"Bau Nyale" Memiliki Nilai Pilosofi Tinggi


Kabubaten lombok timur adalah salah satu wilayah d provensi nusa tenggara barat yang memiliki wilayah paling luas diantara kabupaten/kota lainnya.selain memiliki wilayah yang paling luas kabupaten lombok timur juga memiliki sumber daya alam yang melimpah ruah baik sumber daya alam bahari (kelautan/pariwisata) maupum sumber daya alam darat-nya (hutan,pertanian dan pertambangan).SDA bahari (pariwisata) misalnya adanya pantai-pantai dan gili-gili yang indah di wilayah selatan maupun di timur kabupaten lombok timur.

Lombok timur,Tepatnya di kecamatan jerowaru desa serewe dimana dapat kita temukan budaya Bau Nyale yang berlangsung sepanjang kawasan pantai kaliantan.budaya bau nyale telah berlangsung dari sekitar abad ke-16 hingga sampai sekarang dan telah menjadi sumber kebahagian masyarakat lombok timur karena budaya bau nyale ini memiliki nilai pilosifi yang sangat tinggi bagi kehidupan masyarakat warga lombok timur khususnya dan warga NTB pada umumnya.

Budaya bau nyale adalah sebuah peristiwa dan kejadian yang sangat melegenda khususnya bagi masyarakat lombok timur (warga lombok umumnya).bau artinya menangkap sementara nyale adalah (cacing) yang berkembang biak dengan bertelur dan hidup dalam lubang karang di dasar laut dan ini dikonsumsi oleh masyarakat sebagai lauk dan lain-lain.

kegiatan bau nyale tidak bisa dilepaskan dengan legenda putri mandalika.masyarakat lombok timur (warga lombok) mempercayai bau nyale itu memiliki hubungan dengan peristiwa/cerita putri mandalika yang hidup di pulau lombok.sampai kapan pun hal ini sudah menjadi kepercayaan masyarakat lombok pada umumnya.

Singkat cerita,Karena dulu hidup seorang putri cantik dari anak raja yang bernama putri mandalika (begitu masyarakat memenggilnya).banyak peria yang mencintai sampai meminang-nya untuk dijadikan istri.raja ini bingung untuk memilih dari sekian banyak peria yang ingin mengawini putri-nya (putri mandalika).untuk melakukan seleksi maka diadakanlah sayembara sehingga pertumpahan darah (saling membunuh) terjadi dari para peria tersebut.karena putri mandalika tidak ingin melihat pertumpahan darah terjadi dalam kehidupan rakyatnya maka dia memutuskan untuk kabur dan akhirnya dia membuang dirinya ke laut (demi rakyatnya). peristiwa inilah,masyarakat lombok sampai sekarang percaya bahwa nyale (cacing) itu adalah tetesan/jelmaan dari putri mandalika.

Sebentar lagi parade bau nyale ini akan berlangsung di pantai kaliantan desa serewe kabupaten lombok timur.biasanya parade bau nyale antara bulan feberuari dan maret dan pemerintah kabupaten lombok timur mengambil tanggal 20 feberuari untuk tahun ini (2014).dari penjuru lombok pasti akan berdatangan untuk menyaksikan maupun yang akan terlibat langsung dalam bau nyale di sepanjang pantai kaliantan.kita menyaksikan pantai kaliantan akan di banjiri oleh manusia dari berbagai penjuru lombok.

Disini saya ingin memandang dari sisi lain mengingat parade bau nyale sarat akan makna pilosifi dari peristiwa kesejarahannya (seperti di atas).setidaknya ada dua makna sebagai catatan kritis-nya yang dapat kita ambil dari peristiwa/legenda bau nyali ini yang tidak terlepas dari kisah putri mandalika itu sendiri.

Pertama,putri mandalika rela berkorban demi rakyatnya agar tidak terjadi pertumpahan darah,saling memusuhi dan lain-lain,artinya bahwa pemerintah atau seorang pemimpin dan pejabat publik (ekskutif dan legislatif) harus benar-benar mementingkan rakyat-nya daripada kepentingan individu maupun kepentingan golongan.segala sesuatu yang menyangkut hajat hidup orang banyak (rakyat) harus di utamakan tanpa kecuali demi kemjauan bangsa dan negara.dan pemimpin atau pejabat publik harus memiliki keteguhan hati,peduli dan memiliki sifar merakyat yang kemudian disertai dengan kebijakan-kebijakan pro terhadap kepentingan rakyat bukan kebijakan sepihak.

Kedua,bau nyale adalah pesta ekonomi (pasar gratis) bagi semua orang,artinya bahwa tidak boleh ada seorangpun yang berhak untuk memprivitisasi-nya.dan ini adalah salah satu karunia tuhan yang harus dinikmati oleh semua orang baik dia itu orang miskin/orang yang tidak punya uang (modal).sehingga bau nyale ini harus dijadikan refrensi bagi pemerintah untuk menata sitem prekonomian nasional agar semua sumber daya alam yang terdapat di bumi indonesia benar-benar dinikmati oleh semua rakyat bukan hanya dinikmati oleh segelintir orang yang notaben-nya orang pemodal dengan kata lain sama rasa sama rata (di siosialiskan saja).

 

 

 

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru