Budaya Menabung Dan Tradisi Maulid

Mulud (bahasa yang dipakai oleh kebanyakan masyarakat muslim sasak) atau maulid adalah sebuah tradisi yang sudah berlangsung lama sekitar abad ke 3/4 Hijriyah dari beberapa pendapat ulama. Tradisi ini berlangsung sampai saat ini secara luas diseluruh tanah air, bahkan setiap tanggal 12 Rabiul awwal dijadikan sebagai hari libur nasional untuk memperingati hari lahirnya Nabi tersebut.

Peringatan mulud khususnya di Lombok diperingati oleh umat Islam dengan beragam kegiatan mulai dari mengisinya dengan lomba-lomba yang berkaitan dengan kehidupan Rasululloh dan lainnya. Ada pula yang mengisinya dengan membaca sholawatan dan lain sebagainya.

Untuk di Desa Bajur Kecamatan Labuapi Kabupaten Lombok Barat tradisi mulud agak sedidkit berbeda dengan desa-desa lain. Disisni masyarakat Desa Bajur peringatan mulud dikaitkan dengan sillaturrahmi, sehingga masyarakatnya menyebutnya dengan Mulud silaturrahmi. Nama ini diambil karena pelaksanaannya dilaksanakan oleh perorangan kemudian mereka mengundang keluarga, sahabat mereka yang berada di luar desa Bajur. Mereka semua menyadari hanya pada saat muludlah mereka bisa saling bertemu.

Yang paling mereka impikan adalah bisa mengundang tuan gurunya untuk hadir kerumahnya. Para tuan guru yang diundang tidak mengadakan pengajian di masjid atau dimusahalla tapi beliau para tuan guru tersebut berkunjung kesetiap rumah yang mengundangnya. Seorang tuan guru diundang oleh minimal 30 orang. Contohnya TGH Mustiadi Abhar Pagutan diundang oleh 91 orang (Sumber: H. Musleh sopir tuan guru) maka beliau harus mendatangi mereka semua mulai dari malam pelaksaaan mulud sampai dengan hari H mulud tersebut.

Dalam pelaksanaan perayaan mulud tersebut tidak semua orang mampu melaksanakannya disebabkan minimnya dana yang mereka miliki. Banyak diantara mereka hanya menjadi pengancang saat para tamu tetangganya datang dengan harapan semoga tahun berikutnya dia mampu melaksanakan mulud Nabi SAW.

Namun masalah keuangan untuk melaksanakan mulud tampaknya kini sudah tidak lagi menjadi msalah disebabkan adanya budaya menabung yang dilakukan oleh warga masyarakat Bajur yang dikoordinir oleh salah seorang yang peduli terhadap desanya. Dia adalah Ustaz Badarudin.

Ustaz Badarudin mengajak masyarakatnya agar mau menabung untuk mulud, sehingga dia memberikan nama untuk tabungan tersebut dengan nama “Tabungan Mulud”. Menurut ustaz Badar Tabungan ini dimulai dari awal bulan Rabiul akhir 1434 H sampai dengan awal bulan Safar tahun 1435 H. Masyarakat menabung mulai dari Rp. 2.000-5.000 setiap harinya. 

Pak Badar berkeliling untuk mengambil tabungan dari warga mulai dari sehabis sholat asar sampai selesai. Pak Badar melakukan itu dengan sukarela, dia mengambil uang administrasi dari warga untuk pemula Rp. 20.000 untuk pembelian buku tabungan dan Rp. 5.000 untuk penggantian buku baru. Dan di akhir penabungan pak Badar mengambil uang administrasi Rp. 20.000.

Salah seorang nasabah Ustaz Badar  yang bernama ibu Saftunah mengatakan “Untung saja ada kegiatan seperti ini, sehingga kami sekeluarga dapat melaksanakan mulud tahun ini, Ustaz Badar juga membuka tabungan Puasa, dan saya juga ikut menabung”. Ungkapan yang sama juga diungkapkan oleh ibu Murni dan juga oleh ibu-ibu yang lain yang menjadi nasabah ustaz Badar.

Menurut Ustaz Badar untuk tahun ini memiliki nasabah 300 orang yang tersebar di lima dusun di wilayah Desa Bajur yaitu dusun Bajur Kalijaga, Bajur Induk, Bajur Girijati, Bajur Ampel dan Tempit. Dari jumleh tersebut terkumpul dana sekitar 600 juta.

Di Desa Bajur kini sudah banyak pengelola-pengelola tabungan selain ustaz Badar seperti tabungnan bapak Bahri.

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru