logoblog

Cari

Pesona Budaya II Desa Pengadangan "Adat Gama"

Pesona Budaya II Desa Pengadangan

Tulak Tipak Siq Skeq Skeq-Ang Siq Lueq,Lueq-Ang Siq Skeq Berajong Rembaq, Bebaris Indip     Budaya adalah identitas dan media pemersatu.

Budaya

Amrul Arahap,M.Pd
Oleh Amrul Arahap,M.Pd
30 Oktober, 2019 05:26:27
Budaya
Komentar: 0
Dibaca: 1547 Kali

Tulak Tipak Siq Skeq

Skeq-Ang Siq Lueq,Lueq-Ang Siq Skeq

Berajong Rembaq, Bebaris Indip

Budaya adalah identitas dan media pemersatu. Nilai dan norma yang terkandung di dalamnya merupakan sebuah dasar transedental yang sangat dibutuhkan oleh generasi muda untuk menghadapi arus peradaban yang semakin kompetitif dan ambigu. Nilai-nilai kebersamaan, gotong royong, sopan-santun dan tata krama akhir-akhir ini semakin terkikis oleh derasnya arus westernisasi. Dengan demikian, mengangkat kembali budaya dan tradisi lokal adalah salah satu langkah efektif untuk mentransfer nilai (transfer of values) entitas positif yang terdapat dalam anggunnya paras budaya.

Pengadangan adalah salah satu desa yang memiliki keanekaragaman budaya, tradisi dan adat istiadat. Karakteristik mendasar dari semua adat yang terdapat di desa ini adalah semua budaya atau tradisi yang ada merupakan representasi dari ajaran agama Islam. Masyarakat Desa Pengadangan menyebutnya dengan istilah “Adat Gama”.

Adat adalah aturan dan kesepakatan-kesepakatan yang lahir dari gagasan kebudayaan yang bersumber dari masyarakat. Dalam konteks waktu, pengertian ini hendaknya jangan ditafsirkan secara linier karena akan menimbulkan paradigma bahwa adat adalah ‘barang usang’ yang hanya identik dengan masa lalu. Penafsiran seperti inilah yang kemudian dapat mengabaikan perkakas tersirat yang terdapat dalam tubuh adat. Misalnya, nilai-nilai keraifan lokal, pandangan hidup, tata-krama, tata bertutur, yang kesemuanya ini dapat menjadi ‘dayung’ dan ‘sampan’ bagi generasi muda untuk mengarungi lautan peradaban yang semakin hari semakin bias dan bergelombang.

LATAR BELAKANG LAHIRNYA ADAT GAMA

Ketika bangunan masjid telah selesai, Sri Ketip Menganti dan Sri Ketip Menggala mulai mengajarkan kembali Agama Islam secara perlahan. Metode pengajaran yang digunakan bersifat induktif, dari dalam ke luar. Uforia menyambut kedatangan Islam sepertinya berlangsung singkat. Seiring berjalannya waktu semangat masyarakat untuk belajar mulai menurun (surut mara).

Masyarakat lebih tertarik pada upacara-upacara yang bersifat seremoni. Ketertarikan inilah yang mengaburkan perhatian masyarakat pada pentingnya ilmu agama. Dalam keadaan seperti inilah tercetus gagasan dari Sri Ketip Menganti dan Menggala untuk menggabungkan ajaran agama dengan upacara-upacara seremoni tersebut (upacara adat). Berdasrkan hasil perenungan, akhirnya dikawiknanlah adat tanpa menghilangkan esensi atau inti sari dari ajaran agama. Pengawinan ini bertujuan untuk merangsang kembali ketertarikan masyarakat mempelajari ilmu agama.

Ajaran-ajaran Islam dikemas dalam bentuk kebiasaan-kebiasaan atau perilaku berbudaya masyarakat. Misalnya, peringtan hari kelahiran nabi, upacara perkawinan, melahirkan, kematian dan berbagai upacara adat lain merupakan simbol atau representasi dari ajaran Islam. Perpaduan antara ajaran agama dan adat sepertinya menjadi cara yang efektif. Masyarakat mulai terangsang dan bisa memahami ajaran Islam dengan cara yang lebih mudah dan sederhana.

Pembukaan Pesona Budaya II Desa Pengadangan akan dilakukan tanggal 30 Oktober 2019 dengan deskripsi acara sebagai berikut.

Prosesi Penyambutan Tamu

Prosesi ini dilakukan oleh seluruh pemuda Desa Pengadangan dan dibimbing oleh tokoh agama dan tokoh adat. Proses penyambutan tamu ini diiringi oleh alat musik tradisional “Doe Pengadangan” yakni, Slober, Cungklik, Ceroncong, Kecimol , Gamelan Bleq, Rantok, dan Bebunteran.

Pentas Kesenian Tradisional

Pentas kesenian ini akan menampilkan kesenian-kesenian lokal yang masih terdapat di Desa Pengadangan. Misalnya, Gamelan Bleq Sanggar Nini Bini, Cunglik Sadang Regi, Kecimol, Slober, Ceroncong, Rantok

Gema 3000 Shalawatan

Shalawatan ini diisi oleh, Siswa MA Yastaqiem, MTs, SDN, TK, PAUD se-Desa Pengadangan. Gema 3000 salawatan ini dilakukan kira-kira 20 menit sebelum salat asyar.

Pembukaan Presean Dan Bazar Tradisional (Prabot Preaq)

Masyarakat Desa Pengadangan mengartikan Presean sebagai lambang terhadap perlawanan hawa nafsu dan merupakan salah satu kegiatan yang harus dilakukan untuk mengawali rangkaian acara Mulud Bleq.

SENI BEBUNTERAN DAN SANDO

Bebunteran adalah tradisi masyarakat yang biasa dilakukan pascapanen, dengan perelatan Geneng, dana Alung . Bebunteran dilakukan untuk mengolah hasil panen menjadi beras. Sando merupakan cara merayu gadis yang dilakukan oleh orang tua terdahulu dengan cara berbalas pantun.

BETETULAK

 

Baca Juga :


Betetulak berasal dari kata tulak yang berarti kembali, merupakan tradisi/adat istiadat masyarakat Desa Pengadangan yang biasanya dilakukan pasca datangnya wabah penyakit atau bencana alam. Sesuai dengan asal katanya yakni, ‘Tulak’ bahwa tujuan utama ritual ini adalah untuk memohon supaya segala jenis musibah dan penyakit agar kembali kepada yang menciptakan dan mengendalikannya, yakni ALLAH SWT (Tulak Tipak Siq Skeq). Upacara ini melibatkan peran serta dari seluruh masyarakat. Dalam upacara ini tiap laki-laki dari masing-masing keluarga berkumpul dalam satu tempat untuk melakukan upacara Betetulaq, sementara para perempuan dari masing-masing keluarga memasak atau membawa Dulang sebagai santapan setelah selesai ritual.

SUSUNAN RITUAL BETETLUAK

Memanuang (KIRAB 3000 DULANG)

Ritual Betetulaq dimulai dengan “memanuang” dimana para wanita membawa dulang dari empat arah pejuru mata angin dan bertemu di tengah-tengah perempatan. Kirab 3000 Dulang ini merupakan representasi dari persatuan yang bergerak selaras demi tercapainya keindahan, kedamaian dan kesejahteraan (Berajong Rembaq, Berbaris Indip). Selain itu, Kirab 3000 Dulang yang datang dari empat penjuru merupakan manifestasi dari arah datangya rizki yang bersumber dari Allah SWT.

Perempatan adalah titik pertemuan dari empat penjuru. Dalam konteks ritual Betetulak perempatan disimbolkan sebagai tempat bertemunya matahari sebagai sumber panas yang terbit dari timur, belabur yang datang dari utara, kemudian angin datang dari barat (angin barat) dan air laut yang datang dari selatan (perhatikan letak/posisi Desa Pengadangan yang lautan terdekat terletak di selatan). Di mana keempat unsur itu, Panas, Belabur, Angin dan air laut adalah unsur-unsur yang bisa menyebabkan terjadinya berbagai musibah baik bencana alam ataupun wabah penyakit.Pertemuan Tokoh Adat Dan Tokoh Agama

Pertemuan antara tokoh agama dan tokoh adat adalah simbol dari penyatuan antara adat dan agama yang terbingkai dalam satu kata yakni Adat Gama. Setelah pertemuan ini, ketika Begibung simbol ini kemudian diterjemahkan dalam posisi tokoh adat dan tokoh agama yang duduk dan makan bersama dalam satu Dulang Atas. Seperti Adat dan Agama yang menyatu dalam garis dan tujuan yang sama menuju Ridha Allah SWT.

Do’a Bersama

Do’a bersama dilakukan setelah semua Dulang kumpul di perempatan desa. Doa’a dipimpin oleh Kyai dan Penghulu Desa Kyai melantunkan do’a tolak bala yang mengikuti tata cara orang tua dahulu. Prosesi Do’a ini melibatkan seluruh masyarakat dan tamu undangan yang hadir.

Zikir

Zikir yang akan dilakukan dalam Pesona Budaya Pengadangan adalah Zikir halus/jiwa. Zikir ini merupakan salah satu jenis zikir yang ada di Desa Pengadangan dilakukan oleh santri Kebon Doe (tempat menuntut ilmu di Desa Pengadangan).

Begibung

Dalam tradisi Begibung satu Dulang disantap oleh 4 orang. Dulang yang disantap berisi makanan-makanan khas yang biasa disajikan ketika prosesi Betetulaq, misalnya, sambel raden, sayuran, ikan dll. Konsep Begibung ini mengandung nilai kesataraan. Duduk bersama, makan bersama tanpa mengenal tingkatan/strata sosial. Menurunkan yang merasa tinggi, menaikkan yang merasa rendah dan mempertemukan mereka di tengah-tengah (kesetaraan).

BEBERAPA PERLENGKAPAN ADAT GAMA

DULANG

Masyarakat Desa Pengadangan mengartikan Dulang sebagai singkatan dari kata Dua Langan atau dua jalan. Dua jalan yang dimaksud adalah syahadat Tauhid dan Syahadat Rasul. Kemudian dalam Islam jalan menuju Ridho Allah SWT adalah dengan berpegang teguh pada dua hal, yakni Al-Qur’an Dan Hadist.

DUPA, CECERET DAN PENGINANG

Masyarakat Desa Pengadangan khusunya para orang tua terdahulu, menjadikan Dupa sebagai sarana untuk mengharumkan ruangan. Dalam konteks yang berbeda Dupa diterjemahkan sebagai manifestasi dari harmonisnya hubungan antara unsur-unsur yang ada di bumi, yakni, tanah, api dan angin. Sementara itu, unsur lainnya yakni, Air ada di ceceret. Selanjutnya, Penginang, merupakakan wadah yang memiliki tiga isi inti, yakni lekoq (daun sirih),Buaq (pinang), dan apur. Lekoq berwarna hijau, kemudian Buaq berwarna kuning, dan apur berwarana putih dan setelah tiga-tiganya dikunyah (mamaq) akan menghasilkan warna merah.Di mana tiap-tiap warna ini menurut orang tua terdahulu yang hidup di Desa Pengadangan memiliki arti dan makna masing-masing.

 

 



 
Amrul Arahap,M.Pd

Amrul Arahap,M.Pd

Lahir di Pengadanagan Kec.Pringgasela LOTIM. Aktif di Lembaga Pelsetarian Adat dan Pemberdayaan Masyarakat Desa Pengadangan.

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan