logoblog

Cari

Mithologi Dewi Anjani

Mithologi Dewi Anjani

Dulu, Sobat saya, Andi Mulyan Datu Tjondong (KM.Jong Celebes) pernah menuangkan kisah cerita Dewi Anjani. Namun bagi saya, cerita tersebut tidak

Budaya

Pangkat Ali
Oleh Pangkat Ali
26 Juni, 2019 20:38:53
Budaya
Komentar: 0
Dibaca: 11662 Kali

Dulu, Sobat saya, Andi Mulyan Datu Tjondong (KM.Jong Celebes) pernah menuangkan kisah cerita Dewi Anjani. Namun bagi saya, cerita tersebut tidak dilengkapi dengan setting yang lengkap; Judul pun hanya sebatas “Cerita Rakyat…..(Rakyat mana?), sementara tokoh monogonisnya dimunculkan; “Dewi Anjani”.

Hampir semua tokoh budaya Lombok (Sasak) tahu bahwa, Dewi Anjani adalah, cerita dan legenda Rakyat Lombok. Jika butuh pembuktin secara monumental, ini adalah sebuah mithos. Dalam perkembangannya, Mithos Dewi Anjani, disebutkan dalam sastra lisan, berkembang menjadi kisah gaib. Bentuk tertulisnya tertuang dalam salah satu bagian naskah Lontar Babad Lombok Carangan, yaitu Babad Doyan Nede.

Tapi apapun alasannya, Andi Mulyana Datu Tjondong sudah mengetengahkan apa adanya dari cerita yang didapatkan, meskipun tanpa ada setting yang jelas dan lengkap. Tapi dia (Andi Mulyan Datu Tjondong) patutlah diapresiasi, karena sejatinya, dia bukanlah penduduk asli anak negeri (Lombok), tetapi dari negeri seberang di Sulawesi sana. Tapi ini semua ditampilkan dari sisi alkisah semata.

Sekarang, saya akan mengupasnya dari sisi lain, terutama sisi pembuktian monumentalnya. Ya, selain memegang teguh sistim kepercayaan dengan beragam kiprahnya dalam kehidupan, masyarakat Lombok (Sasak) juga memiliki aneka ragam budaya dengan segala corak, keunikan sekaligus menjadi kepercayaan tradisionalnya.

Sebagian besar masyarakat Sasak juga masih mempercayai beberapa mithologi, terutama mithologi yang bersumber pada gunung tertinggi di Lombok, yakni Gunung Rinjani dengan puncaknya yang angker itu.

Salah satunya adalah mitos Ratu Dewi Anjani. Kisah ini terasa serba gaib, karena menuturkan asal mula gumi Lombok dan cikal bakal manusianya. Meskipun Lombok terkenal dengan julukan “Pulau Seribu Masjid” dengan sejumlah pusat-pusat perguruan agama Islamnya. Namun mitos ini masih tetap dipercaya dan merupakan penyegar kehidupan mereka.

Dalam perkembangannya, mitos Dewi Anjani yang disebutkan dalam sastra lisan, kemudian berkembang menjadi kisah gaib. Bentuk tertulisnya tertuang dalam salah satu bagian naskah Lontar Babad Lombok Carangan, yaitu Babad Doyan Nede. Kisahnya berawal dari adanya ratu jin sakti, cucu dari Nabi Ibrahim AS yang bertahta di mahligai Segara Muncar di Puncak Rinjani. Ratu jin inilah yang berupaya meratakan bagian gumi Lombok dengan mesin keruknya yang berwujud Burung Beberi. Setelah bumi diangap layak dihuni, sang ratu jin berubah rupa menjadi Jin Perwangsa dalam bentuk manusia.

Para Jin di bawah pimpinan Patih Songan menerima gagasan tersbut. Dua puluh pasang diantaranya menjadi cikal bakal penghuni gumi Lombok. Sedangkan Jin di bawah pimpinan Patih Garigis, menolak dengan keras. Konon, mereka lalu dikutuk menjadi jin jahat. Mereka berlari ke sana kemari dan bersemunyi dari buruan kutuk sang ratu, yaitu di bawah pohon Belata (hantu). Bagi yang bersembunyi di dalam gumi, menjadi Gutun Tanaq. Yang bermbunyi di dalam batu menjadi berhala. Sementara yang berlari ke laut, dikutuk menjadi Bakeq (hantu laut).

Maka tidaklah mengherankan, bila kepercayaan akan mythos Dewi Anjani ini, kemudian menjadi salah satu sendi dari ilmu mistik orang Sasak. Namun, betapapun tingkat kebenarannya, kisah ini sejajar dengan kisah penciptaan Adam, serta terasa pula kekerabatannya dengan salah satu bagian dari Wira Carita Ramayana.

 

Baca Juga :


Mitos dan legenda tersebut belum beranjak dari benak sebagian masyarakat Sasak, merujuk pada mithologi Dewi Anjani yang diyakini sebagai penghuni awal atau generasi pertama masyarakat Sasak.

Spekulasi historis berdasarkan mitologi tersebut, mengusik kita semua. “Lha, masak orang Sasak ini dari bangsa jin, kan tidak masuk akal” Kita segera melakukan riset tentang legenda Dewi Anjani ini.

Kalau kita mulai menelusuri dari kata “dewi”. Sepanjang yang diketahui, dalam tradisi Sasak tidak mengenal istilah dewi yang bermakna putri yang cantik. Sasak juga tak mengenal kata “siti”. Misalnya nama Hawa, menjadi Siti Hawa, Maryam menjadi Siti Maryam, atau Aisyah menjadi Siti Aisyah. Maka muncul pertanyaan; “Ini pekerjaan siapa?” Kata dewi dan siti tak ada dalam tradisi Sasak.

Demikian pula saat kita mencari tahu tentang kata “Anjani”. Dalam kamus Sanskerta pun tidak ada ditemukan. Hanya kata Anjani adalah ibu dari Hanoman. Bukan sebagai bahasa. Tetapi, jika mencoba menggunakan pendekatan linguistik. Ditemui Anjarun. Itu dari Bahasa Arab. Artinya sauh perahu. Bisa jadi, Anjarun, ada proses morfologis, anjari menjadi Anjani.

Mitos Dewi Anjani sendiri, terdapat beberapa versi. Selain ada yang mengatakan putri jin yang menguasai Gunung Rinjani, ada pula versi lainnya. Di Sembalun, misalnya. Sebagian masyarakat menyebut Anjani adalah Bunda Waliyullah.

Sedangkan di kawasan yang lebih tersembunyi di sekitar Rinjani, pada kategori komunitas yang lebih tua, menyebut Dewi Anjani adalah Nabi Insun. Nah, kita coba menggunakan metoda filologi. Siapa Dewi Anjani, kemudian kaitannya dengan dua puluh pasang jin bangsawan itu.



 
Pangkat Ali

Pangkat Ali

Save Our Gumi Paer...LOMBOK Lalu Pangkat Ali, kesehariannya sebagai ASN -Pejabat Fungsional Pranata Humas Permkab.Lobar. Tinggal di Desa Kopang-Lombok Tengah. CP & WA: 081907941070. Fb: Fotografer Kopang & Eliza Agniya

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan