Lestarikan Rudat Yang Hampir Sekarat


Saat ini sudah banyak unsur dan atraksi budaya lokal masyarakat Lombok pada khusunya dan masyarakat NTB pada umumnya yang hampir mati. Perasaan penulis merasa teriris dan pilu menyaksikan hal tersebut dan penulis yakin bahwa saudar semua juga akan merasakan hal yang sama jika memperhatikan keadaan tersebut dengan seksama. Untuk itu, dalam tulisan kali ini saya coba membangkitkan adrenalin kita semua dengan mengangkat salah satu seni pertunjukan suku Sasak yang saat ini sudah hampir punah dan bahkan hampir hilang dari ingatan sebagian besar masyarakat kita. Seni pertunjukan yang saya maksud adalah “Seni Pertunjukan Rudat” yang merupakan salah satu atraksi budaya suku Sasak yang cukup tenar dan digemari oleh masyarakat Lombok pada puluhan tahun yang lalu.

Penulis mengajak kita semua untuk mengingat apa dan bagaimana “Rudat” itu. Berikut ini akan penulis paparkan beberapa hal yang terkait dengan Seni Pertunjukan Rudat agar kita dapat mengenal dan kembali mencintainya dan mudah-mudahan dapat dihidupkan kembali sebagai bagian penting dalam tubuh budaya tradisional kita selaku suku Sasak.

1. Pengertian Rudat

Rudat adalah sejenis kesenian tradisional yang semula tumbuh dan berkembang dilingkungan pesantren. Seni Rudat merupakan seni gerak/tari dan fokal diiringi tabuhan ritmis dari waditra sejenis terbang. Syair-syair yang terkandung dalam nyanyiannya bernafaskan keagamaan, yaitu puja-puji yang mengagungkan Allah, Shalawat dan Rasul. Tujuannya adalah untuk menebalkan iman masyarakat terhadap Agama Islam dan kebesaran Allah. Sehingga manusia bisa bermoral tinggi berlandasan agama islam dengan mendekati diri kepada Allah SWT. Rudat merupakan tarian yang diiringi oleh musik terbangan dimana unsur tariannya kental dengan nuansa agama, seni bela diri, dan seni suara. Secara gambalang dapat dikatakan bahwa kesenian Rudat adalah panduan seni gerak dan vokal yang diiringi musik terbangan dimana di dalamnya terdapat unsur keagamaan, seni tari dan seni suara. Kesenian Rudat merupakan paduan dari senitari dan seni musik yang bernafaskan islam dan syair-syairnya berupa puji-pujian kepada Allah dan salawat nabi.

2. Fungsi Rudat

Petunjuk seni terbang (termasuk Rudat) pada mulanya bertujuan untuk penyabaran agama islam yang dilaksankan pada setiap acara Maulidan, yaitu upacara memperingati hari lahirnya Nabi Muhammad SAW, Rajaban (memperingati isro mi’raj), Hari Raya Idul Fitri dan Hari besar Islam lainnya. Pada perkembangan berikutnya seni Rudat biasa dipertunjukan dalam acara hiburan di lingkungan pesantren, upacara perkawinan atau khitanan. Dengan demikian pada zaman dahulu kesenian Rudat memiliki fungsi sebagai:

a. Mdia dakwah

Seperti dijelaskan pada bagian sebelumnya bahwa kesenian Rudat adalah salah satu jenis seni tari yang bernuansa islam. Pada setiap pertunjukannya, kesenian Rudat yang dipentaskan oleh para pelakunya senantiasa membawa pesan-pesan ke-islaman kepada setiap penontonnya. Syair-syair yang dilantunkan pada saat pertunjukan merupakan syair yang bernuansa dakwah melalui lantunan salawat nabi dan firman-firman ilahi yang dikemas menjadi syair pengiring tari.

Selain itu cerita yang dimainkan dalam pertunjukan Rudat juga cerita-cerita yang bernafakan islam, seperti cerita Raden Kamaruzzaman dan Indrabangsawan.  Kedua cerita tersebut adalah cerita yang mengisahkan tentang perjuangan menyebar luaskan sy’ar islam, sehingga jelaslah bahwa fungsi Rudat adalah sebagai alat untuk menyebarkan agama islam.

b. Media penyambung silaturrahmi

Salah satu alat untuk mempererat tali silaturrahmi masyarakat adalah pementasan kesenian, baik itu kesenian yang berupa seni tari, seni pewayangan, seni derama ataupun yang lainnya. Kesenian Rudat juga demikian, artinya dengan pementasan kesenian Rudat ini maka masyarakat akan berkumpul dan bertukar cerita pada saat mereka menonton pertunjukan tersebut.

c. Media hiburan

Pada tahap perkembangannya kesenian Rudat dipentaskan sebagai hiburan bagi masyarakat dan bahkan bisa dikatakan bahwa kesenian Rudat dipentaskan untuk kepentingan matrial, artinya kesenian Rudat ini dipentaskan sebagai hiburan dimana setiap melakukan pementasan, kelompok kesenian Rudat disewa oleh orang-orang yang menyelenggarakan acara pernikahan, khitanan dan acara-acara lainnya.

3. Pemain dan Wadirat (Alat) Musik Pengiring Pertunjukan Rudat

Jumlah pemain rudat berkisar antara 12 sampai 24 orang mulai menabuh waditra/alat sebagai penari dan sebagai penyanyi. Waditra yang digunakan tersebut dari bahan-bahan yang ada dilingkungan, jenis Waditranya adalah berbentuk bulat seperti tampayan. Cara menggunakan alat ini dengan dipukul. Tojo, berbentuk bulat seperti tempalan, terbuat dari kayu dan kulit kerbau, cara menggunakan alat ini dengan dipukul-pukul sebagai pokok lagu atau melodi. Nganak, berbentuk bulat seperti temppayan, terbuat dari kayu dan kulit kerbau, memiliki ukuran muka dengan garis tengah 37 cm dan garis tengah belakang 27 cm. Jidor, berbentuk bulat seperti bedug, terbuat dari kayu dan kulit kerbau. Ukuran garis tengah belakangnya 44 cm, dan tingginya 47 cm.

4. Pola Permainan Rudat

Dari segi geraknya rudat menggunakan gerakan silat, namun dalam permainan Rudat unsur tenaga tidak banyak mempengaruhi. Lagu Rudat hampir sebagian besar bernafaskan keagamaan. Sedangkan gerakannya terdiri dari gerakan kaki yang serempak ketika melangkah kedepan, belakang dan samping yang melambangkan kebersamaan langkah dan keserasian bentuk koreografi. Kaki, terdiri dari gerak kuda-kuda, adeg-adeg, masekon rengkuh, duku depok dan lain-lain. Tangan, terdiri dari gerak mengepel, tonjok, gibas meupeuh, keprok kepret. Kepala, mengikuti arah tangan yang bergerak yaitu ke seluruh arah. Beberapa gerakan antaralain yang dalam seni rudat antaralain gerakan nonjok, yaitu kaki kanan melangkah ke depan dengan posisi kuda-kuda dan tangan kiri mengepal sementara kepala lurus ke depan. Gerakan gibas, yaitu kaki kanan tegak lurus. Tangan kiri menekuk dengan arah gerak ke kanan. Kepala ke arah kanan dan membalik langsung ke kiri.

Dalam menyajikan kesenian Rudat penari menggunakan kostum seragam yang menandakan bahwa mereka harus hidup rukun dengan tetangga. Adapun bentuk kostumnya terdiri dari busana pria yang terdiri dari celana pangsi hitam, baju putih, selendang, kain samping batik dan tutup kepala. Kesenian Rudat digunakan untuk keperluan penyambutan tamu pada acara pernikahan, khitanan, mauludan, dan rajaban.

5. Faktor Penyebab Memudarnya Kesenian Rudat

Memudarnya antusias masyarakat untuk mempertahankan kesenian Rudat di pulau Lombok disebabkan oleh berkembangnya media yang menayangkan berbagai jenis hiburan yang lebih menarik. Sehingga secara tidak langsung kesenian Rudat ataupun kesenian-kesenian tradisional lainnya berlahan-lahan dilupakan oleh masyarakat.

Tidak dipungkiri bahwa sejak berkembangnya TV, CD, ataupun DVD dan media elektronik yang menampilkan berbagai tayangan menarik, maka sebagian besar orang lebih tertarik untuk menonton TV atau memutar kaset CD atau DVD, ketimbang mereka harus pergi menonton pagelaran Rudat yang ceritanya hanya itu-itu saja. Perkembangan teknologi ternyata merupakan hal yang sangat besar pengaruhnya terhadap pemikiran masyarakat, khususnya tentang dunia seni tradisional sehingga sejak banyaknya orang yang memiliki TV dan VCD maka antusiasme masyarakat terhadap kesenian tradisional mundur dengan begitu saja.

Selain itu, memudarnya seni pertunjukan tradisional seperti Rudat dan tarian-tarian tradisinal Lombok lainnya juga disebabkan oleh terkontaminasinya unsur seni pertunjukan tradisional oleh seni pertunjukan ataupun seni musik modern. Padahal pada masa lalu Seni Pertunjukan Rudat hapir digemari oleh sebagian besar masyarakat Lombok. Hal ini terbukti dengan berkembangnya kelompok-kelompok pemain Rudat di berbagai daerah Lombok. Di Lombok Timur terdapat puluhan kelompok pemain Rudat, yang seperti di Senang, Peneda Gandor, Labuhan Haji, Sakra, Terara dan sebagainya. Di Lombok Utara terdapat beberapa kelompok Rudat di sekitar Kecamatan Bayan, Kayangan, dan Pemenang. Di Lombok Tengah, serta Lombok Barat juga demikian halnya. Namun, saat ini kelompok-kelompok Rudat tersebut sudah hampir punah sebab tersisih oleh atraksi budaya modern yang umumnya tidak mencerminkan nilai luhur budaya kita.

6. Strategi dan Upaya Pelestarian

Untuk itu diperlukan strategi dan upaya pelestarian budaya lokal, khsusnya kesenian. Strategi yang seyogyanya dilakukan sebagai upaya pelestarian kesenian tradisional seperti Rudat dan kesenian tradisional lainnya adalah:

  •  Pemerintah memperkenalkan kesenian Rudat dan kesenian tradisional lainnya melalui Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga, dengan membuatnya sebagai salah satu ekstra kurikuler di Sekolah, baik SD, SMP, maupun SMA, serta memperkenalkannya dengan memasukkan kesenian Rudat sebagai bagian dari kurikulum muatan lokal.
  • Pemerintah melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan melakukan pemetaan atau pendataan terhadap kelompok-kelompok kesenian tradisional yang pernah ada, kemudian melakukan peremajaan terhadap sekaha atau pemain Rudat yang sudah berusia lanjut pada kelompok-kelompok pemain Rudat yang masih aktif dan menghidupkan kembali kelompok-kelompok kesenian tradisional yang sudah tidak aktif.
  • Pemerintah memberikan bantuan dana untuk pengembangan kesenian tradisional Rudat pada khususnya dan kesenian-kesenian tradisional lainnya.
  • Pemerintah melalui dinas-dinas terkait melakukan kontrol yang berkesinambungan dan berkelanjutan dengan melakukan kunjungan ke pada kelompok-kelompok yang sudah diberikan bantuan dana supaya mereka tidak menyalah gunakan dana pengembangan tersebut.
  • Pemerintah dan pihak-pihak terkait memberikan motivasi kepada para pemain dan kelompok kesenian tradisional dengan memberikan apresiasi kepada mereka yang tetap menjaga dan melestarikan budaya tradisonal.
  • Pemerintah dan pihak-pihak terkait dapat menyelenggarakan sebuah lomba untuk membangkitkan semangat para pengagum dan pemain kesenian tradisional seperti Rudat, sebagaimana yang telah dilakukan oleh Pemprov NTB pada puluhan tahun lalu yaitu menyelenggarakan Lomba Pertunjukan Rudat Tingkat Provinsi.
  • Kelompok-kelompok kesenian yang sudah ada diharapkan untuk senantiasa bersemangat untuk terus menjaga dan melestarikan kesenian tradisional dengan terus melakukan latihan dan pementasan.           

Harapan Penulis

Di ahir tulisan ini, penulis berharap supaya Pemerintah Daerah Provinsi NTB pada umumnya dan Pemerintah Daerah KLU, Lobar, Loteng, ataupun Pemda Lotim melalui Dinas Pendidikan dan Oleahraga serta Dinas Pariwisata dan Kebudayaan untuk senantiasa memberikan perhatian terhadap kelompok-kelompok kesenian tradisional yang ada sehingga kesenian tradisional seperti Rudat, Gendang Beleq, dan Gandrung yang merupakan identitas budaya suku Sasak tidak hilang begitu saja.

Dan bagi kita selaku generasi muda diharapkan untuk senantiasa mencoba untuk mengenal, menjaga, dan meslestarikan kesenian tradisional, seperti Rudat dan kesenian tradisional lainnya agar kesenian-kesenian tersebut dapat ditemukan oleh anak cucu kita dan supaya identitas budaya lokal kita tidak hilang ditelan budaya modern dan budaya global. [] - 01

_Asri Van Rama_

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru