"Begawe" Antara Tradisi dan Agama


Begawe atau Roah yang dalam bahasa Indonesia di Kenal dengan Pesta adalah sebuah tradisi Masyarakat sasak untuk mengundang semua keluarga, sanak family, handai dan tolan untuk makan bersama di rumah yang punya hajatan. Hal ini biasa dilakukan ketika ada anggota keluarga menikah yang dikenal dengan roah nyongkolang, ketika mau khitan anak, yang dikenal denagn Roah Nyunatang (khitanan), akekah anak.

Bahkan juga ketika ada anggota keluarga yang meninggal dunia, mulai dari hari meninggalnya dilanjutkan ke hari ketiga sejak meninggalnya yang diistilahkan “Nelu” yang berarti tiga, hari ketujuh yang disitilahkan “Mituk” yang artinya tujuh, hari kesembilan yang diistilahkan “Nyiwak” yang artinya Sembilan. Dan bagi keluarga yang lebih mampu kita juga merayakannya pada hari keempat puluh sejak meninggal dunia yang diistilahkan metang Dase, bahkan ada juga yang sampai hari keseratus yang diistilahkan nyatus, yang berarti seratus.

Pertanyaan besarnya adalah, apakah Roah-roah atau Begawe seperti ini ada dalam ajaran agama? Kalau memang ada, Dalilnya apa?, sekalipun ini yang jadi pertanyaan mendasarnya tapi tidak ini yang ingin saya mengajak para pembaca kaji, tapi lebih pada pertanyaan kedua yaitu apa manfaat dan dampak dari kegiatan tersebut?.

Untuk langsung mendapatkan perbandingan maka saya ingin menyandingkan antara textual dengan kontekstual atau sederhananya antara taori dan fakta.

  1. Ada perintah, “Jika engkau mempunyai kelebihan rizki maka sedekahkanlah sebagiannya” faktanya kita kadang-kadang pontang panting peras keringat banting tulang melalui kerja-kerja kasar, bertahun-tahun baru bisa kita kumpulkan uang sepuluh juta ternyata harus kita habiskan dalam waktu sehari untuk niat yang tidak jelas. Demi gengsi kelaurga. Bukankah itu pertanda bahwa kita masih kekurangan?. Dan itu akan membuat kita sulit Ikhlas.
  2. Ada perintah, “orang tidak akan mencapai derajat kebaktian sehingga harus dia menafkahkan  harta yang paling dicintainya” faktanya kalau kita mau Begawe atau Roah, kita cari beras Raskin, tidak Cuma yang jadi kekurangannya, tapi juga kematangannya, belum mateng betul  baik nasi maupun dagingnya, kita cari lauk pohon ares yang tidak semua orang suka. Bukankah itu pertanda kita belum menafkahkan harta yang paling kita cintai?.
  3. Ada perintah, “janganlah kau batalkan sodakohmu dengan menyebut-nyebut apa yang sudah kamu sedekahkan dan jangan menyakiti orang yang kamu berikan itu”, faktanya begitu selesai pesta dimana-mana kita yang punya hajat duduk pasti kita bercerita berapa total penghabisan, dimana saja hutang kita masih tersisa. Bukankah itu pertanda bahwa kita sudah menyebut-nyebutnya yang berarti membatalkan sodakoh kita?.
  4. Ada Perintah, “ janganlah kamu suka mubazzir, sesungguhnya mubazzir itu adalah saudaranya syaitan”, faktanya pada setiap pesta pasti undangan menyisakan makanan yang sudah diambilnya (disuguhkan) di piringnya. Bukahkah itu yang namanya mubazzir?.
  5. Dll

Fakta yang saya suguhkan ini tidak semuanya benar, karena ada juga orang yang hartanya sudah berlimpah lalu dia cari hartanya yang paling bagus, dia servis tamunya dengan memuaskan, dia sangat ikhlas melakukan itu sehingga ia anggap angin lalu saja, ia tidak akan pernah mengingat berapa penghabisannya apalagi menyebutnya. Tapi ini adalah langka, yang saya suguhkan adalah fakta kebanyakan. Ada ungkapan dalam istilah Ushul fiqh, “Annadlir Laa Hukmalahu” yang kurang lebih maksudnya “bahwa yang jarang itu tidak bisa dibuat jadi standar”.

Apa yang saya suguhkan ini tidak untuk dibantah, tidak untuk dibenarkan dan persalahkan, tapi ini untuk dikaji bahkan lebih pas lagi untuk direnungkan, kenapa?.


Mari kita lihat fakta berikutnya dari sisi lain

  1. Ada perintah
  • Allah akan mengangkat orang yang berilmu itu beberapa derajat.
  • Menuntut Ilmu adalah kewajiban bagi setiap kaum muslimin dan muslimat
  • Menuntut ilmu adalah kewajiban umat manusia dari sejak ia lahir hingga keliang lahat
  • Ajarlanlah anak-anakmu berenang dan memanah
  • Dll

Semua ini adalah I’tibar tentang wajibnya menyekolahkan anak-anak kita, faktanya warga kita seringkali mengklaim diri tidak mampu membiayai anak-anaknya sekolah, padahal untuk begawe atau Roah, kita sanggup melakukan berbagai terik seperti banjar (sejenis arisan yang mempunyai perjanjian dikeluarkan setiap ada yang mau pake). Ada banjar besunat,banjar kecimol, banjar merarik dll. Jenis yang diluarkan pun berbeda-beda sesuai dengan kesepakatan, ada banjar beras sama 25 kg, gula 5 kg, kelapa 5 biji, kopi 1 kilo jadi satu paket, ada yang dalam bentuk uang untuk biaya kecimol, dll.

Kalau memang kegiatan banjar ini dianggap cukup membantu kenapa tidak untuk hal-hal yang lebih bermanfaat, misalnya banjar bangun rumah, supaya kita punya rumah yang memenuhi standar kebersihan dan kerapian sehingga anak-anak kita tidak bertengkar saling kleim, mana kamar  untuk si Bungsu dan mana kamar untuk si sulung, Banjar bikin pagar rumah, biar batas-batas pekarangan jadi jelas sehingga tidak akan menimbulkan masalah dengan tetangga yang bersebelahan, banjar bikin kamar mandi biar kita tidak hanya BAB di kebun yang sering jadi sumber penyakit.

Atau yang lebih hebat lagi, misalnya banjar untuk anak-anak sekolah, supaya anak-anak kita bisa melanjutkan studinya kejenjang yang lebih tinggi dan di sekolah yang lebih bergengsi sehingga SDM generasi kita berikutnya akan lebih tinggi. Inilah syahid dari apa yang ingin saya mengajak kita semua renungkan kenapa untuk sesuatu yang menjadi kewajiban kita, kita cepat mengalah sebelum bertanding, sehingga begitu anak kita mencapai kelas tiga SLTA kita sudah rencanakan untuk mengirim mereka ke Malaysia untuk mencari uang, karena kita sudah merasa tidak akan mampu untuk membiayai sekolah mereka,  Padahal kalau untuk kita begawe nyunatang (khitanan), nyongkolang, merarik dll kita sanggup mengeluarkan biaya berjuta-juta bahkan puluhan juta.

Kalau kajian ini patut di kaji maka kajilah bersama warga disekitar anda, tapi kalau memang tidak penting maka anggaplah angin lalu !. Jangan kemudian mengajak saya berdebat, karena dalam hal ini saya kalah sebelum bertanding. [] - 01

By. Habib

 

Photo : ketika hadir begawe.

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru