logoblog

Cari

Songak Bejango Bliq Dan Sketsa Ritual Mangkat

Songak Bejango Bliq Dan Sketsa Ritual Mangkat

KM Songak, Event Budaya Songak Bejango Bliq adalah agenda tahunan Lemabaga Adat Dharma Djagat Songak, tahun 2018 menjadi event budaya yang

Budaya

Efoel Avicenna
Oleh Efoel Avicenna
08 Januari, 2019 10:33:56
Budaya
Komentar: 0
Dibaca: 5508 Kali

KM Songak, Event Budaya Songak Bejango Bliq adalah agenda tahunan Lemabaga Adat Dharma Djagat Songak, tahun 2018 menjadi event budaya yang ke-VII. Event budaya ini berasal dari pemikiran anak-anak muda beserta bersama orang tua dan tokokh-tokoh yang ada di Desa Songak. Pada Evnet Budaya Songak Bejango Bliq ini panitia yang ditunjuk lansung oleh lemabaga adat Dharma Djagat Songak melalui beberapa rangkaian acara diantaranya lomba-lomba diantaranya lomba balap karung, son kleong, tarik tambang, Jelajah desa.

“Lomba diadakan sebagai edukasi masyarakat dalam menngkatkan kreatifitas dan keterliabatannya agar Event budaya ini dirsakan penuh oleh masyarakat” ungkap ketua panitia saudara Rof’il Kahiruddin. Event budaya songak bejango bliq juga bukan hanya dimeriahkan dengan lomba-lomba, namun acara ini juga sebagai bentuk refleksi akhir tahun Desa Songak maka dari itu acara ini juga dirangkaikan dengan Sarasehan Budaya, Songak Bershalawat, Songak Berhizib kesemua ini sebagai bentuk pengharapan kepada Allah agar Desa Songak dan Masyarakatnya selalu dalam lindungan Allah SWT.

Pada Event Budaya Songak Bejano Bliq ke-VII ini ada hal yang menarik karena ada sketsa ritual mangkat. “Konon ritual mangkat ini dilaksanakan ketika ada peperangan atau masyarakat Desa Songak diutus untuk oleh pemerintah ke medan perang” ungkap Murdiyah selaku tokoh adat Desa Songak. Lebih lanjut Guru Murdiyah panggilan akrapnya memaparkan “ritual mangkat ini dilaksanakan oleh masyarakat songak yang ingin ikut berperang dengang mengucapkan do’a-do’a khusus yang dipimpin oleh tetua Desa Songak”.

Pelaksanaan Ritual mangkat sendiri dilaksanakan di Masjid Bengan (tua) Desa Songak, para pasukan perang akan berkumpul dimasjid lengkap dengan persenjataan dan alat musik perang berupa tambur yang dijuluki tambur Guntur Telu yang sampai saat ini masih dipelihara oleh Desa Songak yang akan dibawa kemedan peperangan. Sebelum lanjut penulis ingin menjelaskan dulu tambur itu apa, menurut tokoh-tokoh adat Desa Songak tambur itu adalah alat musik untuk mengiringi para pasukan perang, tambur itu sendiri berupa dua Gendang (gamelan), Satu Gong dan Rincik sebagai pelelngkap, musik tambur dan irama tambur berbeda dengan bunyi musik gendang bliq yang saelama ini kita kdengar. Tambur ini masih dipelihara oleh masyarakat Desa Songak berupa 2 gendang dan Satu Gong yang usianya lebih dari ratusan tahun.

Di masjid tua para pasukan duduk bersila tepat di empat soko guru yang ada di dalam masjid bengan Desa Songak, di dalam masjid para pasukan berkumpul dan diberikan arahan oleh tetua songak sebelum berperang tetua Songak akan bertanya apakah para pasukan siap untuk jalan berperang bagi yang tidak siap diminta untuk tidak ikut pergi berperang. Setelah pertanyaan itu lalu tetua Songak menggemakan takbik lalu diikuti oleh pasukan yang akan pergi kemedan perang. Setelah itu tetua Songak memanjatkan do’a (mohon maaf do’a tidak bisa share), stelah do’a tetua Songak akan mengambil air yang sudah disiapkan di wadah kmeq tanaq (Guci) dan minyak Songak. Air ini di percikan kepala pasukannya seteah selesai air dipercik kan ke kapala semua pasukan lalu tetua Songak akan memaikan Minyak Songak di kening para pasukan. Setelah selasai kembali tkabir menggema dari tetua yang akan diikuti oleh para pasukan perang.

Lalu tetua Songak mengelilingi para pasukan berseta musik tambur selama tiga kali sambil membaca do’a (mohon maaf do’a tidak bisa di share), setiap hitungan satu kali keliling tetua Songak akan menggemakan takbir sebagai tiga kali yang diikuti oleh pasukan perang. Stelah selesai mengelilingi pasukan tetua songak menyerahkan tongkat kepada panglima yang ditunjuk oleh tetua Songak. Setelah tongkat diserahkan tetua menuju pintu keluar masjid, namun sebelum pasukan keluar dari masjid tetua Songak akan mengalungkan pelepah enao kesemua pasukan perang. Setelah semua pasukan perang dikalungkan pelepah enao pasukan menunggu tetua dihalaman masjid untuk mengelilingi masjid tua yang diiringi musik trambur guntur telu sebanayak tujuh kali keliling, sambil tetua Songak memanjatkan do’a yang sama di dalam masjid bersama gemaan takbir disetiap keliling. Setelah selasai keliling masjid tua ini barulah semua pasukan dipersilahkan bereangkat menuju bedan perang.

 

Baca Juga :


Sepulang dari peprangan panglima yang ditunjuk akan membawa pasukan masuk kedalam masjid bengan lalu panglima akan menjemput tetua Songak kerumahnya untuk menemui para pasukan yang sudah kemedan perang, lalu akan bertanya kepada pangflima bagaimna cerita dimedan perang sehingga satu pun dari pasukan tidak ada yang terluka. Setelah pangflima menceritakan kisah dimeda perang lalu tetua Songak akan mengambil kembali tongkat dan mele[askan pelepah enaou yang dikalung oleh para pasukan dan para penabuh tambur Guntur Telu dan para pasukan pulang kerumah masing-masing.

“Konon ada cerita bahwa pasukan perang dari Songak tidak pernah bertemu secara lansung dengan musuh, karena musuh melihat pasukan yang berangkat dari Songak sangatlah besar barisan pasukan begitu panjang. Namun sebenarnya kenyataannya barisan itu tidak lebih dari 30 orang yang berangkat ke medan perang namun para musuh meilhatnya begitubesar, sehingga para musuh mundur duluan sebelum berperang dengan pasukan yang dari songak” ungkap papuq Mus yang pernah ikut ritual mangkat dan ikut pergi berperang.

Hadir dalam acara ini diaspora Songak yakni orang Songak yang menetap dan tinggal di Lombok Tengah, Lombok barat, Mataram, Sumbawa, dan Desa-Desa Sekitar Lombok Timur, Perwakilan dari Pemerintah Daerah yakni Kadis BPMD Bapak Juaini Taufik, Muspika dan Muspida. (efpoel Avicenna)



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan