logoblog

Cari

Menjaga Kemajemukan Tambora

Menjaga Kemajemukan Tambora

Tambora yang dulu, beda dengan sekarang. Di masa yang akan datang, tentu akan berbeda lagi. Tambora pada masa lalu adalah sebuah

Budaya

alan malingi
Oleh alan malingi
27 Oktober, 2019 12:36:56
Budaya
Komentar: 0
Dibaca: 1054 Kali

Tambora yang dulu, beda dengan sekarang. Di masa yang akan datang, tentu akan berbeda lagi. Tambora pada masa lalu adalah sebuah kerajaan yang terletak di sisi barat Sang Ancala yang dulu bernama Aram-Aram dan Kengkelu. Di tanah ini tertimbun peradaban akibat letusan dahsyat tahun 1815. Meskipun peradaban itu kini mulai terkuak, namun belum dapat menguak semua aspek peradaban yang tertimbun dua ratus tahun silam. Ada situs di Sori Sumba yang menguak sisa peradaban berupa artefak, rumah yang terbakar, keris, keramik, bajak, batu obat,kerangka manusia, bahkan padi yang terbakar. Ada pula situs Doro Bente di kawasan Doro Ncanga yang telah digali para arkeolog pada tahun 2015 berdasarkan peta 1794 yang ditemukan seorang Jurnalis Belanda Philip Dorge.

Paska letusan, Tambora adalah tanah tak bertuan. Helius Syamsuddin menyebut dengan “ The Blessing In disquis “ atau rahmat Tuhan yang tersembunyi. Tambora berangsur-angsur dihuni oleh orang-orang baru dari Bima, Dompu, Sumbawa, Sulawesi, Bali, Lombok, Jawa, Manggarai dan berbagai etnis lainnya. Tambora menjadi heterogen dengan berbagai arus manusia, bahasa, agama, dan budaya yang berpadu dalam keindahan tanah ini. Letusan daysyat itu pun telah menciptakan surga dunia dalam bidang pariwsata. Tambora masuk dalam wilayah Dompu dan Bima. Sebagian barat dan sisi utara masuk dalam wilayah kecamatan Tambora Kabupaten Bima. Sisi selatan dan sebagian barat masuk dalam wilayah kecamatan Pekat Dompu.

Ada tiga etnis yang dominan di Tambora, baik yang berada di wilayah kecamatan Tambora Bima maupun Pekat Dompu. Tiga etnis itu adalah Mbojo, Bali dan Sasak. Etnis Mbojo memang sudah lama mendiami Tambora karena kegiatan bertani dan berladang. Namun menurut Bapak H. Abdul Munir di desa Calabai, migrasi orang Bima paling banyak adalah pada periode akkhir penjajahan Belanda, Jepang hingga era tahun 70an. Orang-orang Bima kebanyakan bertani dan berladan serta nelayan dan tukang. Ada juga yang menjadi guru dan TNI Polri yang mengabdi dan menetap di Tambora. “ Ada juga yang kesini sebagai tempat pelarian karena tidak mampu bayar pajak, patah hati dengan pacar, DPO Polisi, pokoknya mereka meninggalkan masalah di kampung dan memulai kehidupan baru di sini. “ Tutur H. Abdul Munir, mantan KCD Dikbud Pekat dan Kepala Sekolah di beberapa SDN di wilayah Pekat.

Pada era tahun 1953 hingga 1965, pasukan gerilya dari kelompok Kahar Muzakar di Sulwesi Selatan pun hijrah ke Tambora. Mereka awalnya berlabuh di Pekat. Ketika hendak menuju Pulau Moyo, suasana sudah gelap dan akhirnya mereka berlabuh di Calabai. Nama Calabai pun diberi nama oleh anggota gerilya Kahar muzakar ini. Calabai dalam bahasa Bugis berarti banci atau waria. “ Karena mereka tanggung untuk ke pulau Moyo, mereka menetap di Calabai yang berarti di antara dua keinginan yaitu kembali ke pekat dan ke pulau Moyo. “ Kisah H. Abdul Munir.
Arus transmigran dari Bali dan Lombok mulai berdatangan pada era tahun 80 an. Mereka menghuni desa-desa di wilayah Kempo dan Pekat Dompu dan di kecamatan Sanggar dan Tambora Kabupaten Bima. Para transmigran ini semakin lama semakin banyak. Kehadiran warga Lombok dengan bahasa dan budayanya, semakin menambah kemajemukan Tambora, demikian pula warga Bali dengan agama, bahasa dan budayanya. Mereka berbaur menghirup udara Tambora, dan mencicipi hasil alam tanah ini.

Kemajemukan Tambora harus terus dipupuk dan dipelihara dalam bingkai kebersamaan, saling asah, asih dan asuh. Keberagaman adalah sebuah rahmat. Dalam kerangka itu, sikap tenggang rasa, saling menghormati perbedaan, mengharagai satu sama lain mutlak diperlukan untuk menjaga heterogenitas Tambora. Jika hal itu tidak dapat dijaga, maka akan menjadi “ bom waktu “ yang sewaktu waktu akan meledak dan menjadi bencana. Menurut saya, ada dua hal yang akan menjadi bibit bencana besar di Tambora yaitu konflik etnis dan dampak buruk dari perladangan liar. Jika dua hal itu tidak dapa dijaga, maka bencana akan datang dan lebih dahyat daripada letusan Tambora 1815. Mari Menjaga Kemajemukan Tambora......!

 

Baca Juga :


Sumber Foto Fahru Rizki

Foto 1 : Acara Nyongkolan warga Lombok Di Tambora
Foto 2 : Anak anak transmigran.



 
alan malingi

alan malingi

blogger dan penulis asal Bima-NTB. Kontak : 08123734986-0811390858. Kunjungi juga www.bimasumbawa.com dan www.alanmalingi.wordpress.com.Facebook, WA, Twitter dan Instagram Alan Malingi.

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan