logoblog

Cari

Tutup Iklan

Ghibah Dalam Peribahasa Bima

Ghibah Dalam Peribahasa Bima

Kehidupan ini tidak terlepas dari gosip, mengguncing, membicarakan keburukan orang lain hingga fitnah dan adu domba. Seiring perkembangan zaman dan kemajuan

Budaya

alan malingi
Oleh alan malingi
18 September, 2018 12:17:20
Budaya
Komentar: 0
Dibaca: 2312 Kali

Kehidupan ini tidak terlepas dari gosip, mengguncing, membicarakan keburukan orang lain hingga fitnah dan adu domba. Seiring perkembangan zaman dan kemajuan tekhnologi saat ini gosip dan bergunjing atau ghibah pun telah menjadi bagian dari pembahasan di media sosial dan media enterteinmen.

Bahkan di era demokrasi langsung saat ini berkembanglah gosip dan saling menjatuhkan di antara kandidat dan pendukungnya. Hal hal yang tabu pun tidak lagi menjadi tabu dan pergunjingan itu pun merambah ke ruang ruang privasi seseorang.

Untuk oramg orang yang suka mencari kejelekan orang lain, telah diingatkan dalam sebuah ungkapan " Nggahi Di Lenga Ponda Ndai Ma Lengi " Nggahi berarti berbicara.Dalam konteks ini dimaknai sebagai membicarakan keburukan dan mencari kesalahan seseorang. Di Lenga berarti kepada teman. Ponda berarti Labu. Tetapi dalam hal ini berarti Ponda Wila yang dalam bahasa Bima adalah sejenis wadah tempat memasukan air ketika pergi ke sawah atau ke gunung.Ndai berarti dirinya. Ma Lengi berarti yang bocor. Secara harfiah ungkapan ini berarti membicarakan teman,ponda sendiri yang bocor.

Secara konotasi, ungkapan ini bermakna membicarakan kejelekan orang lain padahal dirinya sendiri lebih jelek kelakuannya daripada orang yang dia jelek jelekkan. Belum tentu orang yang dia bicarakan berbuat keburukan. Tetapi karena dia tidak senang dan selalu iri dengan orang lain, akhirnya segala macam cara dicari kelemahannya.

Ungkaoan lain yang selaras dengan hal ini adalah " Raba Dou loa di eda, raba ndai wati loa di eda. " Raba berarti pagar. Dou berarti orang. Loa Di eda berarti bisa dilihat. Ndai berarti dirinya. Ti loa di eda berarti tidak bisa dilihat. Jadi ungkapan itu berarti Pagar orang bisa dilihat, pagar sendiri tidak bisa dilihat.

 

Baca Juga :


Mari kita menghindari Ghibah atau menggunjing ini karena sangat dilarang. Agama Islam mengingatkan agar tidak menggunjing. Ada empat ancaman untuk orang yang suka ghibah yaitu sama dengan memakan daging saudara sendiri, Allah akan membuka kejelakannya, dosamya lebih besar daripada berjina dan di alam kubur Allah akan mengurung dalam lumpur keringat ahli neraka.

Solusi nenghindari ghibah adalah dengan berpikir positif, bertindak kreatif dan menyibukkan diri kepada hal hal yang positif. Marilah menjadi manusia kreatif dan inovatif yang senantiasa menebarkan kebaikan dan kesejukan di muka bumi ini.

 



 
alan malingi

alan malingi

blogger dan penulis asal Bima-NTB. Kontak : 08123734986-0811390858. Kunjungi juga www.bimasumbawa.com dan www.alanmalingi.wordpress.com.Facebook, WA, Twitter dan Instagram Alan Malingi.

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan