logoblog

Cari

Tutup Iklan

Tradisi Raba di Risa

Tradisi Raba di Risa

Raba adalah sejenis garasi yang dibuat untuk mengelilingi tiap sudut kosong yang terdapat dibawah rumah panggung. masyarakat Bima umumnya,  memanfaatkan Raba sebagai

Budaya

Suparman
Oleh Suparman
19 Juni, 2018 10:05:43
Budaya
Komentar: 0
Dibaca: 2142 Kali

Raba adalah sejenis garasi yang dibuat untuk mengelilingi tiap sudut kosong yang terdapat di bawah rumah panggung. Masyarakat Bima umumnya, memanfaatkan raba sebagai tempat untuk beternak ayam, itik, bebek, dan kambing. Selain itu juga, raba juga sebagai tempat penyimpanan hasil pertanian seperti padi, jagung, dan makanan pokoknya lainnya.

Kegunaan raba juga sangat mirip dengan "Uma Lengge" rumah adat Bima yang masih dipertahankan oleh masyarakat desa Maria Kecamatan Wawo Kabupaten Bima, meskipun terdapat perbedaan yang sangat jauh dari bentuk arsitek dan bentuknya. Raba sengaja dibuat untuk memanfaatkan kolom kosong dibawah rumah panggung.

Bambu merupakan kayu yang menjadi favorit masyarakat untuk membuat garasi yang serba guna, terutama untuk membuat garasi ala Rumah Panggung ini. Sedangkan Uma Lengge, dibuat dari papan dan balok, bentuknya seperti kerucut dan beratapkan alan-alan, sehingga bagian atas sebagai garasi tempat penyimpanan padi dan jagung. Sedangkan bagian bawahnya sebagai tempat ngerumpi dan tempat berkumpul.

Namun, seiring berjalananya waktu, rumah panggung seakan-akan mulai hilang di tengah kehidupan masyarakat Bima, minat masyarakat terhadap rumah ini dipengaruhi oleh hingar bingar pembangunan rumah moderen yang membutuhkan biaya yang sangat mahal.

Syamsudin adalah warga desa Risa Kecamatan Woha Kabupaten Bima, membuat Raba merupakan pekerjaan yang sangat ia sukai. Sebab dengan membuat garasi ini, ia mendapatkan penghasilan tambahan dari warga yang membutuhkan tenaga dan pengalamannya. 

Lelaki satu anak ini, mengakui terlepas dari profesinya sebagai petani, jika musim panen usai, ia dapat memanfaatkan waktu kosongnya sebagai pembuat Raba (Garasi Rumah Panggung).

 

Baca Juga :


"Untuk membuat Raba ini, saya membutuhkan waktu sekitar lima hari untuk menyelesaikan pekerjaan ini," ungkapnya.

Sedangkan untuk upahnya, ia tidak menyebutkan secara rinci nominal yang di dapatkan, tetapi tergantung luas dan kecil Raba yang ia buat.

Masyarakat Risa masih banyak yang mempertahankan rumah warisan leluhur ini, Rumah Kayu ini bukan menjadi tolak ukur antara si miskin dan kaya, tetapi Rumah ini memiliki sejarah peradaban yang besar bagi masyarakat Bima. Serta sekaligus menjadi budaya yang tidak bisa dikaitkan dengan rumah moderen sekarang.



 
Suparman

Suparman

nama Suparman, biasa di panggil Man. lahir di desa O,o Kec. Dompu, Kab. Dompu pada Tanggal 12 Februari 1992. anak pertama dari enam saudara. saya lahir dari pasangan Bapak A. Talib dengan Ny. Uniriyah.

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan