logoblog

Cari

MAS Tegaskan Akar Kebudayaan Sasak

MAS Tegaskan Akar Kebudayaan Sasak

Majelis Adat Sasak (MAS) menegaskan kepada masyarakat bahwa pondasi dasar kebudayaan Sasak adalah Islam. Hal ini disampaikan oleh Sekretaris MAS Dr.

Budaya

Muhammad Sahrain
Oleh Muhammad Sahrain
09 Desember, 2018 22:09:20
Budaya
Komentar: 0
Dibaca: 6069 Kali

Majelis Adat Sasak (MAS) menegaskan kepada masyarakat bahwa pondasi dasar kebudayaan Sasak adalah Islam. Hal ini disampaikan oleh Sekretaris MAS Dr. Lalu Ari Irawan melalui acara pembahasan konten buku Muatan Lokal untuk SMA, SMK, dan SLB Pulau Lombok pada Jumat malam, 7 Desember 2018 di hotel Aston IIN Mataram. Penegasan ini didasarkan pada substansi ekspresi kebudayaannya tentang nilai-nilai islam.

Sekretaris Majelis Adat Sasak Dr. Lalu Ari Irawan diwawancarai usai mejadi pembicara di acara Dinas Kebudayaan tersebut menyatakan, bahwa orang Sasak, sejatinya dalam berbudaya merujuk nilai keislaman. “Kita telah mengkaji dan mendapatkan originalitas berdasarkan pondasi pemikiran islami dalam kehidupan Sasak. Dan orang Sasak sendiri hampir 100% Islam”, jelasnya di hotel Aston.

Kaitannya dengan konten buku Muatan Lokal (Mulok), setiap transformasi kebudayaan dan pendokumentasian melalui muatan lokal sudah semestinya mempertimbangkan roh kebudayaanya. “Ketika bahan ajar muatan lokal diterima oleh peserta didik, materi-materi yang disampaikan harus mempertimbangkan pondasinya. Dan ini harus diperjelas agar tidak berdampak pada ketimpangan berkebudayaan orang Sasak”, lanjut Doktor Ari menjelaskan akar nilai budayanya.

Doktor yang pernah meneliti Almanak Sasak ini menjelaskan, bahwa di tengah terombang ambing dan menguatnya pertautan antar kebudayaan dunia hari ini, dan berkembangnya teknologi dan ilmu pengetahuan, orang Sasak harus menjaga patron kebudayaanya. Hal ini penting, sebab ketika Sasak kehilangan patron akan membuat orang Sasak semakin jauh mengenali tentang dirinya dalam skala kelolakan yang luhur. “Orang Sasak akan menjadi orang asing di tanah sendiri jika hal demikian berlanjut dan menggeser akar nilai kebudayaan lokal yang islami”, tuturnya.

 

Baca Juga :


Pembicara dari Majelis Adat Sasak yang diundang oleh Dikbud ini berharap, dalam proses transformasi kebudayaan Sasak, hasilnya harus dapat berterima. Keberterimaan ini mempertimbangkan nilai-nilai, atau pesan-pesan tentang moral, dan akhlak yang disampaikan tanpa harus betentangan dengan zaman dimana kebudayaan itu hidup. “Saya berharap, perlu dibicarakankembali aspek-aspek pedagogis dalam bahan ajar muatan lokal. Setelah sekian lama meninggal cara-cara ini. Dan ini adalah gerakan yang cukup baru. Dalam arti, meski sebelumnya sudah dipelopori oleh para pendahulu dua dekade terakhir, namun belum secara massif, terencana, dan terstruktur, sehingga ini adalah kesempatan yang baik dalam mentransfer kebudayaan Sasak kepada generasi,” harapnya menutup wawancara.

 



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan