni “Nnyongkolan” yaitu mengantar kedua mempelai dari rumah pengantin laki-laki ke rumah pengantin perempuan.

Dari sisi keamanan nyongkolan denagn menggunakan gambelan atau gendang belek lebih tertib dan kondusif ketimbang alat music lainnya karena nyonkolan menggunakan gambelan tidak disertai bergoyang tetapi biasanya menari atau dalam bahasa sasak “ngibing” ketika sudah sampai didepan rumah pengantin perempuan dalam bahasa sasak ngibing ini dilakukan untuk “bukak jebak” (membuka jalan masuk). KM-Jakem [] - 01

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru