logoblog

Cari

FGD Penguatan Kondisi Sosial Budaya Pasca Gempa Lombok

FGD Penguatan Kondisi Sosial Budaya Pasca Gempa Lombok

Universitas Pertahanan bekerjasama dengan Badan nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melakukan penelitian di Masyarakat Adat Bayan melalui Focus Discusson Grouf (FBD) di

Budaya

SAB & MAPAN
Oleh SAB & MAPAN
27 Agustus, 2019 13:26:48
Budaya
Komentar: 0
Dibaca: 1904 Kali

Universitas Pertahanan bekerjasama dengan Badan nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melakukan penelitian di Masyarakat Adat Bayan melalui Focus Discusson Grouf (FBD) di Sebaya Tanta Karang Bajo, tanggal 27 Agustus 2019.

FGD yang dilaksanakan dengan mengahdirkan beberapa pejabat pemerintah dari unsure BPBD NTB, BPBD Lombok Utara, Tenaga Ahli Pendamping Sosial BNPB-Unram, Kepala Desa Karang Bajo, dan Tokoh Masyarakat Adat Bayan.

Dalam diskusi terdapat beberapa penyampaian oleh peserta, terkait dengan kondisi Masyarakat Bayan pasca gempa ditahun 2018 lalu dengan kekuatan gempa 6,4 SR dan 7,0 SR. Beberapa yang disampaiakan antara lain, bagaimana cara masyarakat saat terjadi gempa, kondisi rumah yang diakibatkan oleh gempa, arsitektur yang tahan dan tidak terhadap gempa, apakah ada pilihan korban gempa untuk membangun dengan arsitektur local, bagaimana regulasi terkait dengan rehab dan rekon, bahkan tentang kondisi ekonomi pasca gempa yang sangat berpengarus terhadap peran masyarakat dalam rehab rekon tersebut.

Pak Rianom, selaku Ketua Lembaga Prnata Adat Gubuk Karang Bajo – Bayan menyampaikan “ada beberapa tanda sebelum terjadi gempa,  mulai dari angkat lohor dimana dijadikan sebagai obat,  wangsit,  yang dilaksabakan pada hari jumat sebelumnya.  Proses ritual itu dilakukan dengan mendatangkan kyai adat dan tokoh adat.  Pada proses itu ada tanda pada saat pemotongam kerbau.  Salah satu tokoh pernah menyampaikan mungkin terjadi gempa.  Ada pohon asam di masjid kuno,  tanpa ada angin koq bisa tumbang. Lalu pada tgl 29 juli setelah ritual lohor terjadi gempa dengan kekuatan 6,5 SR,  dan terdampak di Bayan dan Lotim.  Kemudian secara umum masyarakat Bayan menjadi fokus warga di 4 kecamatan lainnya di KLU yaitu dari Kecamatan Kayangan, Gangga, Tanjung dan Pemenang,  tetapi tgl 5 agustus 2018 secara keseluruhan KLU terdampak dengan  gempa 7 SR. 

Terkait dengan pendidikan,  kami sudah banyak mengikuti bagaimana kearifan lokal bisa sebagai pendidikan.  Kami pada tahun 2017 di Palu pertemuan seluruh raja dan pemimpin adat,  sepakat membahas kearifan lokal dalam pendidikan, dan bertepatan dengan waktu itu terjadi gempa dan tsunami, lanjut Pak Rianom selaku tokoh yang juga pernah menjadi guru olah raga.

Setelah tanggal 5 agustus 2019,  tidak ada  orang tua yg mengijinkan anaknya pergi kesekolah,  karena pada masa itu gempa masih terjadi terus menerus dan juga banyaknya fasilitas pendidikan seperti gedung sekolah yang roboh akibat gempa. Sekolah dimasa itu belajar diluar,  tidak menggunakan kelas.

Dilembaga adat ada pendidikan yang dilakukan adalah belajar membaca huruf jejawan atau  lontar,  dimana pada masa lampau dulu menggunakan konunikasi dengan bahasa tersebut. Jawa dan Bali terdapat 20,  sedangkan di Bayan hanya 18 abzat.  Pendidikan Seni dan Budaya tetap dijalankan oleh Masyarakat Adat.  Lembaga Adat ini juga mengusulkan kepada pemerintah pusat untuk diberikan balai latihan yang saat ini paket Bangunan Sebaya Tanta.  Bangunan ini sekaligus sebagai bentuk sosialisasi bangunan Risha. Bahannya dengan menggunakan kayu dan bambu laminasi serta bahan material lokal yang tidak digunakan seperti limbah batu apung sebagai panel bangunan.

Pemuda juga kita siapkan,  ada kelompok ibu-ibu yang menenun dll.  Lalu terjadinya juga pembrangusan rumah-rumah adat,  terdapat rumah adat yang tidak masuk sebagai pilihan huntap.  Adakah sebuah cara nanti sehingga bisa menjadi pilihan huntap? Tandas Pak Rianom yang saat ini juga bekerja di Kantor Camat Bayan. 

Terkait trouma heeling,  kami melalui sanggar seni selemor ate menghibur warga masyarakat,  ibu-ibu dan anak-anak  dengan bernyanyi dan bermain,  bahkan permainan tradisional ini juga memberikan trouma heeling yang cukup efektif, seperti yang dilakukan oleh Warga kita di Semokan dengan kegiatam olah raga permainan gasing.

Berugaq menjadi salah satu pilihan tempat tinggal sementara bagi warga masyarakat Bayan, dimana berugaq merupakan salah satu arsitektur local Masyarakat Bayan yang tidak roboh meskipun sudah digoyang 2 kali gempa. Sementara bangunan yang diberikan PUPR yang beberapa sudah selesai, tetapi masih bayak yang belum tuntas.

Terkait dengan ritual Masyarakat Adat,  rangkaian ritual yg digagas oleh pemangku adat. Contoh di jawa barat ada acara serentaun,  dan ditpat2 lain. Saat ini kita coba perjuangkan melalui pemerintah,  baik dana desa bisa membantu dalam hal tersebut,  sehingga masyarakat adat tidak hanya menjadi obyek,  tetapi bisa langsung sebagai subyek. Dimana lombok utara memiliki PAD terbesar melalui pariwisata.

Pembekel Karang Bajo, menyampaikan terkait dengan Peraturan pemerintah dengan pengembangan pariwisata yang tidak seauai dengan aturan adat,  contohnya pendakian rinjani.  Dimana pasca masa lampau harus ijin kepada pejabat adat.  Wisata alam air terjun yang terletak dihutan adat. Dengan terjadinya bencana gempa kemarin,  secara hukum adat itu seharusnya dibaut ritual asuh,  tetapi dimana kita mendapatkan dana untuk asuh tersebut. Harapan kedepan,  kami sudah mencoba untuk menypaikan keluhan,  tetapj sampai saat ini belum diserpon,  semoga dengan kehadiran bapak bisa membantu kami untuk mentampaikan kepada pihak pemerintah. Tandas dan juga harapan Nikrana selaku Pembekel Karang Bajo

 

Baca Juga :


Dari BPBD yang hadir yaitu Pak Iramalip menyampaikan Kajian tentang pembangunan di KLU boleh dibilang belum memulai secara menyeluruh,  yang sudah ada hanya kajian PLTMH.  Kedepannya,  akan diusahakan untuk kajian kebencanaan.  Tenaga ahli di BPBD hanya ada satu orang yaitu Pak Agus yang saat ini sedang kuliah di australi.

Di Kecamatan Kayangan sudah ada pemetaan wilayah dimana boleh membangun rumah berdasarkan keinginan masing2 dan dimana harus berdasarkan ketentuan adat.  Mungkin dengan bersamaan, kedepan bisa kita susun bersama sesuai dengan kearifan local yang ada. Ungkap Irmalip yang juga sebagai Masyarakat Adat Bayan.

Pada penyampaian selanjutnya, Pak Rianom mengungkapkan ketahanan pangan dalam lingkungan perempuan adalah tanggungjawab perempuan,  sehingga kami mulai melalui perpustakaan perempuan.  Kita sangat tabu,  kalo perempuan itu hnaya menadahkan tangan,  sehingga sekarang bagaimana mereka mengimbangi kebutuhan keluarga.

Terkait dengan arsitektur tradisional,  sudah pernah dari UI meneliti,  tetapi belum mendapat pengakuan secara tertulis.  Pranata adat kita sudah memiliki peta pembangunan,  hari,  tanggal,  sudah ada semua.  Nilai lokal lengkap dengan perangkatnya semua.

Kedepan,  melalui pendidikan terkait arsitektur lokal bisa menjadi sebuah kekuatan arsitektur tradisional.  Kami juga berterimakasih kepada Pak Iramalip sudah banyak berbuat untuk masyarakat kita.  Kami banyak membangun komunikasi dengan temen2 Yogyakarta dan lainnya.  Kemarin dari Kemendikbud sudah bekerjasama dengan kita bagaimana membangun sanggar seni, ini kelihatannnya kita baru dilirik.

Seniman dan budayawan tanpa peran pemerintah,  maka kami tidak bisa berbuat apa-apa.  Semua bentuk bangunan adat karena memiliki nilai sosial sama,  salah satunya dengan bentuk yang sama akan menjaga klas perbedaan ekonomi (mengurangi kecemburuan sosial). Tandas Pak Rianom selaku Ketua Panitia Pemilihan Kepala Desa Karang Bajo 2019.

Pak Budanom selaku Amaq Lokaq Walin Gumi juga menyampaikan tentang salah satu ritual/pesta/gawe yang tidak pernah dilaksanakan oleh Masyarakat Adat Bayan, yaitu Gawe Alip. Kalopun dilaksanakan pasca kemerdekaan NKRI itu hanya satu kali yaitu sekitar tahun 1957 sampai 1958 (dikenal dengan Alip Mindralis). Mindralis adalah salah satu pejabat adat yang mampu mengajak Masyarakat Adat Lainnya untuk melkasanakan Ritual Gawe Alip dimasa itu.

Aamq Lokaq Walin Gumi juga menyampaikan tentang perilaku pejabat pemerintah dimasa Orde Baru yang telah mengambil tanah pecatu masyarakat adat sebagai miliki peribadi. Berubahnya fungsi lahan dan kepemilikan menyebabkan beberapa pejabat adat tidak bisa diangkat lagi, sehingga masyarakat adat tidak mampu melaksanakan Gawe Alip sampai saat ini.

Tingginya nilai spiritual yang diyakini oleh Masyarakat Adat Bayan dalam pelaksanaan Gawe Alip menyebabkan kebencanaan yang terjadi di Lombok tahun 2018 disebabkan oleh tidak terlaksananya ritual sekali delapan tahun/sewindu tersebut.

Ketidak mampuan Masyarakat Adat Bayan untuk mengembalikan atau mengadakan pecatu baru bagi pejabat adat membutuhkan perhatian pemerintah, karena regulasi tentu akan menjadi penting untuk bisa mengembalikan kemandirian Masyarakat Lokal, Khusunya Masyarakat Adat Bayan yang ada di Lombok Utara.



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan