logoblog

Cari

Tutup Iklan

Sejarah Berdirinya Bale Beleq Juluaru

Sejarah Berdirinya Bale Beleq Juluaru

Sekitar akhir abad ke 15 yang lalu seorang waliyullah bernama Pangeran Sangepati yang berasal dari Cirebon (Tanak Jawe) datang ke Desa

Budaya

Hasan Saipul Rizal
Oleh Hasan Saipul Rizal
18 November, 2018 15:40:12
Budaya
Komentar: 0
Dibaca: 2278 Kali

Sekitar akhir abad ke 15 yang lalu seorang waliyullah bernama Pangeran Sangepati yang berasal dari Cirebon (Tanak Jawe) datang ke Desa Jerowaru yang pada saat itu masih berbentuk hutan. 

Tempat itu diberi nama Juluaru oleh Pangeran Sangepati yang datang ke pulau Lombok seorang diri melalui Labuan Tereng (Lembar). Pada tahun itu pula Pangeran Sangepati menetap dan mendirikan rumah yang diberi nama Bale Beleq dan pada saat itu merupakan satu-satunya rumah di tempat itu. 

Menurut keterangan TGH. Muh. Nuh (Alm), dan Amaq Nurulan, rumah itu dibangun seorang diri oleh Pageran Sangepati, sehingga pekerjaan pembangunannya mengalami berbagai hambatan. Konon setelah Pangeran Sangepati membawakan tanah haram (Makkah), barulah pembangunan rumah tersebut berjalan lancar tanpa ada hambatan apapun. Kemudian setelah Bale Beleq berdiri Pangeran Sangepati mengundang (1) Datu Pene yang bernama surodjaya Supene (2) Datu Sekilat bernama Kyai Sekilat (3) Datu Pandan bernama Sigar Penyalin (4) Datu Batu Bawi bernama Sigar Penembing (5) Datu Kulon bernama Sudarman, dan terakhir (6) Datu Sermongkot atau Mesir Sorongan bernama Sukety untuk mengadakan musyawarah tentang rencana pembangunan Masjid Juluaru (Jerowaru). Dalam musyawarah tersebut disepakati untuk memulai pembangunan Masjid Juluaru yang bersamaan waktunya dengan pembanguanan Masjid Kopang, Masbagik, dan Rambitan. 

Pengikut-pengikut Pangeran Sangepati tersebar ke beberapa wilayah meliputi; Kopang, Teben, Sumbawa, Langko, Selaparang, Masbagik, dan Sembahulun. Bale Beleq tersebut didirikan dengan beratap Alang, bertiang kayu Galih Puntik  dan bertiang kayu Galih Gonde serta berpagar bambu dengan pagar halaman batu bata mentah. 

Manfaat Bale Beleq pada saat itu adalah (1) Sebagai tempat pemondokan pada saat membanguan Masjid Juluaru. (2) Sebagai tempat penyebaran agama Islam. (3) Tempat pertemuan, atau musyawarah untuk penyebaran agama Islam. (4) Musyawarah Desa, dan terakhir (5) Tempat penyimpanan barang-barang peralatan perang. 

Setelah empat puluh tahun Pangeran Sangepati memelihara Bale Beleq kemudian Pangeran Sangepati hilang diculik lantaran telah melukis istri Datu Parue. Lukisan itu dianggap terlalu berlebihan, sebeb lukisan itu sampai memperlihatkan kemaluan istri Datu Parue sehingga membuat Datu Parue tersinggung dan murka yang kemudian memerintahkan patih dan beberapa panglimanya untuk menculik Pangeran Sangepati, dan semenjak saat itu ia menghilang. 

Setelah kurang lebih enam puluh tahun lamanya Datu-datu tersebut memeliharanya, tepatnya pada tahun 1589 M, rumah peninggalan tersebut diserahkan ke para Gde (istilah sekarang Kepala Desa), dan pada waktu itu rumah peninggalan tersebut dipergunakan sebagai tempat Musyawarah para pengelensirpasek-pasekpenoak-penoak Desa Jerowaru.

 

Baca Juga :


Pada tahun 1789 Desa Jerowaru dipegang oleh Datok Sidemen, rumah peninggalan tersebut dipergunakan sebagai tempat memandikan orang-orang yang akan dikirim menghadapi musuh yang ingin merusak Adat Game

Keanehan Bale Beleq; (1) rumah tersebut selalu terhindari dari bencana kebakaran. (2) Tembok serambi bangunan terdiri dari kepalan-kepalan tanah yang bekasnya masih bisa disaksikan. (3) Bangunan rumah ini selalu miring; arah kemiringannya berubah-ubah menurut keadaan atau peristiwa seperti bencana alam, kekurangan pangan, menjangkitnya penyakit menular/wabah, keributan atau keamanan Desa, kekeringan, gagal panen. (4) Di tengah-tengah bangunan terdapat batu hitam, ukuran lebar 37cm, panjang 40cm yang disebut Batu Leleh. Batu tersebut tidak boleh dipindahkan atau diinjak, apabila dipindahkan atau diinjak akan terjadi kericuhan dan sakit yang amat sangat bagi yang menginjak. 

Manfaat Bale Beleq saat ini; Bangunannya sendiri merupakan peninggalan sejarah yang sudah berumur ratusan tahun. (1) Sebagai tempat penyimpanan benda-benda pusakan seperti; Tombak, Keris, Candekan, Gong, Kaling Gandek, Bunut Belingker, Jungkat, Kelewang, Pedang, Barang-barang pecah Belah seperti; Keramik, Gong, Alat Tenun, Bokor, Keben, Takepan, Bulu Putri Nyale.

 



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan