logoblog

Cari

Tutup Iklan

Semarak Tradisi Lebaran Topat Pantai Kerandangan

Semarak Tradisi Lebaran Topat Pantai Kerandangan

Masyarakat muslim di Lombok mengenang dua kali lebaran setelah mengaakhiri bulan suci ramdhan. Idul Fitri dirayakan pada 1 Syawal, sedangkan Lebaran

Budaya

ANDI MULYAN
Oleh ANDI MULYAN
23 Juni, 2018 16:25:43
Budaya
Komentar: 0
Dibaca: 1972 Kali

Masyarakat muslim di Lombok mengenang dua kali lebaran setelah mengaakhiri bulan suci ramdhan. Idul Fitri dirayakan pada 1 Syawal, sedangkan Lebaran Topat (ketupat) dirayakan sepekan setelah Bulan Suci Ramadhan, yaitu pada 8 Syawal. Khusus untuk Lebaran Topat, masyarakat muslim di Pulau Lombok mulai melaksanakan sejak ratusan tahun yang silam secara turun-temurun. Agenda tahunan keagamaan ini tidak dimiliki oleh semua kelompok muslim di Indonesia. Bahkan tradisi tahunan ini lebih semarak jika dibandingkan dengan Lebaran Fitri di Pulau Lombok. Mereka melakukan tahlilan di rumah masing-masing, yang selanjutnya diisi dengan berkunjung ke makam wali atau ulama, dan lebih seruhnya lagi ketika bersama keluarga berbondong-bondong ke pantai-pantai dengan membawa ketupat untuk bersantap.

Salah satu pantai yang ikut disemarakkan oleh Lebaran Topat atau Tradisi Topat adalah Pantai Kerandangan. Pantai Kerandangan teletak di sebelah utara dari Pantai Senggi Lombok Barat. Tak jauh dari pantai ini, sebuah makam ulama, yaitu Makam Batu Layar  yang juga menjadi bagian dari momen Tradisi Topat. Ribuan warga masyarakat muslim Lombok berbondong-bondong berkunjung di makam keramat milik Syeikh Duhri Al-Haddad Al-Hadrami, yang kemudian dirangkaikan dengan berekreasi di pantai-pantai terdekat sambil bersantap ketupat bersama keluarga.

Namun bila menjejaki asal-muasal Lebaran Topat di Lombok, Ridwan (60 tahun), seorang pengunjung Pantai Kerandangan bertutur bahwa Tradisi Topat di Lombok pertama kali dilaksankan di Pondok Pesantren Al-Amin Pejeruk, Ampenan, Mataram. Pondok Pesantren tersebut didirikan oleh seorang guru tasawuf, yakni TGH. Musthafa Faisal dan TGH. Muhammad Aminullah Hamid Al-Maliki. Alkisah, ketika para santri diijinkan pulang untuk merayakan Lebaran  Fitri bersama keluarga, dan sepekan kemudian mereka kembali ke Pejeruk (Pondok Pesantren), dan pada saat itulah Tuan Guru di Pondok Pesantren menjamu santri-santrinya dengan ketupat. Dalam hal ini sebuah makna kesyukuran dari Tuan Guru karena santri-santrinya berkumpul kembali. Dari momen itulah Tuan Guru mengajak santri-santrinya untuk merayakan Lebaran Topat, dan sejak itulah Tradisi Topat bermula.

Seiring dengan perkembangan zaman, Tradisi Topat di Pulau Lombok mengalami perkembangan . Selain melakukan tahlilan di rumah masing-masing, mayarakat Lombok juga menggunakan momentum ini untuk berkunjung ke makam para ulama yang memiliki andil dalam penyebaran Islam di Pulau Lombok. Selain itu, mereka berbondong-bondong ke tempat rekreasi sambil bersantap dengan ketupat, seperti di pantai-pantai yang sering dikunjungi oleh para wisatawan.

Ada dua makam ulama di Lombok yang pada tiap tahunnya paling sering dikunjungi oleh kelompok muslim, yaitu Makam Batu Layar dan Makam Loang Baloq. Makam Batu Layar tak jauh dari Pantai Kerandangan Lombok Barat, masyarakat meyakini bahwa makam tersebut adalah milik dari seorang ulama besar dari Bagdad, Irak, yaitu Syeikh Duhri Al-Haddad Al-Hadrami. Sedangkan makam ulama yang terdapat di Loang Baloq , Sekarbela, Mataram, terdiri dari tiga makam ulama besar, yakni Makam  Syekh Maulana Gaus Abdurrazak , anak yatim, dan Datuk Laut.

Menanggapi Tradisi Topat yang sudah menjadi milik masyarakat Lombok, Yopi (59 tahun) bertutur bahwa Tradisi Topat adalah suatu momen kebersamaan dengan keluarga, yang sekaligus dirayakan dengan bersantap ketupat. Lain halnya dengan Pahri (30 tahun) bahwa Lebaran Topat merupakan simbol kebersamaan kembali bersama keluarga setelah menjalankan puasa syawal selama 6 hari, yaitu setelah Hari Raya Idul Fitri, dan agar berasa keakraban dan kebersamaan maka dirayakan dengan bersantap ketupat.Namun bila kita merujuk pada catatan sejarah tentang tardisi pemujaan Dewi Sri yang dimuliakan sejak zaman kuno seperti Maja Pahit dan Pajajaran bahwa ketupat menjadi simbol “maaf” bagi masyarakat jawa. Ketika seseorang disuguhkan ketupat, dan apabila ketupat tersebut dimakan, memberikan arti bahwa pintu maaf telah dibuka dan segala dosa dan salah, serta kekhilafan akan terhapus.

Semarak Lebaran Topat di Pantai Kerandangan terlihat pada antusiasme warga masyarakat yang berkunjung memadati bibir pantai. Mereka menggelar tikar di atas pasir pantai sembari menyantap ketupat bersama keluarga.

 

Baca Juga :


Menikmati suasana pantai pada momen Hari Raya Topat di Pantai Kerandangan, sebagian besar anak-anak menggunakan kesempatan dengan bermain di pantai. Mereka saling berkejar-kejaran di atas pasir hingga ke dalam air laut. Sebagian membiarkan tubuhnya dihempas oleh ombak yang tidak begitu besar, dan mereka saling tertawa sembari saling mendorong hingga terjatuh ke atas pasir atau ke dalam air. Sebagian pula menggali pasir, dan atau menimbun sebagian tubuhnya dengan pasir.

 Momen Hari raya Topat di Pantai Kerandangan juga memberi keuntungan pada tukang parkir, pedagang lapak dan minum, pedagang asongan, bahkan pada pengamen. Demikian juga pada pemilik perahu, mereka menggunakan momen ini dengan menyiapkan perahu dengan tujuan untuk mengantar para pengunjung yang berminat berkeliling pantai. Intinya mereka saling memberi, saling menolong dan meraih hikmad di Hari Raya Topat.

Semarak Tradisi Topat di Pantai Kerandangan juga berdampak pada arus kendaraan di jalan raya. Sejumlah petugas dari pihak kepolisian dikerahkan untuk mengatur lalu lintas agar kendaraan tetap lancar. Tak hanya di jalan raya, keramaian sepeda motor juga terlihat di pintu masuk pantai dan di lahan parkir. []

 



 
ANDI MULYAN

ANDI MULYAN

Andi Mulyan, Tinggal di Kota Mataram Bintang : Aries Hobby : Musik Dangdut dan Menulis

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan