logoblog

Cari

5 Warisan Seni Arsitektur Di Bima

5 Warisan Seni Arsitektur Di Bima

Tanah Bima adalah tanah tua. Peradaban tanah ini telah mewariskan banyak nilai dari berbagai peninggalannya. Salah satu warisan yang terekam hingga

Budaya

alan malingi
Oleh alan malingi
02 Agustus, 2019 20:39:07
Budaya
Komentar: 0
Dibaca: 3502 Kali

Tanah Bima adalah tanah tua. Peradaban tanah ini telah mewariskan banyak nilai dari berbagai peninggalannya. Salah satu warisan yang terekam hingga saat ini adalah bangunan dan seni arsitektur serta ragam hias yang pernah mengisi perjalanan panjang sejarah Bima. Seni bangunan dan tehnik arsitektur Bima berkembang seiring kemajuan zaman. Desain arsitektur itu dimulai dari yang primitif hingga moderen saat ini. Berikut 5 Jenis Bangunan dan desain arsitektur yang mengisi peradaban tanah Bima.

1. Lege

Lege adalah bentuk awal dari Lengge. Lege adalah bentuk rumah pohon.Lege ditempatkan di atas pohon dan untuk naik ke Lege menggunakan Rangge atau tangga panjang dari bambu. Lege dibuat di atas pohon dimana atapnya dari alang alang. Keberadaan Lege diperoleh dari hasil eksplorasi tim Ekskursi Uma Lengge yang dilakukan oleh mahasiswa Seni arstiektur Universitas Indonesia pada tahun 2017 dan sudah diterbitkan dalam buku " Bima Antara Padi Dan Arsitektur". Saya memperkirakan Lege adalah bentuk arsitektur paling tua setelah kehidupan Gua dan sungai, dimana nenek moyang suku Mbojo mulai membangun tempat tinggal. Saya memperkirakan Lege dihuni oleh manusia Bima pada masa transsisi antara masa Naka yang nomaden dengan masa Ncuhi yang mulai menata tempat tinggal dan pemukiman di bawah pimpinan Ncuhi. Namun sayang, keberadaan Lege sudah tidak ada lagi. Keberadaannya hanya terekam dalam tutur masyarakat di Sambori.

2. Lengge

Setelah tinggal di pohon pohon dan di gua - gua, masyarakat Bima mulai menata perkampungan. Lengge yang berbentuk kerucut yang ditopang dengan empat tiang sebagaimana kita saksikan saat ini adalah hunian masyarakat setelah Lege. Di Mbawa dikenal dengan Uma Leme. Sedangkan di Wawo, Sambori dan sekitarnya disebut Uma  Lengge. Sebenanrnya hampir tidak ada perbedaan yang signifikan antara Uma Leme dan Uma Lengge karena sama sama berbentuk kerucut. Uma Lengge kemudian berubah menjadi Lengge untuk penyimpanan padi dan palawija bagi kebutuhan makanan masyarakat. Saat ini Lengge masih ada di desa Maria Utara kecamatan Wawo dan di desa Mbawa. Sedangkan di Sambori, sudah tidak ada lagi, meskipun hanya ada satu bangunan bekas Lengge yang diperkirakan berusia ratusan tahun, namun sudah beratap seng.

3. Jompa Dan Uma Panggu

 Jompa adalah lumbung. Bangunan ini bertiang empat dengan panjang dan lebar yang sama. Dindinya dari kayu. Sedangkan kolongnya ada yang dibiarkan kosong dan ada juga dimanfaatkan untik tempat istirahat bagi ternak. Dulu atapnya dari alang alang yang dirajut tebal, namun seiring perkembangan zaman atap Jompa dari genteng dan seng. Saat ini keberadaan Jompa masih ada di desa desa di wilayah kabupaten Bima, Dompu dan di pinggir Kota Bima.

Uma Panggu adalah akulturasi dengan seni arsitektur dari Sulawesi khususnya Bugis dan Makassar. Dari cara pembuatan, Uma Panggu dibagi dalam dua jenis yaitu Uma Ceko dan Uma Pa'a. Dinamakan Uma Ceko karena tiangnya dihubungkan dengan pasak dan ada sikunya. Dinamakan Uma Pa"a karena sambungan tiangnya dipahat dan kayu kayu serta tiangnya disambung antara satu dengan lainnya. Ada juga dikenal dengan Uma Mbolo yaitu Uma sejenis Uma Ceko, tetapi bentuknya agak bundar atau mbolo. Besar kecilnya ukuran Uma Panggu didasari dari tiangnya yaitu enam tiang, 9 tiang, 12 tiang hingga 16 tiang.

 

Baca Juga :


4. Nggusu Waru

 Nggusu Waru adalah Segi delapan. Bangunan berbentuk Segi Delapan diperkirakan mulai ada sejak era kesultanan Bima. Abdullah Tayib, BA menyebut Masjid Kamina atau Masjid Kalodu berbentuk segi delapan.Masjid itu diperkirakan dibangun pada tahun 1621 M oleh Putera Mahkota Abdul Kahir bersama para Mubaliq dari Sulawesi Selatan. Nggusu Waru juga diimplementasikan dalam bentuk nisan para sultan dan ulama Bima pada periode awal kesultanan seperti pada nisan di Dana Taraha, Pulau Kambing, Makam Tolobali dan sebaran makam di sepanjang Melayu hingga Kolo. Hingga saat ini bentuk bangunan Nggusu Waru masih dapat kita lihat pada menara masjid Sultan Muhammad Salahuddin, bangunan Paruga Nae, Lare Lare Asi Mbojo, dan bangunan anjungan besi di batas Kota Bima.

5.  Uma Wadu

Uma Wadu atau rumah batu mulai diperkenalkan oleh Belanda pada sekitar tahun 1900 atau memasuki Abad ke 20. Orang Bima menyebutnya dengan Uma Wadu karena konstruksi bangunannnya dari batu, semen dan bata. Pada awalnya Uma Wadu dibangun dengan batu dan semen dalam bentuk satu batu. Dinamakan satu batu karena mulai dari fondasi hingga tembok dari batu dan dicampur semen. Di dalamnya dimasukan Bedek atau Bambu. Kemudian berkembang pula tehnik satu batu dengan bata. Bangunan satu batu masih berdiri kokoh hingga saat ini seperti Asi Mbojo, kompleks bangunan Tua di Kota Raba, Sekolah sekolah dan pesanggrahan di Wawo, Donggo dan Bahkan Di lereng Tambora. Kemudian berkembang jenis Uma Wadu dengan bata hingga saat ini. Berkembang pula model bangunan setengah batu dengan hanya menggunakan tehnik penyusunan satu bata dan semen, namun pada pilarnya menggunakan ikatan besi.

Lengge, Uma Panggu dan Model Nggusu Waru perlu terus dipertahankan sebagai bentuk pewarisan nilai budaya yang akan berdampak pada pelestarian nilai dan promosi pariwisata. Pemerintah Kota Bima maupun kabupaten Bima perlu mengupayakan pelestarian tiga bentuk seni aritektur ini melalui berbagai program yang salah satunya adalah pengkondisian kampung wisata dengan hunian Uma Lengge, Uma Panggu maupun model Nggusu Waru. Tiga bentuk desain arsitektur tersebut perlu diimplementasikan dalam pagar kantor, taman dan ruang terbuka hijau seperti yang ada saat ini yaitu Uma Lengge di Taman Panda maupun Pantai Lawata.

Foto : Detiktravel



 
alan malingi

alan malingi

blogger dan penulis asal Bima-NTB. Kontak : 08123734986-0811390858. Kunjungi juga www.bimasumbawa.com dan www.alanmalingi.wordpress.com.Facebook, WA, Twitter dan Instagram Alan Malingi.

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan