logoblog

Cari

Pengadangan (Nodulus Yang Lahir Dari Rahim Islam)

Pengadangan (Nodulus Yang Lahir Dari Rahim Islam)

PENGADANGAN (Nodulus Yang Lahir Dari Rahim Islam)   Sejarah adalah  cermin masa  lampau yang tidak bisa memantulkan seluruh bagian secara utuh

Budaya

Amrul Arahap,M.Pd
Oleh Amrul Arahap,M.Pd
23 April, 2018 09:47:29
Budaya
Komentar: 0
Dibaca: 29087 Kali

PENGADANGAN

(Nodulus Yang Lahir Dari Rahim Islam)

Sejarah adalah  cermin masa  lampau yang tidak bisa memantulkan seluruh bagian secara utuh dan sempurna. Dalam konteks ilmu dan pengetahuan, sejarah bisa berkedudukan sebagai pristiwa dan ilmu. Perbedaan versi, mitos, fakta keras dan fakta lunak adalah batang tubuh ilmu sejarah. Terlebih lagi, sejarah banyak mengungkapkan kejadian masa lampau yang sulit berterima, kadang membangkitkan amarah karena penindasan-penindasan, kadang melahirkan  rasa sukuisme dan berbangga diri. Oleh karena itu, sudah seyogyanya membaca sejarah haruslah disertai dengan perasaan yang arif dan bijaksana.

Sejarah Pengadangan adalah labirin yang sangat sukar untuk ‘ditelanjangi’ secara logik dan gamblang. Sebelum bernama Pengadangan desa ini memiliki sejarah yang amat panjang. Pada awalnya desa  ini bernama Samarkaton, Syahadatain, Presaq, Odang, Kalkandangan,  kemudian barulah  menjadi Pengadangan. Dalam Babad Selaparang nama Pengadangan disebut dalam Puh 17 (Puh Asmaran): “Patih Pilo kembali ke Selaparang  melalui Parowa dan Pengadangan dengan membawa barang, gadis dan kuda persembahan.” Kutipan ini membuktikan bahwa nama Pengadangan sudah ada sejak Kerajaan Selaparang.

Bahri dalam bukunya yang berjudul “Tokoh Dan Sejarah Perkembangan Islam Lombok”   dengan lugas menyata-tegaskan bahwa Pengadangan adalah salah satu desa yang menjadi pusat penyebaran agama Islam di Pulau Lombok (Bahri, 2010: 89-97). Pernyataan ini bukanlah tanpa dasar melainkan dapat dibuktikan dengan banyaknya makam para alim ulama tersohor  yang terdapat di Pengadangan. Misalnya, Makam Songopati, Bibi Cili, Sri Ketip Menganti, Sandubaya, dan Guru Bulet.

Terdapat tenggang waktu yang sangat lama dari Samarkaton  ke Syahadatain. Namun, kerena berbagai keterbatasan, tenggang waktu itu belum bisa kami ‘sajikan’. Terlebih lagi mengenai Samarkaton, sesuai dengan artinya gaib tapi nyata,  seru laguq pedas. Samarkaton memang berdandan berbagai keganjilan dan keanehan. Selain itu, dari zaman dahulu dan hampir sampai sekarang masyarakat Pengadangan lebih senang dengan budaya ‘dengar-ucap’ dari pada budaya menulis. Inilah yang kemudian menyebabkan minimnya dasar pembuktian.

Berdasarkan cerita tetua desa, konon ketika masih bernama Samarkaton, penduduk desa yang normal tidak bisa lebih dari 44 orang selebihnya, pasti mengalami cacat seperti, tuna wicara, tuna rungu, dll.  Pada waktu itu, bayi-bayi yang lahir langsung menjadi tangguh (kebal senjata tajam), jika bayi yang lahir tidak tangguh, maka dapat dipastikan bayi tersebut bukanlah keturunan asli Samarkaton. Menurut cerita yang berkembang, Samarkaton juga terkenal sebagai pusat bersmedi para raja dan alim ulama, bahkan di luar Pengadangan,  Samarkaton atau Pengadangan disebut-sebut sebagai pintu masuknya alam gaib.

Situasi masyarakat yang tak-bertatanan, berpikir dan berperilaku berdasarkan perenungan-perenungan terhadap hal-hal mistis (gaib) merupakan sedikit gambaran mengenai kondisi masyarakat sebelum kedatangan Islam. Setelah masuknya Agama Islam, terjadilah perubahan yang signifikan. Pola hidup perlahan meninggalkan kemistisan alam, upacara-upacara yang menyimpang dari ajaran Islam mulai jarang dilakukan.

Songopati, inilah tokoh pertama yang meng-Islamkan penduduk Samarkaton. Beliau adalah alim ulama yag datang dari Jawa dan membawa risalah Islam. Proses peng-Islaman ini kemudian diabadikan dengan digantinya nama Samarkaton menjadi Syahadatain (sekarang menjadi Sukatain). Ketika masyarakat Syahadatain sedang senang-senangnya menikmati kedamaian yang dibawa oleh Islam, Songopati tiba-tiba menghilang. Konon pada saat Songopati menghilang  proses Islamisasi belum tuntas. Murid yang diangkat untuk menjadi Badal (penerus ajaran) juga belumlah mengerti tentang sari pati ajaran Islam. Keadaan inilah yang kemudian membuat masyarakat kembali pada kepercayaan mistis dan menjadikan adat sebagai sumber nilai utama.

Bukti mengenai keberadaan Syahadatain adalah pondasi bangunan masjid pertama yang masih sampai hari ini. Bukti lainnya adalah  ditemukannya tiga batu di pondasi masjid tersebut. Batu pertama bertuliskan kata ALHAMDU dan batu kedua merupakan tempat bersujud,  serta batu ketiga adalah tempat duduk ketika sedang mengajarkan ilmu agama.

Situasi masyarakat yang tidak bisa berkembang, bencana alam, wabah penyakit, serta peperangan membuat masyarakat Syahadatain sepakat untuk pindah dan mencari pemukiman baru. Penduduk yang hanya terdiri dari 44 orang itu, kemudian mendiami sebuah tempat yang bernama Presaq. Untuk mengembalikan semangat dan rasa ke-Islaman, di tempat ini kemudian dibangunlah sebuah masjid. Namun sepertinya keberadaan masjid ini belum bisa mengemblikan kedamaian Islam seperti yang dulu.

Setelah beberapa waktu keadaan belum juga berubah, jumlah penduduk terus berkurang karena wabah penyakit. Kemudian, pada suatu hari datanglah angin puting beliung yang menerbangkan kubah masjid ke sebuah tempat yang bernama Odang. Setelah bermusyawarah, semua penduduk akhirnya sepakat untuk pindah ke Odang.  

Setelah proses yang panjang dan sepertinya begitu melelahkan, akhirnya  pada suatu malam Sri Ketip Menganti (Amq Lebe) bermimpi bahwa akan datang suatu rombongan  yang akan meneruskan ajaran Islam dan membawa berbagai perkakas kehidupan yang dapat merubah keadaan. Mimpi inilah yang kemudian diyakini Menganti dan dengan sabar tetap menunggu kedatangan rombongan tersebut. Setelah penantian yang cukup lama, akhirnya mimpi Menganti ini menjadi kenyataan.

Pada suatu hari yang telah ditentukkan, Sri Ketip Menganti bersama semua warga naik ke dataran yang lebih tinggi untuk menunggu rombongan yang telah dijanjikan. Kemudian Sri Kerip Menganti memerintahkan masyarakat untuk menunggu di sebuah tempat lapang (tengah-tengah desa).  Sri Ketip Menganti sendiri pergi menunggu rombongan tersebut dipinggir kali. Semua masyarakat menunggu dengan cemas dan penuh harap. Akhirnya, setelah beberapa lama,  dari kejauhan dilihatlah rombongan orang-orang berjubah yang dibawa oleh Sri Ketip Menganti. Proses inilah yag kemudian melahirkan nama Pengadangan.

Kata Pengadangan lahir dari proses penghadangan Sri Ketip Manggala (ahli agama) bersama rombongan  yang terdiri dari Mangkubumi (ahli adat) Demung Astawa, Demung Sentani, Demung Ratjaya (masing-masing adalah ahli rencana) dan Demung Bukal (ahli kesaktian). Rombongan ini berasal dari Jawa dan memang bertujuan untuk datang ke Lombok mencari sebuah tempat. Konon, perintah untuk mencari sebuah tempat didapatkan  Sri Ketip Manggala dalam tafakurnya. Pada waktu itu, satu-satunnya pelabuhan di Lombok adalah Pelabuhan Carik, di pelabuhan inilah rombongan tersebut bersandar dan singgah di Bayan. Selama singgah di Bayan, Sri Ketip Manggala mengajarkan kitab Bayanul Alif sambil mencari kepastian mengenai keberadaan sebuah tempat yang ada dalam tafakurnya. Perjalanan rombongan ini kemudian dilanjutkan ke Sembah Ulun (Sembalun). Sama seperti di Bayan, sambil mencari informasi mengenai tempat yang ada dalam tafakurnya, di Sembah Ulun Sri Ketip Manggala mengajarkan Kitab Bayanullah.

Perjalanan rombongan ini kemudian dilanjutkan ke utara, sampai ditemukanlah sebuah kali yang bernama kali Blimbing. Rombongan ini kemudian berjalan mengikuti aliran air anak kali tersebut (Arung Radeng). Akhirnya, sampailah rombongan ini pada suatu tempat yang sama persis dengan tempat yang ada dalam tafakur Sri Ketip Manggala. Di tempat ini ia telah ditunggu oleh oleh Sri Ketip Menganti. Sri Ketip Menganti  kemudian menghamipiri rombongan Sri Ketip Manggala sambil bertanya, “Andakah yang kami tunggu?” Sri Ketip Manggala kemudian menjawab “Ya”.

Sri Ketip Menganti kemudian mempersilahkan rombongan tersebut untuk berjalan ke tengah-tengah desa. Ketika rombongan yang dibawa oleh Sri Ketip Menganti sampai di tengah desa, masyarakat banyak yang telah lama menunggu langsung menyambut dengan gegap gempita kebahagiaan. Pristiwa itu kemudian diabadikan dengan pemberian nama dua tempat. Arah datangnya Sri Ketip Manggala dan rombongan diberikan nama Liwatan dan  tempat terjadinya proses penghadangan oleh masyarakat luas diberikan nama Pengadangan.

Di Pengadangan Sri Ketip Manggala kemudian mengawinkan ajaran yang telah diajarkan di Bayan dan Sembah Ulun (Bayanul Alif dan Bayanullah). Pada waktu itu,  situasi masyarakat masih acuh terhadap ajaran agama, oleh karena itu, untuk merangsang ketertarikan masyarakat, proses pengajaran ini dibungkus dalam bentuk upacara-upacara adat. Proses inilah yang kemudian melahirkan Adat Gama.

Benda-benda yang dibawa oleh rombongan Sri Ketip Manggala beserta rombongan:  

  1. Kitab-Kitab Al Qur-An
  2. Kitab-Kitab Fiq Menurut Iman Syafi’i;
  3. Kitab Tauhid Usuluddin Menurut Aliran Asy’aridanmaturiadi;
  4. Kitab-Kitab kewalian yang yang terdiri dari, Bayanul alif, Bayanullah, Bayanuiraabi dan Kitab  Nuqthah qa’ib, empat serangkai kitab ini isi kandungannya berkisar pada rahasia ketuhanan, rahasia kemanusiaan,rahasia ilmu  dan amal ibadah, serta rahasia asal usul kejadian (fitrah);
  5. Khotbah-khotbah yang terdiri dari, Kotbah jum,at, Kotbah hari raya idul fitri dan Kotbah hari raya idul adha;
  6. Jungkat berbentuk tombak sebanyak tiga buah yang berfungsi sebagai tongkat/perlengkapan khotib;
  7. Dua setel jubah untuk pakaian khotib dan imam pada hari raya idul fitri dan hari raya idul adha;
  8. Dua lembar sebean (sajadah); dan
  9. Pisau yang khusus digunakan untuk meyembeleh ternak yang di sebut (ladik sembelehan) sebanyak dua buah.

Sebagian besar benda-benda tersebut masih disimpan para tetua desa sampai sekarang. Namun, karena perubahan tongkat generasi, kitab-kitab yang dibawa oleh Sri Ketip Manggala beserta rombongan telah hilang. Ada beberapa pendapat  yang berkaitan dengan keberadaan kitab-kitab ini. Akan tetapi, karena berbagai pertimbangan pendapat-pendapat itu tidak bisa kami ungkapkan.

Langkah pertama yang dilakukan Sri Ketip Manggala adalah mengajak seluruh masyarakat untuk pindah ke dataran yang lebih tinggi, yakni tepat di sekitar proses pengahadangan. Kemudian diajaklah masyarakat untuk bersama-sama mendirikan sebuah masjid. Masing-masing warga kemudian membagi diri untuk mencari berbagai bahan dan perlengkapan untuk pendirian masjid tersebut. Beberapa orang mencari kayu, lalu yang lainnya mencari ilalang, batu, bambu, dan berbagai bahan lainnya.  Karena kerja sama yang baik dari seluruh masyarakat tidak butuh waktu lama masjid tersebut akhirnya berdiri gagah menatap langit.

            BENTUK FISIK DAN MAKNA SIMBOLIS BANGUNAN MASJID

Pada bagian dalam masjid terdapat satu tiang (tunjeng) yang terletak tepat di tengah dan berdiri tegak lurus langsung sampai ke kubah masjid. Tiang ini tidak tertancap di tanah melainkan pada lantai masjid. Tiang ini kemudian diapit oleh empat buah tiang lainnya yang disebut  tiang “Soko Guru” (tidak sampai ke kubah masjid).  Di atas kelima tiang ini kemudian diletakkan dua buah kayu sebagai penghubung antara tiang satu dengan tiang yang lain (jejait). Pada  setiap persendian dan tiang-tiang itu dilapisi kain berwarna putih buatan masyarakat setempat yang disebut bebasaq. Tiang tunjeng dan Soko Guru ini juga  dikelilingi oleh 44 buah tiang yang terletak di sekitar ruangan masjid. Masjid ini juga dilengkapi oleh enam buah jendela dan 144 buah usuk (waras).

Berdasarkan ceritra dan kajian beberapa tulisan, dapat diketahui makna dari setiap bagian-bagian bangunan masjid seperti berikut ini.

  1. Empat buah tiang Soko Guru melambangkan:
  1. Kesatuan dari syariat, tarekat, hakekat dan makrifat
  2. Kesatuan dari Islam, Ihsan, iman, dan tauhid
  3. Kesatuan paham empat imam (ahlussunnah wal jamaah)
  4. Fitrah manusia yang berasal dari tanah, air, api dan angin
  5. Hidup dengan melihat, mendengar, mencium dan merasakan;
  1. Tiang Satu (tunjeng) melambangkan hidup yang hanya menuju satu arah yakni Allah SW;
  2. Tiang keliling sebanyak 44 buah melambangkan syarat syah mendirikan shalat Juma’at;
  3. Dua jendela yang mengapit pintu melambangkan mata dan dua jendela yang bearada di samping kiri dan kanan melambangkan telinga, dan duah buah jendela yang mengapit mimbar melambangkan hidung;
  4. Usuk (waras) yang berjumlah 144 buah merupakan lambang petunjuk batas waktu terlama dalam berkhalwat bagi orang yang ingin menyelidiki rahasia yang terekandung dalam empat  buah kitab kewalian seperti yang disebutkan di atas, dan  merupakan soko guru ilmu kewalian; dan
  5. Dua deret kayu palang (jejait) melambangkan tegaknya kehidupan yang berpegang teguh pada hubungan dengan ALLAH dan hubungan sesama manusia.

Versi lain mennyatakan, bahwa Pengadangan berasal dari kata PEGEDUNGAN. Pegedungan berarti tempat berkumpul, gudang tempat menyimpan sesuatu (benda, ilmu). Berdasarkan keterangan dari beberapa narasumber, dulu Pengadangan pernah dinugrahi kehormatan oleh Kerajaan Selaparang sebagai tempat penyimpanan benda pusaka.  Pendapat ini juga tidak bisa dikesampingkan begitu saja, karena jika kita telaah kembali, sekarang ini di Pengadangan terdapat beragam benda pusaka, misalnya, Keris Engkong 17, Kris Mayang Mekar Turunan Rinjani, Ladik Semblean, Dll.  

PENGADANGAN

(Nodulus Yang Lahir Dari Rahim Islam)

 

Baca Juga :


 

Sejarah adalah  cermin masa  lampau yang tidak bisa memantulkan seluruh bagian secara utuh dan sempurna. Dalam konteks ilmu dan pengetahuan, sejarah bisa berkedudukan sebagai pristiwa dan ilmu. Perbedaan versi, mitos, fakta keras dan fakta lunak adalah batang tubuh ilmu sejarah. Terlebih lagi, sejarah banyak mengungkapkan kejadian masa lampau yang sulit berterima, kadang membangkitkan amarah karena penindasan-penindasan, kadang melahirkan  rasa sukuisme dan berbangga diri. Oleh karena itu, sudah seyogyanya membaca sejarah haruslah disertai dengan perasaan yang arif dan bijaksana.

Sejarah Pengadangan adalah labirin yang sangat sukar untuk ‘ditelanjangi’ secara logik dan gamblang. Sebelum bernama Pengadangan desa ini memiliki sejarah yang amat panjang. Pada awalnya desa  ini bernama Samarkaton, Syahadatain, Presaq, Odang, Kalkandangan,  kemudian barulah  menjadi Pengadangan. Dalam Babad Selaparang nama Pengadangan disebut dalam Puh 17 (Puh Asmaran): “Patih Pilo kembali ke Selaparang  melalui Parowa dan Pengadangan dengan membawa barang, gadis dan kuda persembahan.” Kutipan ini membuktikan bahwa nama Pengadangan sudah ada sejak Kerajaan Selaparang.

Bahri dalam bukunya yang berjudul “Tokoh Dan Sejarah Perkembangan Islam Lombok”   dengan lugas menyata-tegaskan bahwa Pengadangan adalah salah satu desa yang menjadi pusat penyebaran agama Islam di Pulau Lombok (Bahri, 2010: 89-97). Pernyataan ini bukanlah tanpa dasar melainkan dapat dibuktikan dengan banyaknya makam para alim ulama tersohor  yang terdapat di Pengadangan. Misalnya, Makam Songopati, Bibi Cili, Sri Ketip Menganti, Sandubaya, dan Guru Bulet.

Terdapat tenggang waktu yang sangat lama dari Samarkaton  ke Syahadatain. Namun, kerena berbagai keterbatasan, tenggang waktu itu belum bisa kami ‘sajikan’. Terlebih lagi mengenai Samarkaton, sesuai dengan artinya gaib tapi nyata,  seru laguq pedas. Samarkaton memang berdandan berbagai keganjilan dan keanehan. Selain itu, dari zaman dahulu dan hampir sampai sekarang masyarakat Pengadangan lebih senang dengan budaya ‘dengar-ucap’ dari pada budaya menulis. Inilah yang kemudian menyebabkan minimnya dasar pembuktian.

Berdasarkan cerita tetua desa, konon ketika masih bernama Samarkaton, penduduk desa yang normal tidak bisa lebih dari 44 orang selebihnya, pasti mengalami cacat seperti, tuna wicara, tuna rungu, dll.  Pada waktu itu, bayi-bayi yang lahir langsung menjadi tangguh (kebal senjata tajam), jika bayi yang lahir tidak tangguh, maka dapat dipastikan bayi tersebut bukanlah keturunan asli Samarkaton. Menurut cerita yang berkembang, Samarkaton juga terkenal sebagai pusat bersmedi para raja dan alim ulama, bahkan di luar Pengadangan,  Samarkaton atau Pengadangan disebut-sebut sebagai pintu masuknya alam gaib.

Situasi masyarakat yang tak-bertatanan, berpikir dan berperilaku berdasarkan perenungan-perenungan terhadap hal-hal mistis (gaib) merupakan sedikit gambaran mengenai kondisi masyarakat sebelum kedatangan Islam. Setelah masuknya Agama Islam, terjadilah perubahan yang signifikan. Pola hidup perlahan meninggalkan kemistisan alam, upacara-upacara yang menyimpang dari ajaran Islam mulai jarang dilakukan.

Songopati, inilah tokoh pertama yang meng-Islamkan penduduk Samarkaton. Beliau adalah alim ulama yag datang dari Jawa dan membawa risalah Islam. Proses peng-Islaman ini kemudian diabadikan dengan digantinya nama Samarkaton menjadi Syahadatain (sekarang menjadi Sukatain). Ketika masyarakat Syahadatain sedang senang-senangnya menikmati kedamaian yang dibawa oleh Islam, Songopati tiba-tiba menghilang. Konon pada saat Songopati menghilang  proses Islamisasi belum tuntas. Murid yang diangkat untuk menjadi Badal (penerus ajaran) juga belumlah mengerti tentang sari pati ajaran Islam. Keadaan inilah yang kemudian membuat masyarakat kembali pada kepercayaan mistis dan menjadikan adat sebagai sumber nilai utama.

Bukti mengenai keberadaan Syahadatain adalah pondasi bangunan masjid pertama yang masih sampai hari ini. Bukti lainnya adalah  ditemukannya tiga batu di pondasi masjid tersebut. Batu pertama bertuliskan kata ALHAMDU dan batu kedua merupakan tempat bersujud,  serta batu ketiga adalah tempat duduk ketika sedang mengajarkan ilmu agama.

Situasi masyarakat yang tidak bisa berkembang, bencana alam, wabah penyakit, serta peperangan membuat masyarakat Syahadatain sepakat untuk pindah dan mencari pemukiman baru. Penduduk yang hanya terdiri dari 44 orang itu, kemudian mendiami sebuah tempat yang bernama Presaq. Untuk mengembalikan semangat dan rasa ke-Islaman, di tempat ini kemudian dibangunlah sebuah masjid. Namun sepertinya keberadaan masjid ini belum bisa mengemblikan kedamaian Islam seperti yang dulu.

Setelah beberapa waktu keadaan belum juga berubah, jumlah penduduk terus berkurang karena wabah penyakit. Kemudian, pada suatu hari datanglah angin puting beliung yang menerbangkan kubah masjid ke sebuah tempat yang bernama Odang. Setelah bermusyawarah, semua penduduk akhirnya sepakat untuk pindah ke Odang.  

Setelah proses yang panjang dan sepertinya begitu melelahkan, akhirnya  pada suatu malam Sri Ketip Menganti (Amq Lebe) bermimpi bahwa akan datang suatu rombongan  yang akan meneruskan ajaran Islam dan membawa berbagai perkakas kehidupan yang dapat merubah keadaan. Mimpi inilah yang kemudian diyakini Menganti dan dengan sabar tetap menunggu kedatangan rombongan tersebut. Setelah penantian yang cukup lama, akhirnya mimpi Menganti ini menjadi kenyataan.

Pada suatu hari yang telah ditentukkan, Sri Ketip Menganti bersama semua warga naik ke dataran yang lebih tinggi untuk menunggu rombongan yang telah dijanjikan. Kemudian Sri Kerip Menganti memerintahkan masyarakat untuk menunggu di sebuah tempat lapang (tengah-tengah desa).  Sri Ketip Menganti sendiri pergi menunggu rombongan tersebut dipinggir kali. Semua masyarakat menunggu dengan cemas dan penuh harap. Akhirnya, setelah beberapa lama,  dari kejauhan dilihatlah rombongan orang-orang berjubah yang dibawa oleh Sri Ketip Menganti. Proses inilah yag kemudian melahirkan nama Pengadangan.

Kata Pengadangan lahir dari proses penghadangan Sri Ketip Manggala (ahli agama) bersama rombongan  yang terdiri dari Mangkubumi (ahli adat) Demung Astawa, Demung Sentani, Demung Ratjaya (masing-masing adalah ahli rencana) dan Demung Bukal (ahli kesaktian). Rombongan ini berasal dari Jawa dan memang bertujuan untuk datang ke Lombok mencari sebuah tempat. Konon, perintah untuk mencari sebuah tempat didapatkan  Sri Ketip Manggala dalam tafakurnya. Pada waktu itu, satu-satunnya pelabuhan di Lombok adalah Pelabuhan Carik, di pelabuhan inilah rombongan tersebut bersandar dan singgah di Bayan. Selama singgah di Bayan, Sri Ketip Manggala mengajarkan kitab Bayanul Alif sambil mencari kepastian mengenai keberadaan sebuah tempat yang ada dalam tafakurnya. Perjalanan rombongan ini kemudian dilanjutkan ke Sembah Ulun (Sembalun). Sama seperti di Bayan, sambil mencari informasi mengenai tempat yang ada dalam tafakurnya, di Sembah Ulun Sri Ketip Manggala mengajarkan Kitab Bayanullah.

Perjalanan rombongan ini kemudian dilanjutkan ke utara, sampai ditemukanlah sebuah kali yang bernama kali Blimbing. Rombongan ini kemudian berjalan mengikuti aliran air anak kali tersebut (Arung Radeng). Akhirnya, sampailah rombongan ini pada suatu tempat yang sama persis dengan tempat yang ada dalam tafakur Sri Ketip Manggala. Di tempat ini ia telah ditunggu oleh oleh Sri Ketip Menganti. Sri Ketip Menganti  kemudian menghamipiri rombongan Sri Ketip Manggala sambil bertanya, “Andakah yang kami tunggu?” Sri Ketip Manggala kemudian menjawab “Ya”.

Sri Ketip Menganti kemudian mempersilahkan rombongan tersebut untuk berjalan ke tengah-tengah desa. Ketika rombongan yang dibawa oleh Sri Ketip Menganti sampai di tengah desa, masyarakat banyak yang telah lama menunggu langsung menyambut dengan gegap gempita kebahagiaan. Pristiwa itu kemudian diabadikan dengan pemberian nama dua tempat. Arah datangnya Sri Ketip Manggala dan rombongan diberikan nama Liwatan dan  tempat terjadinya proses penghadangan oleh masyarakat luas diberikan nama Pengadangan.

Di Pengadangan Sri Ketip Manggala kemudian mengawinkan ajaran yang telah diajarkan di Bayan dan Sembah Ulun (Bayanul Alif dan Bayanullah). Pada waktu itu,  situasi masyarakat masih acuh terhadap ajaran agama, oleh karena itu, untuk merangsang ketertarikan masyarakat, proses pengajaran ini dibungkus dalam bentuk upacara-upacara adat. Proses inilah yang kemudian melahirkan Adat Gama.

Benda-benda yang dibawa oleh rombongan Sri Ketip Manggala beserta rombongan:  

  1. Kitab-Kitab Al Qur-An
  2. Kitab-Kitab Fiq Menurut Iman Syafi’i;
  3. Kitab Tauhid Usuluddin Menurut Aliran Asy’aridanmaturiadi;
  4. Kitab-Kitab kewalian yang yang terdiri dari, Bayanul alif, Bayanullah, Bayanuiraabi dan Kitab  Nuqthah qa’ib, empat serangkai kitab ini isi kandungannya berkisar pada rahasia ketuhanan, rahasia kemanusiaan,rahasia ilmu  dan amal ibadah, serta rahasia asal usul kejadian (fitrah);
  5. Khotbah-khotbah yang terdiri dari, Kotbah jum,at, Kotbah hari raya idul fitri dan Kotbah hari raya idul adha;
  6. Jungkat berbentuk tombak sebanyak tiga buah yang berfungsi sebagai tongkat/perlengkapan khotib;
  7. Dua setel jubah untuk pakaian khotib dan imam pada hari raya idul fitri dan hari raya idul adha;
  8. Dua lembar sebean (sajadah); dan
  9. Pisau yang khusus digunakan untuk meyembeleh ternak yang di sebut (ladik sembelehan) sebanyak dua buah.

Sebagian besar benda-benda tersebut masih disimpan para tetua desa sampai sekarang. Namun, karena perubahan tongkat generasi, kitab-kitab yang dibawa oleh Sri Ketip Manggala beserta rombongan telah hilang. Ada beberapa pendapat  yang berkaitan dengan keberadaan kitab-kitab ini. Akan tetapi, karena berbagai pertimbangan pendapat-pendapat itu tidak bisa kami ungkapkan.

Langkah pertama yang dilakukan Sri Ketip Manggala adalah mengajak seluruh masyarakat untuk pindah ke dataran yang lebih tinggi, yakni tepat di sekitar proses pengahadangan. Kemudian diajaklah masyarakat untuk bersama-sama mendirikan sebuah masjid. Masing-masing warga kemudian membagi diri untuk mencari berbagai bahan dan perlengkapan untuk pendirian masjid tersebut. Beberapa orang mencari kayu, lalu yang lainnya mencari ilalang, batu, bambu, dan berbagai bahan lainnya.  Karena kerja sama yang baik dari seluruh masyarakat tidak butuh waktu lama masjid tersebut akhirnya berdiri gagah menatap langit.

            BENTUK FISIK DAN MAKNA SIMBOLIS BANGUNAN MASJID

Pada bagian dalam masjid terdapat satu tiang (tunjeng) yang terletak tepat di tengah dan berdiri tegak lurus langsung sampai ke kubah masjid. Tiang ini tidak tertancap di tanah melainkan pada lantai masjid. Tiang ini kemudian diapit oleh empat buah tiang lainnya yang disebut  tiang “Soko Guru” (tidak sampai ke kubah masjid).  Di atas kelima tiang ini kemudian diletakkan dua buah kayu sebagai penghubung antara tiang satu dengan tiang yang lain (jejait). Pada  setiap persendian dan tiang-tiang itu dilapisi kain berwarna putih buatan masyarakat setempat yang disebut bebasaq. Tiang tunjeng dan Soko Guru ini juga  dikelilingi oleh 44 buah tiang yang terletak di sekitar ruangan masjid. Masjid ini juga dilengkapi oleh enam buah jendela dan 144 buah usuk (waras).

Berdasarkan ceritra dan kajian beberapa tulisan, dapat diketahui makna dari setiap bagian-bagian bangunan masjid seperti berikut ini.

  1. Empat buah tiang Soko Guru melambangkan:
  1. Kesatuan dari syariat, tarekat, hakekat dan makrifat
  2. Kesatuan dari Islam, Ihsan, iman, dan tauhid
  3. Kesatuan paham empat imam (ahlussunnah wal jamaah)
  4. Fitrah manusia yang berasal dari tanah, air, api dan angin
  5. Hidup dengan melihat, mendengar, mencium dan merasakan;
  1. Tiang Satu (tunjeng) melambangkan hidup yang hanya menuju satu arah yakni Allah SW;
  2. Tiang keliling sebanyak 44 buah melambangkan syarat syah mendirikan shalat Juma’at;
  3. Dua jendela yang mengapit pintu melambangkan mata dan dua jendela yang bearada di samping kiri dan kanan melambangkan telinga, dan duah buah jendela yang mengapit mimbar melambangkan hidung;
  4. Usuk (waras) yang berjumlah 144 buah merupakan lambang petunjuk batas waktu terlama dalam berkhalwat bagi orang yang ingin menyelidiki rahasia yang terekandung dalam empat  buah kitab kewalian seperti yang disebutkan di atas, dan  merupakan soko guru ilmu kewalian; dan
  5. Dua deret kayu palang (jejait) melambangkan tegaknya kehidupan yang berpegang teguh pada hubungan dengan ALLAH dan hubungan sesama manusia.

Versi lain mennyatakan, bahwa Pengadangan berasal dari kata PEGEDUNGAN. Pegedungan berarti tempat berkumpul, gudang tempat menyimpan sesuatu (benda, ilmu). Berdasarkan keterangan dari beberapa narasumber, dulu Pengadangan pernah dinugrahi kehormatan oleh Kerajaan Selaparang sebagai tempat penyimpanan benda pusaka.  Pendapat ini juga tidak bisa dikesampingkan begitu saja, karena jika kita telaah kembali, sekarang ini di Pengadangan terdapat beragam benda pusaka, misalnya, Keris Engkong 17, Kris Mayang Mekar Turunan Rinjani, Ladik Semblean, Dll.  



 
Amrul Arahap,M.Pd

Amrul Arahap,M.Pd

Lahir di Pengadanagan Kec.Pringgasela LOTIM. Aktif di Lembaga Pelsetarian Adat dan Pemberdayaan Masyarakat Desa Pengadangan.

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan