logoblog

Cari

Tutup Iklan

Adat Gama (Jalan Pemberadaban Dan Media Membumikan Islam)

Adat Gama (Jalan Pemberadaban Dan Media  Membumikan Islam)

ADAT GAMA (Jalan Pemberadaban dan Media Membumikan Islam) Edward Burnett Tylor adalah akademisi sekaligus budayawan yang pertama kali merumuskan pengertian kebudayaan

Budaya

Amrul Arahap,M.Pd
Oleh Amrul Arahap,M.Pd
25 April, 2018 10:45:35
Budaya
Komentar: 0
Dibaca: 7650 Kali

ADAT GAMA

(Jalan Pemberadaban dan Media Membumikan Islam)

Edward Burnett Tylor adalah akademisi sekaligus budayawan yang pertama kali merumuskan pengertian kebudayaan secara sistematis dan ilmiah. Dalam bukunya yang berjudul Primitive Culture (1871), E.B Tylor menjelaskan bahwa kebudayaan adalah keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung ilmu pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan yang lain serta kebiasaan yang didapat oleh manusia sebagai anggota masyarakat. Jika mengacu dari pendapat ini dapat disumpulkan bahwa adat merupakan  salah satu bagian dari kebudayaan.

Adat adalah kebiasaan perilaku yang dijumpai secara turun-temurun atau kebiasaan yang diturut dari nenek moyang sejak dahulu kala.  Salah satu warisan nenek moyang yang terdapat di Pengadangan adalah Adat Gama. Gama adalah kata yang berasal dari singkatan kata agama. Dengan demikian, dapat diartikan bahwa Adat Gama adalah kebiasaan perilaku  atau perilaku berbudaya leluhur Desa Pengadangan yang bersumber dari ajaran agama.

Latar Belakang Lahirnya Adat Gama

Ketika bangunan masjid telah selesai, Sri Ketip Manggala bersama rombongan  mulai megajarkan kembali Agama Islam secara perlahan. Metode pengajaran yang digunakan bersifat induktif, dari dalam ke luar. Artinya, ilmu Islam yang diajarkan mulai dari tingkatan ilmu batin. Uforia menyambut kedatangan Islam sepertinya berlangsung singkat. Seiring berjalannya waktu semangat masyarakat untuk belajar mulai menurun (surut mara).

Masyarakat lebih tertarik pada upacara-upacara yang bersifat seremoni. Ketertarikan inilah yang mengaburkan perhatian masyarakat pada pentingnya ilmu agama. Dalam keadaan seperti inilah tercetus gagasan dari Sri Ketip Manggala dan Mangkubumi untuk menggbungkan ajaran agama dengan upacara-upacara seremoni tersebut (upacara adat). Berdasrkan hasil perenungan, akhirnya dikawiknanlah ajaran agama dan adat tanpa menghilangkan esensi atau inti sari dari ajaran agama.  Pengawinan ini bertujuan untuk merangsang kembali ketertarikan masyarakat mempelajari ilmu agama.

Ajaran-ajaran Islam dikemas dalam bentuk kebiasaan-kebiasaan atau perilaku berbudaya masyarakat. Misalnya, peringtan hari kelahiran nabi, upacara perkawinan, melahirkan, kematian dan berbagai upacara adat lain merupakan simbol atau representasi dari ajaran Islam. Perpaduan antara ajaran agama dan adat sepertinya menjadi cara yang efektif. Masyarakat mulai terangsang dan bisa memahami ajaran Islam dengan cara yang lebih mudah dan sederhana.  Secara garis besar Adat Gama di Desa Pengadangan terdiri dari:

 

Baca Juga :


  1. Gawe Idup
  2. Gawe Mate;
  3. Gawe Keagamaan
  4. Gawe Untuk Lingkungan Hidup

Gawe dalam bahasa Sasak memiliki arti acara yang dilakukan oleh sekolmpok masyarakat tertentu. Adapun tujuan dari  Gawe atau upacara adat di Desa Pengadangan :

  1. Memohon keselamatan dunia akhirat bagi yang masih hidup atau yang sudah meninggal:
  2. Menyambung silaturahmi bagi ahli waris, sahabat dan kerabat; dan
  3. Memperluas amal.

Proses pelaksanaan Adat Gama Di Desa Pengadangan  merepresentasikan kolaborasi yang padu (seayun selangkah) antara agama, budaya dan manusia. Tiap-tiap proses serta perlengkapan pelaksanaan  Adat Gama adalah bentuk menifestasi dan simbol dari ajaran Islam. Misalnya, Dulang (nampan yang berisi makanan, biasanya disajikan pada para tamu).  Para tetua Desa Pengadangan mengartikan Dulang sebagai singkatan dari kalimat Dua Langan (Dua Jalan). Jalan yang dimaksud adalah Syahadat Tauhid dan Syahadat Rasul . Bahkan tata cara pembuatan Dulang dan susunan makanan di dalamnya adalah simbol dari Islam (Sufisme).

Membuat Dulang Kakenan diawali  dengan menaruh piring ketan tepat di tengah-tengah nampan, kemudian disertai makanan lainnya.  Ketan di tengah itu dinamakan Tatal/ Taltal merupakan simbol ilmu bagi orang ma’rifah. Ilmu Taltal adalah orang yang bisa melihat keluar dan ke dalam. Inilah bentuk representasi dan manifestasi yang maksud. Dan dengan cara seperti inilah nenek moyang masyarakat Pengadangan belajar ilmu agama.

Dalam konteks waktu, Adat Gama sebagai rumah tanda dan  makna hendaknya jangan ditafsirkan secara linier karena akan menimbulkan paradigma bahwa adat adalah “barang” usang yang hanya identik dengan masa lalu. Penafsiran seperti inilah yang kemudian dapat mengabaikan perkakas tersirat yang terdapat dalam tubuh adat. Misalnya,  nilai-nilai keraifan lokal, falsafah mengenai pandangan hidup, tata-krama, tata bertutur, yang kesemuanya ini dapat menjadi dayung dan sampan bagi generasi muda untuk mengarungi lautan peradaban yang semakin hari  semakin ganas. []

 



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan