Rawat Tradisi “ROAH” Dengan Semangat Berbagi

Lombok, dikenal dengan pulau yang sangat unik. Selain simbol pulau 1000 mesjid, juga pariwisatanya yang mulai menggeliat. Salah satu daya pikatnya dengan mempertahankan tradisi lokal sebagai entitas budaya. Tradisi itu dikenal dengan "roah" (makan besar bersam-sama). Waktu saya menginjakkan kaki di lombok, banyak sekali tradisi roah masyarakatnya. Mulai dari merarik, ngurisan, ziarah makam, dll. Semuanya menyajikan roahan yang khas. Yang membuat saya terkaget lagi, suguhan menu makanannya yang kaya varian dengan porsi penuh dalam nare. Sungguh pemandangan luar biasa.

Saya  biasanya mendapat undangan roahan dari ibu-ibu d kampung. Agar menikmati suguhan khas menu roahan, saya sengaja biarkan perut tidak terisi. Sudah bisa dipastikan kita akan semangat menyantap lahap sajian menu yang disuguhkan. Lebih lengkap lagi dengan ekspresi wajah penuh keringat. Waktu roahan, yang melakukan “gawean” akan ramai didatangi sanak saudara, tetangga, tamu undangan, dll. Sayapun kembali bertanya-tanya, berapa budget yg dikeluarkan untuk melakukannya. Padahal, tradisi roah tidak mengenal status sosial dimasyarakatnya.  Tanya ini tidak saya pendam dalam hati saja, bu Aminah selaku ketua community center (CC) “Perempuan Maju Bersama” Desa Jagaraga menjelaskan secara detail yang dilakukan warga didusunnya untuk merawat tradisi itu.

Tradisi roah sudah turun temurun dilakoni masyarakat sasak, ujarnya. Dari tutur  orang tua sebelumnya, ia hidup dan berkembang dimasyarakat dengan dinamis. Ditengah kebutuhan ekonomi yang melambung tinggi, tidak sedikitpun menggeser minat warga. Justru sebaliknya, masyarakat semakin adaptif  melakukan langkah-langkah inisiatif hebat. Misalnya dengan membentuk kelompok-kelompok kecil. Ada kelompok perabot, kelompok kayu, kelompok jajan, kelompok banjar, kelompok roahan, kelompok beras, kelompok ale-ale, kelompok daging, dll, .

Pelaksanaan tradisi roah dengan biaya sendiri untuk kondisi sekarang tidak mungkin dilakukan karena pasti mahal. Biaya yang dibutuhkan untuk melaksanakan 1 kali roahan tergantung kemampuan orang yang melaksanakan. Biasanya mengahabiskan biaya jutaan. Apalagi banyak keluarga, kerabat, dan tamu undangan yang dihadirkan. Dengan modal sandaran hidup buruh tani, tukang galian pasir, buruh pemetik jabe, rasanya mustahil roahan bisa dilakukan. Tapi warga tidak akan kehilangan cara untuk merawat tradisi itu.

Kesadaran itu membuat Bu Aminah dan Bu Amisah sebagai actor penggeraknya membentuk kelompok kecil. Kelompok perabot terbentuk tahun 2004 dengan 18 orang anggota. Iuran yang dikenakan Rp 15.000/kk. Uang yang terkumpul digunakan sebagai modal awal membeli perabot roahan. Sedangkan untuk menambah koleksi perabot, tiap habis masa panen sesuai kesepakatan akan mengumpulkan 10 kg gabah kering/anggota. Setelah gabah terkumpul, ketua kelompok akan menjual ketempat heler padi.

Tidak ada harga pasti. Harga gabah keringpun mengikuti kurs rupiah terhadap dolar, terkadang Rp 300 ribu/100 kg sampai Rp 400 ribu/100 kg. Anggota kelompok ini sekarang bertambah 2 orang menjadi 20. Aturan mainnya tidak lagi seperti dulu, anggota baru akan langsung mengeluarkan iuran Rp 350.00/orang. Bisa dipastikan, uang tersebut digunakan untuk belanja koleksi perabot. Sekarang warga dusun Karang Bucu Desa Jagaraga tidak kesulitan meminjam perabot dari satu rumah ke rumah.

Cukup meminjam di kelompok dengan sewa sewa Rp 70.000 sampai selesai. Biasanya jumlah hari pelaksanaannya tergantung jenis roahan. Misalnya roahan merarik sampai 7 hari. Dulu, perabot ini dibelanjakan ketua kelompok ke pasar Bertais Mataram. Seiring sistim jualan jempot bola, sudah banyak para penjual yang menggunakan mobil pick up menjajakan jualannya.

Untuk kelompok roahan, memiliki anggota 14 orang. Setiap anggota akan mengeluarkan beras 3 kg, kopi ½ kg, gula 1 kg, minyak goreng ½ kg, telur 10 biji, kelapa 2 biji. Bahan ini terkumpul 10 hari sebelum acara. Biasanya ketua kelompok akan menjadi juru “ngarah” dari rumah kerumah. Sedangkan kelompok kayu dengan anggota 18 orang akan mengumpulkan gula 2 kg, minyak goreng 1 kg, kopi ½ kg, kayu 2 ikat. Kelompok jajan dengan anggota 37 orang.

Pada saat menjelang roahan tiap anggota akan membagi diri membawa jajan masing-masing 1 plastik. Jajan yang umum dibuat seperti, tempeyek, sepit, pisang 1 bakul, banget 3 kg dan 1 kelapa. Untuk kelompok daging, anggota mengeluarkan uang Rp 20.000/orang.

Beda halnya dengan 3 kelompok lain, kelompok banjar, kelompok beras dan kelompok ale-ale. Kelompok ini semuanya beranggotakan laki-laki bajang (muda dan belum menikah). Biasanya setiap anggota mengeluarkan iuran Rp 20.000/orang. Dana yang terkumpul akan digunakan untuk belanja kebutuhan perabot roah yang besar-besar. Misalnya dandang besar, ember besar/kecil, lampu/kabel/cok, lesung batu (tempat numbuk bumbu), penggorengan besar, kape (alas dari kayu untuk memotong nangka atau parut kelapa).

Sedangkan kelompok beras, setiap laki-laki bajang akan mengeluarkan beras 8 kg, gula ½ kg, kelapa 2 biji, ayam jag0 1 ekor, dan uang Rp 20.000. Semua bahan ini akan dikumpulkan para bajang waktu salah satu anggota melakukan “merariq” (menikah). Sedangkan kelompok ale-ale dengan 50 orang anggota akan mengeluarkan iuran sebesar nilai sewa ale-ale yang akan dibagi rata kesemua anggota.

Prosesi ini dilakukan secara bergiliran, tergantung siapa yang terlebih dahulu melaksanakan roahan. Bisa dipastikan, betapa ringan bagi tiap anggota/warga yang melakukan roah. Tidak ada keanggotaan yang dobel. Hal ini untuk memastikan tiap kk dalam satu dusun tersebar merata dalam kelompok. Inisiatif cerdas ini menjadi cara warga merawat tradisi nenek moyangnya agar tidak lekang digilas arus jaman.[] - 01

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru