logoblog

Cari

Tutup Iklan

Reques Doa Tuan Guru

Reques Doa Tuan Guru

Setiap pengajian HIDAYATUDDARAIN diisi dengan ceramah, tanya jawab, do'a dan salam-salaman  antara jamaah dengan tuan guru. Pada pengajian minggu lalu, seorang

Budaya

KM HIDAYATUDDARAIN
Oleh KM HIDAYATUDDARAIN
06 Maret, 2018 15:35:46
Budaya
Komentar: 0
Dibaca: 3995 Kali

Setiap pengajian HIDAYATUDDARAIN diisi dengan ceramah, tanya jawab, do'a dan salam-salaman  antara jamaah dengan tuan guru. Pada pengajian minggu lalu, seorang ibu yang menggendong seorang anak laki tidak langsung pulang. Ia  mengatakan anak laki yang dibawa belum bisa jalan pada hal usianya sudah hampir 2 tahun. Ia juga membawa air botol tanggung. Ia minta TGH.Muallip, Pengasuh Ponpes Al Halimy, Gunung Sari untuk mendoakan anak laki yang dibawanya.

"Endeng do'a tuan guru. Niki wah gin dua tahun laguk ndekman tao lampak" ucapnya.

Saya tanya apakah anak laki yang dibawa cucunya. Ia menjawab bukan, tapi anak saudaranya alias ponaannya. Sudah hampir 2 tahun usianyanya, padahal anak seusianya sudah bisa jalan. Saya lihat memang anak laki yang digendong itu kakinya terlihat agak lemas. Tak lama setelah itu, TGH. Muallip pun membacakan air yang dibawa itu do'a-do'a penyembuh.

Begitu lah saudara-saudara. Selesai mengisi pengajian yang diisi para tuan guru ada saja reques doa dari jamaah. Ada permintaan do'a untuk saudara, orang tua, anak, menantu - baik yang sedang sakit atau yang sudah meninggal. Termasuk minta dido’akan air untuk kesembuhan anggota keluarganya yang sakit.

Pada pengajian minggu yang lalu misalnya ada jamaah Pada yang mengajak (mengundang) tuan guru datang kerumahnya. Hajatnya dibantu untuk menyelesaikan persoalan yang dihadapi oleh keluarganya. Bisa menyangkut fiqh, pembagian waris dan lain-lain. Biasanya saat pengajian mereka merasa tidak puas dengan penjelasan yang diterima karena keterbatasan waktu.

 

Baca Juga :


Berdasar pengalaman ini, seorang tuan guru bisa menjadi pengajar dan penganjur ilmu agama sekaligus motivator. Ia bisa mengulas berbagai bentuk penyakit hati yang sifatnya tidak nampak. Tapi pada saat yang lain ia bisa menjadi problem solver akan ketidak tahuan ummat. Pada saat yang lain ia diminta obat dan bisa mengobati oleh jamaah.

Kebiasaan jamaah minta doa kepada tuan guru ini bukan karena mereka tidak percaya atau tidak mau dating kedokter atau rumah sakit. Tapi kadang banyak gejala penyakit yang tidak sembuh setelah berobat kerumah sakit atau dokter. Mereka pun lalu meminta pertolongan melalui pembacaan do’a kepada tuan guru yang dianggap mempunyai ilmu agama dan punya integritas social ditengah masyarakat.  

Dengan keterbatasan selaku manusia, mereka selalu siap diminta oleh jamaah. Itu lah tuan guru dan ustazd yang oleh banyak pihak kadang dilihat terlalu kritis sehingga ketika salah sedikit dihujat. Padahal mereka tidak tahu dan paham konteks yang dialami dan hadapi tuan guru (ustazd).[]



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan