logoblog

Cari

Antara Matematika Dan Budaya (Bima & Dompu)

Antara Matematika Dan Budaya (Bima & Dompu)

Sudah sejak lama matematika menjadi suatu ilmu pengetahuan yang penting untuk dimiliki oleh semua orang. Peranan matematika sudah menyelimuti sisi kebutuhan

Budaya

Ahyansyah
Oleh Ahyansyah
28 Juli, 2019 13:52:56
Budaya
Komentar: 0
Dibaca: 5712 Kali

Sudah sejak lama matematika menjadi suatu ilmu pengetahuan yang penting untuk dimiliki oleh semua orang. Peranan matematika sudah menyelimuti sisi kebutuhan dari keilmuan lainya. Sebagai contoh, seseorang yang belajar ekonomi, maka dasar dari ilmu matematika yang perlu dimiliki adalah menguasai bilangan dan operasi nya, memahami konsep dasar aljabar, dan lain sebagainya.

Sampai saat ini, matematika menjadi kebutuhan utama dalam perkembangan ilmu pengetahuan & teknologi contoh nya perkembangan alat komunikasi dan transportasi.

Di era industri 4.0 ini, matematika bahkan telah menjadi salah satu indikator untuk mengukur kualitas pendidikan di dunia. PISA dan TIMSS menjadikan matematika sebagai instrumen untuk mengukur kualitas pendidikan. Berdasarkan beberapa referensi didapatkan informasi bahwa Singapura menjadi negara dengan Pendidikan terbaik  di dunia versi PISA dan TIMSS khususnya pada matematika. Sedangkan Indonesia masih menduduki peringkat terendah pendidikan menurut PISA dan TIMSS jauh dibawah Singapura. Oleh sebab itu perlu mencari solusi untuk mengatasi permasalahan mengapa Indonesia pendidikan nya rendah. Salah satu cara yang dapat digunakan adalah melalui pendekatan budaya.

Lalu apa matematika itu sendiri ?. Apa hubungan matematika dengan budaya ?.
Matematika (dari bahasa Yunani: μαθημα - mathēma, "pengetahuan, pemikiran, pembelajaran") adalah ilmu yang mempelajari hal-hal seperti besaran, struktur, ruang, dan perubahan (Wikipedia.org).Berdasarkan referensi di atas didapatkan beberapa variabel yakni besaran, struktur, ruang dan perubahan. 
Penulis meyakini bahwa untuk menguasai beberapa variabel di atas maka matematika memerlukan suatu ilmu dasar sebagai dasar pengembangan keilmuannya.  Oleh sebab itu, suatu ilmu dasar dari matematika tersebut seperti menguasai bilangan dan operasinya, menguasai aljabar, menguasai pengukuran, menguasai peluang dan statistik serta geometri.

Secara umum, matematika itu sendiri sudah muncul sejak dulu maupun zaman sebelum- sebelumnya, namun perkembangannya tidak seperti sekarang ini.  Bagi sebagian orang menyadari dan meyakini bahwa matematika pada saat itu sangat dikuasi oleh masyakat secara tradisional yang sesuai dengan keberadaan kehidupan sosial dan budaya pada saat itu. Sebagai contoh, keberadaan beberapa candi seperti candi Borobudur', candi Prambanan dan candi candi lainnya yang menunjukkan bahwa ada ilmu matematika yang digunakan. Tidak mungkin candi tersebut bisa berdiri kokoh jika tidak ada keterlibatan unsur matematika walaupun pada saat itu belum ada masyarakat yang menyadarinya. Hal Ini menunjukkan bahwa ada hubungan antara keberadaan silsilah sejarah dalam hal ini kebudayaan setempat dengan perkembangan ilmu pengetahuan khusus matematika. Oleh sebab itu, istilah hubungan antara matematika dengan kebudayaan sering disebut etnomatematika.

Definisi etnomatematika menurut D'Ambrosio (2011) mengatakan bahwa etnomatematika yakni ilmu yang mengkaji unsur unsur matematika yang melekat pada suatu kelompok seperti kehidupan sosial masyarakat, bahasa, jargon, perilaku masyarakat,simbol mitos yang dapat dikaji melalui kegiatan melakukan kegiatan seperti pengkodean, mengukur, mengklasifikasi, menyimpulkan, dan pemodelan.

Ahli lain mengatakan bahwa matematika yang dipraktekkan di antara kelompok budaya diidentifikasi seperti masyarakat nasional suku, kelompok buruh, anak-anak dari kelompok usia tertentu dan kelas profesional" (D'Ambrosio, 1985). Maka dari itu , salah satu kebudayaan di Indonesia yang memiliki unsur matematika di dalamnya adalah warisan budaya Bima dan Dompu.

Warisan budaya Bima dan Dompu tersebut terdiri dari permainan tradisional seperti mpaa gopa dan mpaa tapa gala.

Gambar 1 : Mpa'a gopa (sumber gambar: izulmbozo.blogspot.com)

Etnomatematika pada mpa'a gopa yakni bergantung pada jenis mpa'a gopa itu sendiri seperti mpaa gopa kapa yang terdapat persegi panjang, persegi. Namun terdapat juga gambar seperti jaring jaring kubus dan balok hendak digunakan untuk jenis permainan mpa'a gopa   sementara mpaa tapa gala ada unsur persegi dan persegi panjang.

Ada juga kebiasaan masyarakat di pasar yang menyebut satoho' (biasanya untuk harga ikan yang telah dipisahkan berdasarkan ukuran, jenis dan jumlah), sa 'embe (harga ikan sesuai ukuran ember).

Gambar 2: Ikan dengan beberapa toho' (sumber gambar: alanmalingi.wordpress.com)


Ada juga tembe Nggoli (sarung tradisional Bima dan Dompu) yang memuat konsep segitiga, garis lurus dan garis lengkung, simetris. Peralatan tradisional yakni rebana yang dibuat dari kulit sapi atau kulit kerbau berbentuk lingkaran, gendang berbentuk tabung serta benda peninggalan budaya lainnya yang memiliki bentuk-bentuk geometri.

​​​​​​Gambar 3: Tembe nggoli (Sumber gambar: tenun-bima.blogspot.com)

Uma Lengge yang merupakan rumah tradisional di Bima yang letaknya di daerah Wawo Bima termuat konsep  geometri dalam pembangunan, diantaranya model bangun datar, meliputi persegi, persegipanjang, trapesium, segitiga, segitiga samakaki, segitiga samasisi, segilima, serta belah ketupat, model bangun ruang, meliputi kubus dan balok, model sifat matematis, meliputi sifat simetris, dan konsep translasi (pergeseran), serta pola dilatasi persegi pada bagian dalam atap museum  yang membentuk deret aritmatika.

 

Baca Juga :


Gambar 4: Uma lengge (sumber gambar:budaya.kampung-media.com)

Untuk ilmu pengukuran biasanya orang tua kita menggunakan istilah sacaka, dua caka, tolu caka dan selanjutnya. Sacaka artinya satu jengkal untuk mengukur benda atau sejenisnya. Ini adalah sebutan bilangan bagi masyarakat bima dan Dompu yakni
Ica: satu
Dua: dua
Tolu: tiga
Upa: empat
Lima: lima
Ini: enam
Pidu: tujuh
Waru: delapan
Ciwi: sembilan
Sampuru: sepuluh
Kalau sampuru caka berarti sepuluh jengkal panjang suatu benda. Ini adalah satuan yang digunakan untuk mengukur suatu benda.

Gambar 5: sacaka (sumber gambar: inkuiri.com)

Ada juga tempat lumbung padi (jompa) khas masyarakat Donggo terdapat  gabungan konsep bangun ruang yakni prisma segitiga dan kubus.

Gambar 6: Jompa (Sumber gambar: alanmalingi.wordpress.com)

Formasi permainan kareku kandei dengan anggota kan 8 orang saling berhadapan memu at konsep susunan dan deret.

Gambar 7: Kareku kandei (sumber gambar :Liputan6.com)

Selain di atas , masih banyak warisan budaya Bima dan Dompu yang memiliki hubungan dengan beberapa konsep matematika.

Harapan kedepannya agar penelitian tentang etnomatematika menjadi salah satu tema untuk diteliti Khususnya untuk budaya Bima dan Dompu. Mengingat selain meningkatkan dan mengembangkan keilmuan matematika, disisi lain menjaga dan melestarikan budaya, ternyata melalui budaya ilmu matematika bisa dipelajari. 

Untuk beberapa tenaga pendidik di beberapa perguruan tinggi di NTB khusus nya di Bima dan Dompu agar menjadikan etnomatematika bagian dari tema tema riset penelitian mahasiswa sebagai tugas akhir yang diprioritaskan. 


Sekian. Semoga tulisan ini bermanfaat. Mohon maaf jika ada kekurangan.



 
Ahyansyah

Ahyansyah

Ahyansyah. Pemerhati Pendidikan Dasar. Asal dari Kecamatan Kempo Kabupaten Dompu. Anak dari pasangan Bapak Burhanuddin ADT dan Ibu Ratnah. IG. @Ahyansya. E-mail : Ahyansyah.iain55@gmail.com. HP. 085239186574.

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan