logoblog

Cari

Mengenal Orang Laut Di Awang

Mengenal Orang Laut Di Awang

Hampir semua kawasan pesisir di Lombok di kuasai oleh suku Bajo. Merujuk pada tulisan Lalu Murdi “Jejak Kehidupan Bahari (Sulawesi Dan

Budaya

KM JONG CELEBES
Oleh KM JONG CELEBES
04 Agustus, 2018 21:53:32
Budaya
Komentar: 0
Dibaca: 17714 Kali

Hampir semua kawasan pesisir di Lombok di kuasai oleh suku Bajo. Merujuk pada tulisan Lalu Murdi “Jejak Kehidupan Bahari (Sulawesi Dan Lombok Dalam Lintas Sejarah Maritim)” bahwa masyarakat Bajo bermigrasi ke Lombok Tengah sekitar lima abad yang lalu. Mereka menetap di wilayah dusun Awang (bagian selatan paling timur kabupaten Lombok Tengah), desa Mertak, dan Kecamatan Pujut. Namun, Suku Bajo yang berada di Lombok Tengah mempunyai perbedaan kebiasaan dibanding dengan masyarakat Bajo di daerah asalnya, yaitu Sulawesi Selatan.

Antropolog Franqois Robert Zacot asal Perancis dalam buku Orang Bajo bahwa suku Bajo di Sulawesi bertempat tinggal di atas laut (Lalu Murdi). Dalam hal ini, kehidupan masyarakat Bajo sangat didukung oleh perahu yang sebagai alat transportasi mereka. Selain itu, mereka pun menjadikan perahu tersebut sebagai tempat tinggal. Dari berbagai catatan kehidupan suku Bajo di Sulawesi, sebagian dari mereka membangun rumah panggung di atas laut, sehingga mereka menyatakan diri sebagai orang laut atau penduduk perahu.

Segala bentuk aktifitas hidup suku Bajo berlangsung di atas laut. Hal inilah  membuat mereka enggan untuk terkontaminasi dengan berbagai aktifitas hidup yang ada di daratan.

Beda dengan suku Bajo yang ada di Awang, Lombok Tengah. Justru sebaliknya,  mereka merasa leluasa berbaur dengan masyarakat setempat, yakni masyarakat suku Sasak. Namun, mereka tetap menunjukkan model rumah panggung yang diwarisi dari nenek moyangnya.

Masyarakat suku Bajo di Awang, Lombok Tengah masih mempertahankan bahasa etnisnya, yaitu bahasa Bajo. Meskipun mereka tinggal di Pulau Lombok, namun mereka tetap menyatakan diri sebagai orang Sulawesi, sebab leluhur mereka berasal dari Sulawesi Selatan.

Dalam bertahan hidup, suku Sulawesi yang terkenal sebagai orang perahu ini sangat menggantungkan hidup dari rahim laut. Bahkan mereka bermukim di suatu kawasan yang menjorok ke arah lautan lepas.

Berkat keahlian orang perahu di bidang penangkapan ikan, mereka pun akhirnya sangat memahami ilmu perbintangan, arah mata angin, bahkan jenis ikan yang akan muncul pada bulan-bulan tertentu. Kepercayaan mereka terhadap penguasa laut membuat diri mereka untuk tetap melangsungkan upacara doa dengan menyiapkan sesajen.

Upacara doa biasanya dilakukan sebelum melaut. Hal ini dilakukan agar mereka akan tetap selamat untuk mengais rezeki di tengah laut dan akan kembali dengan hasil yang berlimpah.

 

Baca Juga :


Suku Bajo yang ada dusun Awang tidak tinggal di laut, melainkan bertepi di sepanjang pesisir pantai. Mereka pun tetap mewarisi kearifan lokal dari nenek moyang mereka sebagai nelayan. Dalam meningkatkan taraf penghidupan, mereka pun melakukan pembudidayaan udang lobster di kawasan Teluk Awang. Namun sebagai suku yang yang sudah meleburkan diri dengan suku asli di Lombok, yaitu suku Sasak, sebagian dari mereka berdagang bahkan menjadi pekerja di sektor formal.

Dalam hal mitosasi, suku Bajo di Awang masih mempertahan sistem kepercayaan yang diwarisi dari Leluhur mereka. Kepercayaan terhadap kekuatan roh-roh leluhurnya menjadi bagian dari pola hidup sehingga pemberian sesajen masih sering ditunjukkan di wilayah ini.

Walaupun masyarakat Bajo yang ada di dusun Awang percaya terhadap roh-roh mahluk halus, namun mereka menganut ajaran Islam yang cukup kental. Terbukti dengan ditemukannya sebuah  masjid besar yang sebagai tempat untuk beribadah dan berbagai kegiatan ke-Islaman.

Corak dan nilai-nilai ajaran islam cukup melekat pada masyarakat suku Bajo yang ada di Awang. Ragam upacara doa masih ditonjolkan oleh masyarakat Bajo. Doa-doa dalam upaca selamatan anak mencerminkan corak islam. Kecuali dalam upacara “Nyelamat Laut”, mereka pun masih tetap melestarikannya. Selamatan laut atau “Nyelamat Laut” di waktu-waktu tertentu adalah upacara tahunan yang belum terabaikan. Namun dalam pelaksanaan upacara tersebut, selain menggunakan mantra-mantra, mereka pun memadukan dengan doa-doa yang bersifat islami.

Suatu kepercayaan bagi Masyarakat Bajo bahwa tanpa dilaksanakan upacara “Nyelamat Laut”, niscaya ikan-ikan tidak akan naik atau musibah penyakit akan terjadi. Hal inilah yang melatar-belakangi masyarakat Bajo di Awang untuk selalu merayakan upacara “Nyelamat Laut”. []

 



 
KM JONG CELEBES

KM JONG CELEBES

Andi Mulyan Datu Tjondong Dari Kabupaten Soppeng (Sul-Sel) -, tinggal di Selong/Mataram , fb: - Aron Zaan, No. Hp. 085333838169, pendikan Si (sastra perancis -UNHAS),pendidikan : S2 Sosiologi,ngabdi di UNU NTB MATARAM< UGR LOTIM<

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan