logoblog

Cari

Tradisi Mandi Ayu Di Kali Bening

Tradisi Mandi Ayu Di Kali Bening

KM. Sukamulia - Selain kaya akan Sumber Daya Alam dan alam yang indah mempesona dan dikagumi dunia, masyarakat Sasak Lombok juga

Budaya

KM. Sukamulia
Oleh KM. Sukamulia
07 September, 2019 20:08:08
Budaya
Komentar: 0
Dibaca: 2482 Kali

KM. Sukamulia - Selain kaya akan Sumber Daya Alam dan alam yang indah mempesona dan dikagumi dunia, masyarakat Sasak Lombok juga kaya akan tradisi dan budaya lokal yang tidak ditemukan pada suku lainnya. Kali ini saya menyaksikan satu tradisi yang selama ini belum pernah saya saksikan di tempat lainnya. Tradisi yang satu ini disebut Tradisi Mandi Ayu.

Pelaksanaan ritusal Mandi Ayu ini saya temukan di Dusun Kali Bening Desa Mamben Daya Kecamatan Wanasaba Kabupaten Lombok Timur pada saat penjemputan calon mempelai perempuan sahabat karib saya (Mustawa Abaddin) yang selama ini mengajak saya berkarya musik melalui A4 Band.

Ketika sampai di rumah calon mempelai perempuan (Nurul Hifzan), rombongan penjemput disambut dengan sebaik mungkin. Setelah itu kedua calo mempelai dimandikan oleh seorang belian (tokoh perempuan sasak yang daituakan disuatu kampung) dengan didampingi oleh ibu-ibu yang berasal dari kalangan keluarga calon mempelai wanita.

Saya heran dan penasaran menyaksikan prosesi tuersebut. Bagaimana tidak, saya sudah sering ikut menjemput calon mempelai perempuan ke beberapa wilayah Lombok, namun baru kali ini saya menemukan tradisi seperti itu yang dimana kedua calo mempelai harus dimandikan dulu sebelum calon mempelai perempuan dibawa ke rumah calon mempelsi laki-laki. Biasanya, kedua calon mempelsi dimandikan ketika mereka akan melangsungkan prosesi pernikahan (pada hari pernikahan) yang secara umum masyarakat sasak menyebutnya dengan istilah Mandi Peraja.

Atas rasa penasaran, sayapun menyaksikan prosesi mandi calon mempelai itu yang oleh masyarakat setempat disebut Mandi Ayu Penganten. Usai mengikuti prosesi itu, sayapun mencari informasi kepada masyarakat setempat dan orang yang terlibat langsung dalam prosesi itu.

Berdasarkan keterangan masyarakat setempat, Prosesi Mandi Ayu merupakan tradisi yang mereka warisi dari nenek moyang mereka dan dilestarikan serta dilaksanakan hingga kini. Tradisi tersebut hanya dilaksanskan oleh masyarakat Mamben, khususnya yang ada di Desa Mamben Daya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Tradisi Mandi Ayu adalah tradisi masyarakat Sasak dalam rangkaian prosesi perkawinan yang berupa ritual memandikan calon pengantin yang dilaksanakan saat keluarga calon mempelsi laki-laki akan mengambil (menjemput) calon mempelai perempuan di Desa Mamben Daya.

Tradisi Mandi Ayu dilaksanakan di rumah mempelai perempuan dengan tujuan-tujuan tertentu. Secara umum, Mandi Ayu dilaksanakan dengan tujuan; 1) untuk membersihkan kedua calon mempelai dari segala mara bahaya selama perjalanan menuju rumah calon mempelai laki-laki hingga selesainya prosesi pernikahan mereka, 2) untuk mengeluarkan aura atau cahaya jiwa dan raga kedua mempelai agar mereka selalu terlihat ceria dan berwibawa selama prosesi pernikahan hingga mereka berkeluarga, 3) untuk membersihkan kedua calon mempelai dari fitnah dan sejenisnya, dan 4) supaya kedua calon mempelai langgeng hingga ajal menjemput salah satu diantara mereka.

Menyimak hal itu, tentunya kita dapat mengetahui betapa luar biasa dan sungguh luhur nilai yang terkandung pada pelaksanaan prosesi Tradi Mandi Ayu.

Prosesi Mandi Ayu tidak jauh beda dengan prosesi Berodak pada masyarakat Sumbawa dan atau prosesi Mandi Peraja (Mandi Penganten) pada masyarakat Lombok secara umum.

Pada prosesi Mandi Ayu kedua calon mempelai terlebih dahulu diberikan kain tembasak, yakni kain yang digunakan untuk menutup badan selama prosesi mandi. Setelah itu, kedua calon mempelai dijampi (dibacakan doa) oleh si belian. Usai dibacakan doa, si belian membubuhkan aiq mel-mel (air yang sudah dicampur dengan ramuan kunyit dan bahan-bahan lainnya). Calon mempelai laki-laki dibubuhi (dituangin) air secara bergantian. Masing-masing dibubuhi 7 kali dengan bubuhan pertama hingga ketiga pada kepal, bubuhan keempat pada pundak kanan, bubuhan kelima pada pundak kiri dan bubuhan keenam serta ketukuh pada bagian kaki. Prosesi ini mengandung makna bahwa kedua calon mempelai dibersihkan dari mara bahaya dan segala hal yang tidak baik (aib).

Setelah itu kedua calon mempelai diberikan waktu untuk menggosok badan mereka masing-masing. Usai menggosok badannya, kedua mempelai dimandikan lagi, oleh keluarga calon mempelai perempuan, mulai dari ibunya dan diikuti oleh keluarga perempuan lainnya. Bagian ini mengandung makna bahwa keluarga calon mempelai perempuan memberikan restu dan ikhlas melepas calon mempelai perempuan untuk dipersunting dan melaksanakan prosesi pernikahan untuk membina bahtera keluarga bersama calon suaminya.

 

Baca Juga :


Usai dimandikan oleh keluarga calon mempelai perempuan, sang belian kembali mengambil alih. Belian mengambil aiq kembang rampe yang disiapkan menggunakan wadah dari mangkuk berukuran besar yang terbuat dari bahan logam kuningan (bokor: bahasa Sasak).

Aiq Kembang Rampe adalah air yang dicampur dengan aneka ragam bunga rampai yang bubuhi minyak wangi dan pada bagian atas diberikan setangkai mayang (bunga pohon pinang).

Sang belian memercikkan air bunga rampai itu menggunakan mayang. Masing-masing calon mempelai dipercikin sebanyak 5 kali secara bergiliran. Prosesi Mandi Ayu, diahiri dengan sesembeaan (menyembek). Kedua mempelai disembek oleh belian menggunakan racikan kapursirih (beburak: bahasa Sasak) yang sudah disiapkan.

Beburak disembekkan pada kedua mempelai secara bergiliran. Sembek itu diusapin sebanyak 5 kali pada masing-masing calon mempelai. Usapan pertama pada bagian kening, selanjutnya pada bagian pundak kiri dan kanan, dada, semua ujung jemari tangan dan ujung semua jemari kaki.

Sesembeean pada prosesi Mandi Ayu mengandung makna bahwa kedua calon mempelai mendapatkan restu untuk melangsungkan pernikahan oleh segenap warga setempat yang diwakili oleh belian. Tujuannya adalah untuk mengeluarkan aura jiwa raga dan pesona kedua calon mempelai agar mereka selalu terlihat ceria dan berwibawa selama prosesi pernikahan hingga mereka mengarungi berkeluarga.

Demikianlah segelumit informasi yang dapat kami sampaikan pada artikel kali ini. Semoga artikel ini dapat menjadi tambahan informasi bagi kita sekalian, khususnya mengenai salah satu tradisi masyarakat suku Sasak yang ada di wilayah Desa Mamben Daya Kecamatan Wanasaba.

Tujuan kami menyampaikan informasi yang mengenai Tradisi Mandi Ayu yang kami temukan di Dusun Kali Bening adalah supaya kita mengetahui tradisi masyarakat setempat dalam aspek perkawinan. Yaa siapa tahu nanti ada diantara pembaca yang berjodoh dengan gadis dari Dusun Kali Bening Desa Mamben Daya dan sekitarnya jadi siap-siaplah untuk mengikuti prosesi Mandi Ayu sebab masyarakat setempat memiliki tradisi yang di daerah Lombok lainnya tidak kita temukan. Pada prosesi perkawinan masyarakat setempat, secara umum digunakan sistim pinang yang dimana calon mempelai perempuan diminta baik-baik kepada keluarganya dan pihak calon mempelai laki-laki menjemput calon mempelai perempuan, nah pada saat penjemputan itulah kedua calon mempelai diharuskan mengikuti Mandi Ayu.

Semoga bermanfaat. Terimakasih atas kunjungannya. Mohon maaf kalau ada kekeliruan. Dan Salam dari Kampung.
_By. Asri The Gila_



 
KM. Sukamulia

KM. Sukamulia

Nama : Asri, S. Pd TTL : Sukamulia, 02 Januari 1985 Jenis Kelamin: Laki-laki Agama : Islam Pekerjaan : Swasta Alamat, Dusun Sukamulia Desa Pohgading Timur Kec. Pringgabaya No HP : 082340048776 Aku Menulis Sebagai Bukti Bahwa Aku Pernah Ada di Dunia

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan