logoblog

Cari

Pelajar Sembalun Dibekali Takepan Sasak

Pelajar Sembalun Dibekali Takepan Sasak

Sejumlah siswa di bawah tanggung jawab SMK Shofwatul Khaer, Desa Biloq Petung, Sembalun, Lombok Timur belajar Takepan Sasak, dan berlangsung beberapa

Budaya

Muhammad Sahrain
Oleh Muhammad Sahrain
09 Desember, 2018 07:31:00
Budaya
Komentar: 0
Dibaca: 6392 Kali

Sejumlah siswa di bawah tanggung jawab SMK Shofwatul Khaer, Desa Biloq Petung, Sembalun, Lombok Timur belajar Takepan Sasak, dan berlangsung beberapa bulan, dan berakhir bulan November, 2018. Pelatihan Takepan Sasak yang diprakarsai oleh tim dari Unram, Muh. Syahrul Qodri, Murahim, Mahmudi Efendi, dan Natsir Abdullah tersebut, bertujuan untuk memberikan pembelajaran kepada peserta didik SMK Shofwatul Khaer tentang bagaimana membaca, menerjemahkan, dan mengkaji naskah kuno masyarakat Sasak (takepan), guna menumbuh-kembangkan minat peserta didik di bidang naskah kuno secara khusus dan sosial budaya pada umumnya. Kegiatan tersebut berlangsung dengan antusias para pelajara dalam menerima proses pembelajaran takepan.

Syahrul Qodri salah satu dari tim mengatakan, sebagai upaya menggali nilai-nilai luhur peninggalan masyarakat di masa lalu, generasi Sasak sudah seharusnya memahami dan memiliki kecakapan dalam membaca Takepan Sasak. Dalam pelaksanaanya, metode yang diterapkan dengan memberikan pembelajaran bagaimana cara membaca takepan Sasak, menerjemahkan, dan menggalinya dengan mengadakan pertemuan berulang kali layaknya di perkuliahan. “Target luaran dari kegiatan ini adalah peningkatan kemampuan membaca pelajar dalam memahami takepan Sasak”, kata Syahrul.

Untuk mencapai target tersebut, Syahrul bersama tim menerapkan beberapa materi, di yaitu aksara sandangan. Aksara ini mempelajari tanda-tanda yang diletakkan pada aksara untuk mengubah bacaan. Dalam hal ini ada dua macam sandangan yaitu sandangan swara dan sandangan patѐn (mematikan). “Sandangan Swara untuk memberikan bunyi selain a pada aksara Baluq Olas, seemntara Sandangan Paten untuk menjadikan asksara wiyanjana stau saje menjadi konsonan atau hurf mati”. Jelasnya.

Selain materi aksara di atas, dihadirkan juga materi yang berkaitan dengan tembang, yaitu bagaimana menembangkan naskah-naskah berbahasa Kawi. Dikatakannya, Tembang Sasak memiliki pola guru lagu (jumlah suku kata atau huruf setiap larik) dan guru wicala (suara akhir pada setiap larik) sama dengan tembang Sunda, Jawa, Madura dan Bali, “tetapi karena ekspresi kulturalnya yang berbeda menyebabkan ada perbedaan irama atau cengkok”, tambahnya.

 

Baca Juga :


Selain itu,  kegiatan yang notabenenya sebagai bagian dari program pengabdian ini, secara menyeluruh melibatkan siswa SMK Shofwatul Khaer, Desa Biloq Petung, Kecamatan Sembalun, Lombok Timur. Para pelajar juga sangat antusias menerima proses pembelajaran takepan.  Meski tidak semua siswa dapat mencapai target standar yang diharapkan dikarenakan kondisi sekolah dan siswa itu sendiri. Ketika ditanyai kendala, Syahrul mengaku kendala yang dihadapi bersama tim adalah ketidakhadiran. Hal itu disebabkan oleh adanya bencana gempa yang mengharuskan mereka untuk membenahi rumah mereka sebagai prioritas utama. “Dalam kondisi terbatas itu, kami tetap melangsungkan pelajaran takepan. “Namun setelah kami dari Tim Pengabdian Unram memberikan pembelajaran dan pengetahuan, kami menyadari bahwa tekepan itu sangat penting. Karena pentingnya tersebut, kami berjanji pada diri sendiri untuk terus mempelajarinya, memeliharanya, serta mengapresiasinya”. Urai Syahrul.

Untuk itu, ia dan tim berharap kegiatan belajar membaca naskah kuno tersebut terus berlanjut. “Kami sangat berharap kegiatan ini bisa dilanjutkan atau diprogramkan tahun berikutnya dalam kondisi yang berbeda dan dalam kenyamanan yang lain”, harapnya. 



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan