logoblog

Cari

Tutup Iklan

Bubur Puteq, Tasyukuran Atas Hasil Bumi

Bubur Puteq, Tasyukuran Atas Hasil Bumi

KM. Sukamulia – Salah satu tradisi masyarakat Sasak adalah Tradisi Bubur Puteq. Tradisi Bubur Puteq merupakan tradisi yang berkaitan dengan aspek

Budaya

KM. Sukamulia
Oleh KM. Sukamulia
22 September, 2018 23:00:00
Budaya
Komentar: 0
Dibaca: 3077 Kali

KM. Sukamulia – Salah satu tradisi masyarakat Sasak adalah Tradisi Bubur Puteq. Tradisi Bubur Puteq merupakan tradisi yang berkaitan dengan aspek religius. Jika dipandang dari sudut pandang religius maka tradisi yang dilaksanakan oleh masyarakat Islam Suku Sasak pada setiap bulan Muharam ini merupakan bagian dari ungkapan rasa syukur atas anugerah Yang Maha Kuasa akan hasil bumi yang diberikan oleh Nya.

Bulan Muharam merupakan bulan pertama dalam penanggalan islam (Tahun Hijriyah). Pada setiap Bulan Muharam, masyarakat Islam Suku Sasak Lombok yang masih memegang erat nilai-nilai tradisi nenek moyang mereka melaksanakan tradisi yang disebut dengan nama Tradisi Bubur Puteq. Tidak semua masyarakat Islam Lombok yang melaksanakan tradisi ini. Hanya masyarakat Islam Lombok yang memegang erat tradisi nenek moyang mereka saja yang masih melaksanakannya hingga saat ini dan salah satunya adalah masyarakat Dusun Sukamulia Desa Pohgading Timur Kecamatan Pringgabaya Kabupaten Lombok Timur.

Tradisi Bubur Puteq juga masih dilaksanakan oleh masyarakat Desa Bilok Petung Kecamatan Sembalun, Masyarakat Bayan Kabupaten Lombok Utara dan beberapa komunitas masyarakat adat lainnya di sekitar Lombok wilayah selatan, Lombok Tengah dan Lombok Barat. Secara umum, Tradisi Bubur Puteq dilaksanakan pada pertengahan hingga akhir bulan Muharam.

Masyarakat Dusun Sukamulia Desa Pohgading Timur biasanya melaksanakan tradisi ini pada petengahan bulan atau akhir bulan Muharam. Biasanya mereka melaksanakan tradisi ini pada hari Jum’at minggu ke dua, ketiga dan keempat Muharam. Atas dasar itu, masyarakat setempat kerap menyebut bulan Muharam dengan nama Bulan Bubur Puteq. Pada tahun 2018 Masehi yang bertepatan dengan tahun 1440 Hijriyah, masyarakat Dusun Sukamulia melaksanakan Tradisi Bubur Puteq pada ahir minggu kedua Muharam (Jum’at, 21 September 2018).

Berdasarkan keterangan yang kami peroleh dari tetua/tokoh adat dan tokoh agama masyarakat Dusun Sukamulia, Tradisi Bubur Puteq dilaksanakan sebagai salah satu bentuk ungkapan rasa syukur masyarakat atas hasil bumi yang dianugerahkan oleh Allah SWT kepada mereka. Hal ini tercermin dari bahan-bahan pembuatan Bubur Puteq. Bahan-bahan yang diolah menjadi Bubur Puteq adalah (1) Beras sebagai bahan utama, (2) Santan kelapa sebagai bumbu, (3) Reragi Beleq (sang, ketumbar, jahe dan lain-lain) sebagai bumbu, (4) Biji-bijian dan umbi-umbian sebagai bahan campuran beras dan (5) Buah-buhan serta beberapa jenis jajanan tradisional sebagai pelengkap sajian Bubur Puteq.

Jika diperhatikan dengan seksama, semua bahan pembuatan Bubur Puteq merupakan hasil bumi atau hasil pertanian dan perkebunan. Perlu juga kami sampaikan bahwa Masyarakat Dusun Sukamulia pada khususnya dan masyarakat Desa Pohgading Timur pada umumnya adalah masyarakat yang menggantungkan hidup mereka pada sektor agraris (pertanian). Lalu mengapa, tradisi ini dikatakan sebagai salah satu bentuk ungkapan rasa syukur atas anugerah Allah Yang Maha Kuasa ?

Pelaksanaan tradisi tersebut dikatakan sebagai wujud rasa syukur atas hasil bumi yang diperoleh masyarakat sebab semua pembuatan Bubur Puteq merupakan hasil bumi (pertanian dan perkebunan), misalnya saja beras, kelapa, biji-bijian (biji kecipir, kedelai, biji asam, biji kacang panjang dan sebagainya), umbu-umbian (ubi kayu, ubi jalar, talas, sebek dan sejenisnya), buah-buahan dan jajanan tradisional (pisang goreng, rengginang, cucur, lideran dan lain-lain).

Pada proses pengolahannya, semua bahan olahan dicampur menjadi satu dan diolah seperti mengolah bubur pada umumnya. Bubur Puteq dikatakan matang apabila semua bahan olahan terlihat menyatu dan mengental menyerupai nasi.

Sebagaimana disampaikan tadi, tradisi Bubur Puteq biasa dilaksanakan pada hari Jum’at di minggu kedua, ketiga atau keempat bulan Muharam. Pada pagi harinya warga mulai membuat olahan Bubur di rumah masing-masing. Proses pembuatan bubur dimulai dengan pembuatan santan kelapa, pencucian beras bahan pewarna (kunyit) dan bahan-bahan lainnya. Setelah semua bahan siap maka santan kelapa dicampur dengan beras beserta bahan-bahan lainnya. Bahan-bahan tersebut dicampur dalam wadah (rombong/pengkelan/rinjeng: bahasa Sasak) dan dinaikkan di atas perapian/tungku (jangkih: bahasa Sasak). Perlu diketahui bahwa di dalam proses pembuatan Bubur Puteq, warga tidak diperbolehkan memasaknya dengan menggunakan kompor atau hanya diperbolehkan menggunakan tungku dan bahan bakarnya menggunakan kayu. Proses pembuatan bubur ini membutuhkan waktu 1,5 hingga 2 jam.

 

Baca Juga :


Setelah bubur masak maka kegiatan selanjutnya dilakukan proses penyajian. Bubur yang sudah masak disajikan menggunakan piring dan diatas bubur dibubuhkan serbuk parutan kelapa yang sudah digoreng dengan campuran bumbu-bumbuan (sesaur: bahasa Sasak) di atas sesaur ditaruk irisan daging ayam dan  telur goring sebagai pelengkap. Bubur yang sudah tersaji kemudian disajikan di atas nare/dulang bersama dengan jajanan lainnya. Di dalam satu nare/dulang  biasa disajikan dua piring Bubur Puteq, satu atau dua piring jajanan tradisional dan satu atau dua piring buah-buahan.

Setelah semuanya siap maka masing-masing warga mengantarkan jajanan yang mereka hidangkan di rumah masing-masing ke masjid. Sebelum adzan Jum’at dikumandangkan, semua warga harus sudah mengantarkan dulang-nya ke masjid sebab puncak acara akan dilaksanakan setelah dilaksanakannya shalat Jum’at.