logoblog

Cari

Tutup Iklan

Mengenal Kebudayaan NTB Di TMII

Mengenal Kebudayaan NTB Di TMII

Anjungan Nusa Tenggara Barat (NTB) Taman Mini Indonesia Indah (TMII) sangat membantu para pengunjung untuk mengenal tradisi budaya Nusa Tenggara Barat

Budaya

KM JONG CELEBES
Oleh KM JONG CELEBES
03 September, 2018 10:30:20
Budaya
Komentar: 0
Dibaca: 5491 Kali

Anjungan Nusa Tenggara Barat (NTB) Taman Mini Indonesia Indah (TMII) sangat membantu para pengunjung untuk mengenal tradisi budaya Nusa Tenggara Barat (NTB). Melalui anjungan di TMII ini, NTB dapat memperkenalkan seni budaya dan adat istiadat daerahnya kepada pengunjung yang datang dari berbagai daerah.

Miniatur NTB di TMII adalah suatu moment berharga bagi pengunjung karena walaupun mereka belum pernah berkunjung ke NTB, namun setidaknya dapat belajar tentang tradisi budaya NTB di tempat ini. Berkunjung ke anjungan NTB TMII tentu dapat mengenal ragam rumah adat NTB dan berbagai macam seni budaya, serta adat-istiadat yang dipromosikan di anjungan tersebut.

Menjelajah di anjungan NTB TMII, para pengunjung dapat menyaksikan langsung ragam replika rumah adat dari NTB. Diorama tata cara dan prosesi upacara, bentuk kearifan lokal, seni tradisional dari berbagai daerah di NTB, dan hasil kerajinan seni khas daerah NTB. Intinya, berkunjung di anjungan NTB TMII berarti akan mengenal tradisi seni budaya NTB meskipun belum pernah menginjakkan kaki di wilayah NTB.

Makbul Hijab, selaku pengurus Anjungan Nusa Tenggara Barat (NTB) Taman Mini Indonesia Indah (TMII) menjelaskan bahwa NTB terdiri dari dua pulau utama yaitu Lombok dan Sumbawa. Mataram merupakan ibu kota dari NTB dan terletak di Pulau Lombok.

“Penduduk asli Nusa Tenggara Barat ada tiga suku, yaitu suku Sasak yang berdiam di Pulau Lombok, suku Mbojo berada di Daerah Dompu dan Bima, sedangkan suku Sumbawa berdiam di Daerah Sumbawa,” penjelasan Makbul.

Selanjutnya, di dalam Anjungan NTB TMII, sebuah replika unik yang terletak di halaman belakang anjungan dengan menggambarkan sepasang remaja yang sedang menampilkan tarian daerah khas NTB. Hal ini membuktikan bahwa masyarakat NTB memiliki daya kreatif dalam menggambarkan suatu aktifitas hidup melalui gerakan tari.

Berugak (gazebo) yang merupakan ciri khas masyarakat sasak Lombok juga tampil di halaman depan Istana Tua Sumbawa anjungan NTB TMII. Zaenal, salah seorang pengurus seni tradisional anjungan NTB menyampaikan bahwa Berugak yang terletak di halaman anjungan NTB ini menggambarkan suatu bentuk tradisi masyarakat sasak di Lombok, yaitu dalam menerima tamu dapat berlangsung di dalam Berugak. Selain itu, Berugak juga berfungsi sembagai tempat untuk bermusyawarah, begawe (pesta), makan, mengaji Al Qur’an, sholat, hingga duduk-duduk santai. Selain itu, letak Berugaq yang di luar rumah, serta tanpa dinding, sehingga dari arah manapun orang lain bisa melihat, sekaligus menggambarkan bahwa masyarakat Sasak di Pulau Lombok pada umumnya bersifat terbuka,ramah, dan tidak menyembunyikan sesuatu.dari salah satu sifat keterbukaan. 

Tiga buah bangunan Lumbung padi (sumba pantek) khas masyarakat suku Sasak Lombok juga menjadi perhatian pada halaman anjungan NTB TMII, yaitu terletak pada bagian kanan dari pintu masuk anjungan NTB. Ketiga lumbung padi tersebut berdekatan dengan diorama kandang kuda beserta dengan keretanya. Hal ini menggambarkan masyarakat Lombok menjadikan kuda sebagai bagian dari aktifitas hidupnya, baik sebagai alat pengangkut gabah dari sawah di musim panen padi maupun sebagai alat transportasi tradisional, yaitu Cidomo.  

Replika Istana Tua Sumbawa atau disebut Dalam Loka Samawa merupakan bangunan utama anjungan NTB TMII. Model bangunan dari Istana Tua Sumbawa yaitu berbentuk rumah panggung. Bahannya pun terbuat dari kayu jati dan ditopang oleh seratus tiang yang kokoh. Sementara atap dari istana ini terdiri dari dua buah atau beratap kembar.

Bila menjelajah lebih jauh, yaitu ketika kita berada di ruang depan (luyuk agung), ragam pakaian adat , ragam kain ikat (tenun) khas NTB yang dapat memanjakan mata. Demikian pula dengan senjata tradisional, alat-alat untuk berburu di zaman kerajaan, alat-alat untuk menangkap ikan, alat atau perlengkapan untuk makan, dan masih banyak yang lain, yang kesemuanya memberi pengetahuan pengunjung tentang budaya NTB.

Berdasarkan pengamatan, yang paling ramai dikunjungi oleh pengunjung di ruang luyuk agung adalah aneka macam kain ikat (tenun) dan kain songket khas NTB. Ragam kain ikat dan kain sonket tersebut dapat dibedakan pada warna dan motifnya. Motif-motif yang ditampilkan di ruang luyuk agung ini adalah motif remawa, motif wayang, motif payung agung, sabuk umbak, sabuk antek, motif Sumbawa. Selain itu, penampilan selendang cantik dengan ciri khas tersendiri tak ketinggalan untuk menarik simpati kepada para pengunjung.

Replika senjata tradisional khas daerah NTB juga menggugah perhatian pengunjung. Sejumlah keris yang menjadi pengenalan budaya NTB di ruang ini adalah keris gayaman dari suku Sasak Lombok, berok pendok togoan Sumbawa, pisau mone Bima, pedang rajahan suku Sasak Lombok, keris yang berbentuk lurur dari Lombok, berang asal Sumbawa, keris patung permata Lombok.

Menurut Makbul Hijab, “NTB juga memperkenalkan keris lagendaris, yakni keris lagendaris dari Mbojo Bima dengan nama Sampari. Sampari ini adalah warisan dari kesultanan Bima, “ ujarnya.

Berada di ruang tengah luyuk agung, yaitu ruang peraduan ketika Sultan bercengkerama bersama keluarga kerajaan. Di ruang ini pula ditampilkan diaroma peragaan upacara adat, baik tentang upacara kelahiran maupun upacara kematian.

Makbul menjelaskan bahwa tata cara prosesi melahirkan suku Samawa di daerah Sumbawa bermula ketika Sang Ibu melahirkan, yang mana dibantu oleh seorang sandro (dukun beranak). Selanjutnya Sang Bayi akan dimandikan  oleh sandro tersebut sembari diazankan oleh seorang ayah hingga Sang Bayi diperhadapkan kepada Sang Ibu. Setelah itu, Sang Bayi akan ditidurkan ke dalam sebuah ayunan yang telah disediakan. Ayunan bayi yang dipersiapkan itu terbuat dari bambu.

 

Baca Juga :


Prosesi ngurisan atau aqiqah pada suku Sasak Lombok Tengah juga menjadi bagian dari  diorama di anjungan NTB TMII. Dalam prosesi ngurisan, seorang bayi digendong oleh seorang ayah yang kemudian dilakukan pengguntingan atau pemotongan rambut pada bayi tersebut. Menurut salah seorang petugas Anjungan NTB, “Pemotongan rambut pada Sang Bayi dilakukan oleh tokoh mayarakat, yang dalam bahsa Sasak disebut Labai atau Tuan Guru.”

Bentuk tradisi lain dalam diorama tentang bocah laki-laki, yaitu prosesi khitan pada suku Sasak Lombok Timur. Diorama ini menggambarkan seorang bocah laki-laki yang duduk di atas dipan, dan didampingi oleh seorang ayah. Setelah itu, barulah akan dilakukan proses khitan yang dilakukan oleh juru khitan.

Pengetahuan lain tentang tradisi Lombok di anjungan NTB, yaitu prosesi pernikahan pada suku sasak Lombok Barat. Tata cara pernikahan, atau dalam bahasa sasak disebut nyorong dilengkapi dengan sebuah tandu pengantin. Dalam diorama ini, ditampilkan dua orang dayang cantik dengan mengenakan busana khas suku Sasak. Kedua dayang cantik tersebut berada di depan pelaminan.

Prosesi panati, yaitu meminang pada suku Mbojo dari daerah Dompu juga menjadi penambahan wawasan tentang budaya NTB di anjungan NTB TMII. Dalam diorama bahwa prosesi meminang pada suku Mbojo Dompu berawal ketika rombongan keluarga calon mempelai laki-laki berangkat ke calon mempelai perempuan. Kedatangan keluarga calon mempelai laki-laki tersebut disambut baik oleh pihak keluarga calon mempelai perempuan di tempat kediaman peempuan. Setelah itu, pihak keluarga calon mempelai laki-laki menyampaikan lamaran pada pihak perempuan, dan selanjutnya mereka membicarakan hal-hal yang terkait dengan lamaran tersebut.

Tradisi jambuta pada suku Mbojo Bima tak terabaikan pada diorama anjungan NTB. “Jambuta adalah proses pernikahan pada pengantin ASI atau pada kalangan bangsawan di daerah Bima,” Makbul menjelaskan. Dalam diorama tersebut, pasangan pengantin bangsawan itu bersanding di dalam pelaminan dengan mengenakan busana khas daerah Bima. “ Baju yang dikenakan pada pengantin laki-laki ini adalah busana pasangi dengan hiasan kasiger dan juga siki, sedangkan pengantin perempuannya ini memakai baju poro yang dipadukan dengan hiasanwange,” ujar Makbul sembari mengarahkan tangannya pada kedua pasangan pengantin bangsawan yang berbentuk boneka.   

Selain diorama tradisi NTB yang menggambarkan rasa bersuka di anjungan NTB TMII juga menampilkan diorama tradisi yang bersuka. Salah satunya adalah diorama sakramen menjelang penguburan pada suku Sasak di Bayan Lombok Utara, yaitu zaman ketika masyarakat Sasak di Bayan belum mengenal agaman Islam.

Pertanian adalah sumber utama mata pencaharian masyarakat NTB. Replika alat-alat pertanian dapat dilihat langsung di ruang tengah anjungan NTB TMII. Demikian pula dengan peralatan dapur dan rumah tangga menjadi sumber belajar di tempat ini.

Menjelajah pada bagian lantai atas yang atapnya berbentuk kembar, ragam peralatan tradisional dan berbagai macam kerajinan tangan yang menggungah perhatian pengunjung. Di ruang lantai atas ini ditampilkan topeng senanti dari Lombok Timur dan alat tabuhan tradisional. Replika kuda Sumbawa hitam yang menggambarkan Pulau Sumbawa sebagai penghasil susu kuda liar turut mewarnai ruang ini.

Gelar seni di anjungan NTB tidak kalah dengan anjungan provinsi lain yang ada di TMII. Di anjungan ini telah tumbuh-kembang sekelompok sanggar seni, yaitu Sanggar Seni Bumi Gora yang setiap Sabtu hingga Minggu pada puklu 15.00-17.00 menggelar tari tradisional NTB. Pegelaran seni tersebut berlangsung di panggung hiburan anjungan NTB yang letaknya pada bagian tengah dari halaman anjungan. Di panggung hiburan ini pun terkadang diselingi dengan pegelaran musik dangdut, sehingga para pengunjung bebas untuk berjoget ria di depan panggung.

Mengenai anggota dari Sanggar Seni Bumi Gora bukan hanya terdiri dari warga NTB yang berdiam di Jakarta, melainkan semua warga masyarakat yang tinggal di Jakarta diberikan kesempatan untuk bergabung di sanggar seni ini. “ Siapa pun orangnya jika ia ingin bergabung di Sanggar Bumi Gora untuk mempelajari seni tradisonal NTB, baik seni musik tradisonal maupun tari, serta bentuk seni lainnnya silahkan,” ujar Triono selaku Ketua Sanggar Seni Bumi Gora Anjungan NTB TMII.

Bagi ummat muslim, yang mana jika ingin menunaikan ibadah sholat, Anjungan NTB TMII menyediakan mushola dengan menampilkan menara yang mirip dengan menara Masjid Bima. Mushola tersebut tepatnya berada pada dekat pintu masuk Anjungan NTB ini.

Bagi pengunjung yang ingin mengenal kebudayaan NTB lebih jauh, dapat mengajukan beberapa pertanyaan kepada petugas atau pengurus anjungan NTB TMII. Sebab diorama tentang kebudayaan NTB yang ada di Anjungan NTB TMII tentu tidak semua ditampilkan sampai sekecil-kecilnya. Olehnya itu, bila ingin mempelajari kebudayaan NTB di anjungan ini, sebaiknya siap denan instrumen pertanyaan. Insya Allah petugas anjungan siap akan memberikan jawaban yang terbaik.

 



 
KM JONG CELEBES

KM JONG CELEBES

Andi Mulyan Datu Tjondong Dari Kabupaten Soppeng (Sul-Sel) -, tinggal di Selong/Mataram , fb: - Aron Zaan, No. Hp. 085337771699, pendikan Si (sastra perancis -UNHAS),pendidikan : S2 Sosiologi,ngabdi di UNU NTB MATARAM< UGR LOTIM<

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan