logoblog

Cari

Tutup Iklan

Cara Masyarakat Bima Menentukan Pemimpin

Cara Masyarakat Bima Menentukan Pemimpin

Pada masa lalu, masyarakat Bima memiliki cara dan prinsip dalam menentukan pemimpin. Seorang pemimpin dinilai dari delapan unsur dalam dirinya yang

Budaya

alan malingi
Oleh alan malingi
24 Mei, 2018 07:28:58
Budaya
Komentar: 0
Dibaca: 1666 Kali

Pada masa lalu, masyarakat Bima memiliki cara dan prinsip sendiri dalam menentukan pemimpinnya. Seorang pemimpin dinilai dari delapan unsur dalam dirinya. Delapan unsur tersebut yang dikenal dengan Nggusu Waru. Nggusu berarti sendi atau segi. Sedangkan Waru berarti Delapan. Nggusu Waru adalah delapan visi dan dimensi kepemimpinan bagi masyarakat Bima. Visi itu adalah kristalisasi nilai yang tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat sejak berabad silam. Membaca buku Penguatan Pendidikan Karakter Bebasis Maja Labo Dahu dan Nggusu Waru Karya Drs. H.Anwar Hasnun, saya temukan betapa kayanya filosofi kehidupan orang Bima sejak berabad abad silam. Konsepsi nilai Nggusu Waru atau delapan sendi kepemimpinan bagi masyarakat Bima ternyata telah lahir pada era ncuhi dan era pra islam. Meskipun secara redaksional berbeda, namun makna dan nafasnya tetap sama.

Almarhum Lalu Massir Abdullah yang diwawancari Anwar Hasnun pada tanggal 15 September 1995, mengemukakan bahwa sejak era ncuhi dan kerajaan konsep kepemimpinan Ma Nggusu Waru telah ada dengan anjuran dan ajakan meniru delapan sifat alam yaitu tabe'a dana atau sifat tanah yang sabar, tabe'a oi atau sifat air yang dingin dan sejuk, tabe'a afi atau sifat api yang panas kalau salah dimanfaatkan akan membahayakan, tabe'a angi atau sifat angin yang menyejukkan, tabe'a moti atau laut yang menerima apa saja, tabe'a ura atau sifat hujan membasahi bumi tanpa pamrih, tabe'a liro atau sifat matahari muncul di siang hari dan tabe'a wura atau sifat bulan muncul pada malam hari. Sejalan dengan Massir, saya juga mengupas satu untaian kalimat dengan judul Meneladani Delapan Sifat Alam yang memiliki kesamaan nilai dengan Nggusu Waru yaitu Tanah, air, api, angin, laut, bulan, matahari dan langit. (Baca juga Meneladani Delapan Unsur Alam)

Masih menurut Massir Abdullah, dimensi Nggusu Waru setelah islam berubah kepada sifat kepribadian manusia sesuai tuntunan Alquran dan hadist yaitu Taqwa, londo dou atau keturunan, loa ro bade atau pengetahuan, ruku ro rawi atau tingkah laku, nggahi ro eli atau tutur kata, mori ra woko atau kehidupan, Mbani ro disa atau keberanian dan toa atau taat.

Nggusu Waru menurut M.Saleh Abdullah yang diwawancarai 12 September 1995 adalah Taqwa, Ntau Ilmu atau berilmu, Taho Parange atau sopan santun, Fiki Dou Ma Ore atau memikirkan orang banyak, Londo ro mai atau keturunan, Mori Ra Woko atau kehidupan, sabua nggahi sabua rawi atau satu kata dan perbuatan dan Mbani ro disa atau keberanian.
Nggusu Waru menurut Abubakar Ismail yang diwawancarai pada tanggal 19 September 1995 adalah taqwa, londo dou atau keturunan, loa ro bade atau pengetahuan, ruku ro rawi atau tingkah laku, nggahi ro eli atau tutur kata, mori ra woko atau kehidupan, mbani ro disa atau keberanian dan To'a atau taat.

Sedangkan secara tekstual, Nggusu Waru yang menjadi adab ketatanegaraan dalam kesultanan Bima adalah sebagaimana tertuang dalam kitab jawharah Al Ma rif yang diterjemahkan oleh Muhlis dan Dr.Hj.Siti Maryam Salahuddin dengan judul Permata Kearifan Dari Naskah Kuno Kesultanan Bima Jawharah
Al Ma'rif ( 2011 :110-111) yaitu Dou ma dei ro paja ilmu( berilmu pengetahuan), dou ma dahu di ruma( orang yang takut kepada tuhan), dou ma taho ruku ro rawi( orang yang baik tingkah laku), londo ro mai( keturunan), dou ma dodo tando tambari kontu( orang yang melihat kedepan dan tengok ke belakang), dou ma mbeca wombo( basah kolong rumah atau kaya), dou ma sabua nggahi labo rawi( orang yang satu kata dengan perbuatan) dou ma disa kai ma poda( berani karena benar.

Jawharat Al Ma rif ditulis oleh Haji Nurhidayatullah Al Mansyur Muhammad Syuju udin pada akhir April 1882. isi Jawharat Al Ma'rif berupa petunjuk, perintah dan larangan kepada sultan dan pembesar negeri sesuai tuntunan Alquran dan Sunnah dan di dalamnya memuat dasar dasar nilai sebagaimana tertuang dalam Nggusu Waru.

 

Baca Juga :


Serpihan kenangan perjalanan panjang filosofi Nggusu Waru kini masih dapat kita lihat baik dalam bentuk bangunan, motif tenun, motif ukiran hingga motif nisan. Di periode awal kesultanan Bima, filosofi Nggusu Waru sangat kuat hingga makam para pembesar pun bermotif Nggusu Waru seperti yang ada di Dana Taraha, pulau Kambing, makam Tolobali dan sebaran makam di sepanjang Ule hingga Kolo Kota Bima.

Nggusu Waru adalah konsep ide dan gagasan cemerlang dari leluhur Dana Mbojo bahwa pemimpin dan kepemimpinan itu harus memenuhi delapan butir sebagaimana yang tertuang dalam Nggusu Waru. Seorang pemimpin yang memenuhi delapan kriteria Nggusu Waru adalah luar biasa, namun di tengah godaan zaman hedonis saat ini cukuplah pemimpin yang memenuhi empat unsur yaitu taqwa, Beilmu pengetahuan, merakyat dan konsisten.

Penulis : Alan Malingi

Kontak WA : 08123734986



 
alan malingi

alan malingi

blogger dan penulis asal Bima-NTB. Kontak : 08123734986-0811390858. Kunjungi juga www.bimasumbawa.com dan www.alanmalingi.wordpress.com.Facebook, WA, Twitter dan Instagram Alan Malingi.

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan