logoblog

Cari

Tutup Iklan

Tradisi Numpu Karodo Masyarakat Mbawa

Tradisi Numpu Karodo Masyarakat Mbawa

Suasana Sangari, Donggo, di pagi hari begitu cerah kuda-kuda sedang asiknya melahap rerumputan hijau disepanjang jalan menuju Mbawa. Ketika itu kami

Budaya

Fahrurizki
Oleh Fahrurizki
22 Maret, 2018 18:22:07
Budaya
Komentar: 1
Dibaca: 4046 Kali

Suasana Sangari, Donggo, di pagi hari begitu cerah kuda-kuda sedang asiknya melahap rerumputan hijau disepanjang jalan menuju Mbawa. Ketika itu kami akan melawat Sang Ncuhu di desa tersebut untuk mengamati dan mendokumentasikan aktifitas Suku Mbojo. Setelah lama mengobrol dan mendokumentasikan beberapa foto di rumah Ompu Ncuhi, kebetulan saya dan beberapa teman dari Surabaya berkesempatan di undang oleh Ompu Ncuhi menghadiri Numpu Karodo bersama masyarakat Mbawa, dengan senang hati kami menghadiri prosesi tersebut yang akan dimulai pada jam setengah dua siang seusai Sholat Jum`at.

Numpu Karodo salah satu tradisi atau ritual ketika matahari jarang bersinar, sebab matahari di musim panen sangat diharapkan oleh masyarakat Mbawa untuk menjemur padi mereka agar mengering dan siap di giling untuk persediaan beras di dapur mereka. Numpu Karodo hanya dilakukan pada hari Jum`at, hari yang sangat special, tak hanya hari suci bagi Islam hari Jum`at adalah hari dimana semua masyarakat yang Kanggihi (berladang diatas gunung) turun pada hari tersebut, karena para tetua Mbawa diharuskan lengkap untuk memenuhi persyaratan berlangsungnya Numpu Karodo.

Selain para tetuanya lengkap untuk prosesi Numpu Karodo juga bahan Karodo yang akan disantap bersama haruslah lengkap juga tidak boleh kurang tidak boleh lebih dan bahan-bahan harus sesuai dengan yang dilakukan oleh orang terdahulu (leluhur), bahan-bahannya yaitu beras, gula pasir, kelapa, gula merah, daun sirih, dan pisang. Setelah para tetua lengkap dan bahan Numpu Karodo disiapkan oleh Wa`i Ncuhi yaitu istri dari Ncuhi (kepala suku) dari atas Uma Leme yang dianggap sakral oleh masyarakat Mbawa.

Depan Uma Leme disediakan satu lesung besar oleh para wanita, setelah lesung diletakkan tepat di tengah depan halaman Uma Leme dan dibawah para tetua mengucapkan “tampu`u ra” yang berarti dimulai. Terlebih dahulu beras diturunkan dari atas Uma Leme kemudian di tuangkan kedalam lesung lalu para wanita mulai menumbuknya hingga halus. Setelah beras sudah agak halus kemudian diturunkan kelapa yang sudah dipotong kecil-kecil dan di tuangkan sedikit demi sedikit dalam lesung sambil di tumbuk hingga bercampur dengan beras.

Setelah beras dan kelapa di tumbuk hingga menyatu di dalam lesung, lalu yang terakhir adalah gula merah dan gula pasir di tuangkan kedalam lesung terus di tumbuk ditambah air gula lagi hingga menjadi adonan. Setelah menjadi adonan satu “Doku” yaitu nampan dari bambu disiapkan disebelah lesung, pada Doku sudah ada pisang dan daun sirih yang diletakkan diatas Doku, setelah semua sajian Numpu Karodo lengkap lalu salah seorang tetua dipersilakan mendoakan untuk meminta kepada Yang Maha Kuasa untuk memberkahi mereka dengan mendatangkan matahari.

Masyarakat Mbawa merupakan masyarakat multi agama terdapat tiga keyakinan yaitu Protestan, Katolik dan Islam, namun yang dipercaya untuk mendoakan pada prosesi Numpu Karodo yaitu tetua ber-agama Islam. Setelah semua prosesi dilakukan kemudian Numpu karodo di bawah dibawah Uma Leme dimana sudah ada para tetua dan masyarakat lainnya yang sudah duduk dan bersiap menyantap bersama sajian Numpu Karodo tersebut.

 

Baca Juga :


Semua dibagi dengan sama rata tak ada yang tidak kebagian, dan kamipun dipersilakan untuk mencicipi sajian Numpu Karodo. Rasanya sangat manis dengan aroma gula merah satu suap hingga lima suap dinikmati bersama dengan masyarakat Mbawa. Sungguh pengalaman yang sangat menakjubkan bisa terlibat langsung dalam prosesi tersebut, menurut saya inilah originalitas festival itu, dimana tradisi masyarakat setempat dilakukan bersama masyarakat dan dinikmati oleh semua masyarakat. Kebersamaan yang sangat indah dimana tidak ada halangan perbedaan keyakinan diatas satu tikar pandan semua berbagi sambil bercanda dan mengobrol untuk kesejahteraan desa mereka.

Hujanpun turun dengan derasnya, sambil menunggu hujan agak reda kesempatan yang tidak bisa dilewati yaitu berinteraksi dengan para tetua Desa Mbawa sambil menikmati sajian Numpu karodo. Mereka bercerita bahwa tradisi ini sudah dilakukan oleh leluhur mereka sejak dulu hingga sekarang dilakukan lagi oleh mereka. Numpu Karodo merupakan inti dari doa bersama meminta keberkahan kepada Tuhan untuk kesejahteraan desa, setelah berdoa kemudian menyantap bersama sajian tersebut, kata pak Jamal salah satu tokoh masyarakat Mbawa.

Hujanpun akhirnya reda setelah mengobrol lama dengan masyarakat di Uma Leme kami berpamitan untuk pulang. Masyarakat yang sangat ramah dengan sumringah mereka bersalaman dengan kami dan mengundang kami lahi untuk menghadiri prosesi Raju di bulan sebelas, dimana Raju adalah upacara adat musim tanam yang dilakukan sebelum menanam. ()



 

Artikel Terkait

1 KOMENTAR

  1. Randal Patisamba

    Randal Patisamba

    05 April, 2018

    tradisi yang sangat otentik, harus dijaga kelestariannya.


 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan