KRISIS BUDAYA LOKAL DI ZAMAN GLOBAL

BUDAYA LOKAL VS BUDAYA GLOBAL

Globalisasi merupakan sebuah istilah yang muncul sekitar dua puluh tahun yang lalu, dan mulai begitu populer sebagai ideologi baru sekitar lima atau sepuluh tahun terakhir.  Sebagai istilah, globalisasi begitu mudah diterima atau dikenal masyarakat dunia. Wacana globalisasi sebagai sebuah proses ditandai dengan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga ia mampu mengubah dunia secara mendasar. Globalisasi sering diperbincangkan oleh banyak orang, mulai dari para golongan intlektual hingga masyarakat tertinggal.

Globalisasi menjadi tantangan untuk semua aspek kehidupan manusia, termasuk aspek kebudayaan.  Perlu kita ingat bersama, budaya merupakan hasil cipta, rasa, dan karsa manusia. Budaya merupakan kekayaan yang tidak ternilai harganya, sebab masing-masing masyarakat memiliki budaya yang berbeda satu sama lainnya. Budaya tradisional atau yang lebih dikenal dengan istilah budaya lokal memiliki nilai dan makna tersendiri bagi para penganutnya, sebab itulah budaya lokal sangat penting untuk dijaga dan diwariskan dari generasi ke generasi. Pewarisan budaya dapat dilakukan melalui lembaga pendidikan, baik lembaga pendidikan formal ataupun informal. Contohnya pewarisan budaya melalui keluarga, masyarakat, dan lembaga pendidikan formal yang dikenal dengan sekolah.

Kebudayaan lokal bisa menjadi identitas bagi suatu wilayah atau masyarakat yang menganut dan mengembangkan budaya tersebut. Perlu diingat bahwa kebudayaan itu mencakup berbagai aspek kehidupan manusia. Secara umum ahli budaya membagi unsure kebudayaan itu menjadi 7 yang kemudian dikenal dengan istilah “7 Unsur Universal Budaya” yang terdiri dari; (1) Sistem religi dan upacara keagamaan, (2) Sistem Bahasa, (3) Sistem Kekerabatan, (4) Sistem Mata Pencaharian, (4) Sistem Kesatuan Hidup dan Politik, (5) Sistem Pengetahuan dan Teknologi, (6) Sistem Peralatan Hidup, dan (7) Sistem Kesenian. Ketujun unsur tersebut menjadi kesatuan yang tidak bisa terpisahkan dari perkembangan kehidupan manusia dimanapun ia berada. Wujud dari unsur-unsur kebudayaan itu yang kemudian menjadi pembeda suatu kelompok masyarakat dengan kelompok masyarakat lainnya yang nantinya sering dijadikan sebagai identitas dari kelompok masyarakat tersebut.

Bangsa Indonesia merupakan negara yang kaya akan kebudayaan, dimana setiap suku/etnik yang terpencar di sepanjang kepulauan Indonesia memiliki budaya yang berbeda-beda dan masing-masing etnik memiliki keunikan masing-masing. Hanya saja, kebudayaan lokal bangsa kita sudah banyak terkontaminasi oleh kebudayaan asing yang menyebabkan bangsa kita hamper kehilangan identitas.

Banyak sekali unsur-unsur budaya lokal di berbagai etnik/suku bangsa kita yang mengalami degradasi hampir hilang ditelan zaman. Arus globalisasi dan moderenisasi merupakan ancaman besar bagi budaya lokal yang dimiliki oleh berbagai suku bangsa di tanah pertiwi ini. Tentu saja hal ini tidak boleh kita biarkan, kita semua tidak boleh menutup mata atas permasalahan itu. Ini adalah tanggung jawab kita semua, mulai dari golongan birokrat hingga rakyat sebab budaya lokal merupakan khazanah dan kekayaan yang bernilai tinggi bagi Indonesia tercinta ini.

Oleh sebab itu, dimanapun kita berada, siapapun kita, apa-pun suku bangsa kita, mari kita sama-sama menjaga dan melestarikan budaya lokal kita masing-masing. Sekali lagi, saya mengaja kita semua untuk peduli terhadap budaya lokal kita masing-masing supaya anak cucu kita tidak kehilangan identitas dan terkubur dalam budaya asing yang anemonya cukup bertentangan dengan nilai-nilai budaya bangsa kita.

Kali ini, penulis akan memberikan sedikit gambaran kepada kita semua tentang betapa berbahayanya arus globalisasi terhadap keberlangsungan kebudayaan lokal kita. Dalam pengamatan penulis, sudah banyak wujud, unsur, dan atraksi budaya lokal masyarakat Indonesia yang berada di ambang sekarat (kepunahan). Sebagai contoh, masyarakat Bali yang mulai bingung akan identitas mereka yang disebabkan oleh begitu banyaknya unsur budaya Bali yang terkontaminasi bahkan dipenetrasi oleh unsur budaya asing. Apa yang terjadi, kini Pemerintah Bali bingung untuk mengembalikan unsur budaya lokal-nya, “Gerakan Ajek Bali (gerakan kembali ke kebudayaan lama)” yang telah dilaksanakan sejak tahun 2005 namun hingga saat ini gerakan tersebut belum mendapatkan hasil yang maksimal.

Orang-orang Betawi juga mulai bingung dengan identitas budaya mereka, hal ini disebabkan oleh banyaknya unsur budaya asing yang berasimilasi dan berakulturasi dengan unsur budaya mereka. Kita, masyarakat Suku Sasak dan suku-suku lain yang ada di Indonesia juga mengalami hal yang serupa. “Kebudayaan Lokal Hampir Punah ditelan Masa”. Lalu haruskah itu semua kita tonton begitu saja, haruskah itu semua kita biarkan berlaku tanpa sedikit usaha untuk melawannya, haruskah kita semua membiarkan budaya lokal yang merupakan hasil karya, cipta, rasa, dan karsa nenek moyang kita harus mati begitu saja akibat ditindih unsur budaya asing (Budaya orang-orang Eropa, Amerika, Australia dan budaya orang asing lainnya).

Tentu saja, kita akan menjawab “TIDAK”. Kami yakin, kita semua akan berkata dengan lantang “JANGAN BIARKAN BUDAYA ASING MEMBUNUH BUDAYA LOKAL KITA…!!!”. Untuk itu, tiada henti kami mengajak kita semua untuk bersama-sama bangkit dan kembali mengembangkan nilai-nilai tradisional dan atraksi budaya asli nenek moyang kita. [] - 01

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru