logoblog

Cari

Ritual Sasak Tradisi Kelahiran Kembar Beda Kelamin

Ritual Sasak Tradisi Kelahiran Kembar Beda Kelamin

Lombok Tengah-Tradisi masyarakat  desa Sukarara Kecamatan Jonggat Lombok Tengah dalam merayakan kelahiran anak kembar yang berbeda jenis kelamin terbilang aneh dan

Budaya

Nanang Abdul Hamid
Oleh Nanang Abdul Hamid
31 Agustus, 2019 17:24:30
Budaya
Komentar: 0
Dibaca: 2091 Kali

Lombok Tengah-Tradisi masyarakat  desa Sukarara Kecamatan Jonggat Lombok Tengah dalam merayakan kelahiran anak kembar yang berbeda jenis kelamin terbilang aneh dan sangat langka. Dari hasil pantuan media, pada hari sabtu,31 Agustus 2019 di Desa Sukarara Kecamatan Jonggat Kabupaten Lombok Tengah tengah berlangsung upacara BELABUH. Seperti yang disampaikan tokoh masyarakat setempat amaq Lojek bahwa upacara BELABUH ini merupakan tradisi masyarakat desa sukarara didalam merayakan kelahiran anak yang kembar namun berbeda jenis kelamin yaitu  ada yang berkelamin laki dan ada yang berkelamin perempuan. 
Anak kembar dari pasangan suami istri atas nama Andi Kuswara dan Nurlaili asal dusun bunmudrak desa sukarara yang baru berusia 2 bulan. Menurut  Amaq Lojek selaku penggagas acara  ini mengungkapkan bahwa kejadian anak yang lahir kembar dan berbeda jenis kelamin ini sangat langka dan jarang terjadi. Lebih jauh Amaq Lojek bercerita bahwa anak lahir kembar berjenis kelamin sama itu sering terjadi tetapi yang berbeda jenis kelamin berbeda jarang terjadi dan sangat langka. Dan menurut adat setempat, kelahiranya itu perlu diadakan upacara yang dinamakan BELABUH. Anak kembar bersudara ini, menurut adat  dan kepercayaan masyarakat setempat mereka boleh menikah dengan syarat  mulai kecil sudah dipisahkan sampai mereka dewasa.
Kegiatan prosesi BELABUH ini diawali dengan dibuatkan rumah – rumahan yang terbuat dari pelepah daun pisang bagi kedua anak tersebut. Kemudian kedua anak tersebut disembunyikan dan ditidurkan didalam rumahan tersebut. Beberapa saat kemudian ditabuhkan gamelan music adat dan diikuti tari – tarian serta beberapa masyarakat dan wanita cantik dengan mengenakan pakaian khas sasak berupa pakaian Lambung turut dalam prosesi acara tersebut.
Prosesi yang langka tersebut menyedot perhatian masyarakat untuk datang menyaksikan, sehingga  jalannya prosesi pun sempat terganggu karena ramainya masyarakat yang menyaksikan. Tapi sayang, kegiatan yang langka tersebut luput dari perhatian pemerintah daerah khususnya pihak pemerintah desa sukarara.(N3G)

 

Baca Juga :




 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan