logoblog

Cari

Tutup Iklan

Kembalikan Budaya Bubur Poteq di Hari Asyuro’

Kembalikan Budaya Bubur Poteq di Hari Asyuro’

Kembalikan Budaya Bubur Poteq di Hari Asyuro’ KM. MASBAGIK. Desa Kesik, Kecamatan Masbagik. Nenek moyang atau leluhur suku sasak sudah sangat

Budaya

KM Masbagik
Oleh KM Masbagik
20 September, 2018 06:26:04
Budaya
Komentar: 0
Dibaca: 1445 Kali

Kembalikan Budaya Bubur Poteq di Hari Asyuro’

KM. MASBAGIK. Desa Kesik, Kecamatan Masbagik. Nenek moyang atau leluhur suku sasak sudah sangat terkenal dengan kesopanan dan keramah tamahannya. Walaupun banyak yang mengira terkesan kolot dan tidak update dengan perkembangan zaman, namun sesungguhnya pesan-pesan moral yang berlandaskan prinsip islami telah tertanam sejak awal. Bahkan ada sebuah pepatah sasak yang menyatakan “ndekne dengan sasak lamun ndekne islam” yang artinya “ bukan orang Sasak jika tidak Islam”. Hal inilah yang menjadi dasar penulis bersama dengan rekan-rekan remaja mencoba menggali dan melakukan apa yang dilakukan nenek moyang sasak terdahulu.

 IKRAR Toes yang mulai konsen dengan tema adat yang berlandaskan islami mencoba mengadakan rapat bersama tetua yang ada di Dusun guna mengadakan acara  di bulan Muharram ini. Kegiatan tersebut berupa acara menyambut hari asyuro yang bertepatan dengan tanggal 10 Muharram. Alhamdulillah dari seluruh peserta yang hadir semuanya setuju dan bahkan banyak menghasilkan keputusan rapat yang lain tidak hanya berkaitan dengan kegiatan di bulan Muharram saja.

Kegiatan hari asyuro tersebut kami susun dengan berbagai acara mulai dari pembuatan bubur poteq. Bubur Poteq adalah salah satu rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh nenek moyang sasak terdahulu dalam menyambut awal bulan islam dengan membuat makanan bubur putih  yang terbuat dari nasi. Yang makna dari kegiatan tersebut semoga manusia bisa menjadi pribadi yang bersih dan baru seputih bubur. Hal itulah yang kembali akan dilakukan mengingat sudah sangat jarang sekali warga masyarakat yang melakukan hal tersebut.

Pembuatan bubur poteq ini kami buat pada hari Rabu sore jam 5 tepat dan dilakukan oleh lima orang. Entah ini kebetulan atau bagaimana akan tetapi ternyata mulai dari bahan hingga akhir kegiatan terasa sungguh bermakna sekali. Adapun berbagai bahan yang digunakan yaitu tepung putih sebanyak 11 bungkus yang dalam pemikiran orang Sasak angka 11 mengartikan suatu perubahan besar. Dan memang benar ini untuk kali pertama kami melakukan kegiatan ini. Ditambah dengan keterbatasan dana yang kita dapatkan hanya untuk 11 tepung itu saja. 

 

Baca Juga :


Selanjutnya memakai dua buah kelapa untuk diambil santannya. Jumlah dua disini bisa memiliki makna bahwa manusia tidak boleh lupa dengan dua kalimat syahadat yang menjadi pengikat kita sebagai muslim sejati. Setelah santan jadi kemudian ditambahkan dengan air yang diambil dari sumber mata air mertak, Desa Kesik sebanyak 33 gelas. Jumlah 33 melambangkan jumlah wirid yang sering dibaca ketika shalat fardhu. Setelah semuanya dicampur dengan 1 kilo gula putih dan 3 lembar daun pandan. Yang bisa diartikan 1 Tuhan yang patut disembah dan konsep 3 yang memiliki makna seperti dalam Wetu Telu. Setelah semuanya dingin ditaruh dalam 2 wadah besar yang memiliki makna kita tidak boleh lupa kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Selanjutnya disajikan dengan menggunakan daun pisang sebanyak 5 lembar sejumlah dengan shalat fardhu.

 Namun sebelum bubur poteq ini dibagikan kami melakukan shalat magrib berjamaah, membaca surah yasin, istigosah, dzikir dan doa. Setelah semuanya selesai barulah bubur poteq  dibagikan kepada semua jamaah yang hadir. Terkait dengan amalan di hari asyuro kami pun telah menggalang dana untuk di bagikan kepada anak yatim yang berada di Karang Gading. Uang tersebut kami bagikan kepada 3 orang anak yatim. Dan dalam tradisi ketika memberikan santunan para jamaah dianjurkan mengusap kepala anak yatim tersebut. Kegiatan ditutup dengan shalat isya berjamaah dan syukur Alhamdulillah semua berjalan lancar tanpa ada halangan sedikit pun. Ini akan menjadi awal kebangkitan kami untuk terus mengikuti jejak luluhur yang syarat dengan makna. Salam toes dari kampung. Mari meriri.

By_Andre D’Jails



 
KM Masbagik

KM Masbagik

Nama: Andre Kurniawan, S. Pd. TTL: Kesik, 01 April 1990. Alamat: Desa Kesik Kecamatan Masbagik. Pekerjaan: Swasta. No. HP: 082340354845. Email: Andrejail17@yahoo.com.

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan