logoblog

Cari

Tutup Iklan

Budaya Dalam Makna Dan Revitalisasi

Budaya Dalam Makna Dan Revitalisasi

BUDAYA DALAM MAKNA DAN REVITALISASI Budaya adalah kebiasan atau tradisi, titipan nenek moyang yang melekat yang berasal dari para nenek

Budaya

Uba Leu
Oleh Uba Leu
23 Februari, 2018 08:52:00
Budaya
Komentar: 0
Dibaca: 13957 Kali

BUDAYA DALAM MAKNA DAN REVITALISASI

Budaya adalah kebiasan atau tradisi, titipan nenek moyang yang melekat yang berasal dari para nenek moyang terdahulu dan harus kita lestarikan demi tercapainya hidup yang harmonis dan dinamis kemudian  untuk dijadikan  sebuah  ajang atau pementasan  di era sekarang sebagai  ikhtiar pelestarian budaya, budaya juga dikenal sebagai ciri khas atau  simbol  kita mengenal dari mana dia berasal dan kemana dia. Berbicara dan mementaskan  budaya untuk saat ini berarti kita seakan akan kita hidup dengan kebiasaan atau tradisi nenek moyang kita dulu, membicarakan di lingkungan kampus dan kafe kafe kecil bagaimana tradisi dan kebiasan yang dilakukannya  pada saat itu dalam menciptakan sesuatu yang berbau tingkah laku positif atau  pesan pesan moral  yang tidak terlepas dari firman firman tuhan, sehingga hari ini detik ini kita anggap itu adalah sebuah budaya.   salah satu contohnya adalah pesan yang terkandung dalam pilar delapan karakteristik yang harus dimiliki oleh seorang manusia  (nggusu waru yaitu: maja labo dahu  maja adalah malu dahu adalah takut.   semboyan sebuah pesan dari seorang ibu dan bapak untuk sang anak yang merantau ke pulau seberang dengan menitipkan pesan malulah dirimu dengan hal hal salah dan takutlah dirimu dengan hal hal yang dilaranganya yang kedua adalah bae ade: bae adalah tau sedangkan ade adalah hati semboyan bae ade adalah mengetahui apa yang ghoib dan yang berwujud, yang tersirat dan surat dan   yang ada dalam ketiadaan yang ketiga mbani labo disa, mbani adalah berani dan disa adalah berani bertangggung jawab. Semboyan  Mbani labo disa adalah berani ketika kebenaran masih berpihak pada kita walaupun parang sudah diatas leher yang keempat adalah lembo ade, lembo adalah sabar,ikhlas dan ade adalah hati. Semboyan lembo ade adalah sabar dan ihklas dalam melakukan hal hal baik sabar dan ikhlas dalam menjalani sebuah proses perdaban diri sabar dan ikhlas dalam menjalani ujian dan cobaan yang kelima nggahi rawi pahu: nggahi adalah ucapan rawi adalah dilakukan pahu adalah muka, wujud  semboyan nggahi rawi pahu adalah sebuah pesan dari ibu dan bapak anaknya dan masyarakat untuk seorang pemimpin yang ketika sudah diamanatkan oleh rakyat untuk menjadi pemimpin jangan hanya berjanji , apa yang sudah dijanjikan harus diwujudkan terkait dengan. Misalnya janji untuk membangun daerah lebih baik, itu harus diwujudkan,  itulah maksud nggahi rawi pahu. Keenam taho hidi: taho berarti baik hidi berarti postur semboyan taho hidi adalah harapan msyarakat atau ayah dan ibu untuk seorang anaknya memiliki tubuh kekar dan besar. yang ke tujuh wara di woha dou : wara berarti ada woha berarti tengah dou berarto orang. Semboyan wara di woha dou adalah sebuah pesan dari ayah dan ibu untuk seorang anaknya untuk bisa berada ditengah  orang- orang yang menurut makna ini ketika anaknya berada di tengah orang banyak berarti dia adalah orang penting dan orang yang dihargai yang kedelapan ntau ro wara: ntau berarti punya wara ada semboyan ntau ro wara adalah pesan dari ayah dan ibu untuk anaknya kelak menjadi orang kaya, yang kaya ilmu, kaya harta, kaya agama dan yang lainnya. Melihat Pesan dan mejadikan diri kita semua sebagai palaku revitalisasi merupakan ahal yang wajar bagi kita sebagai regenrasi budaya aagar budaya itu tetap dikenal oleh regenerasi berikutnya, pesan budaya adalah hal yang harus kita akui betapa bermakna pesan itu untuk kita ingat sebagai bekal kita hidup ditanah rantauan untukmu iwa ro weki  cina ro angi mbojo dompu keluarga dan sabahatku bima dompu yang ada ditanah rantauan. Pesan budaya bukan hanya dari sebuah perkataan yang memiliki makna  tapi pesan budaya juga  adalah sebuah tingkah laku nenek moyang dulu bagaimana budaya itu bisa ada dan kemudian  kita melestarikan budaya atau titipan nenek moyang itu agar tetap terjaga dikenal  baik dalam kalangan lokal maupun manca Negara, langkah atau cara  yang dilakukan oleh sekelompok mahasiswa mengadakan atau  mempentaskan budaya  seperti yang dilakukan oleh organisasi bima dan dompu UIN mataram  mengisinya dengan perlombaan yang berbau budaya seperti lomba Ricu rimpu/cepat memakai rimpu, tarian bima dompu, nyanyian lagu bima dompu, genda/gendang, kapatu cambe/pantun khas budaya adalah sebuah terobosan baru dalam usaha revitalisasi dalam rangka menjaga dan melestarikan budaya itu cukup membuka mata kita bagaimana pentingnya budaya dalam menjembatani hidup yang  harmonis dan dinamis.

 

 

Baca Juga :




 
Uba Leu

Uba Leu

fitrah zaiman biasa dipanggil Uba Leu lahir Di desa Leu sila anak dari pasangan deo Uba Tika dan faridah adik dari Al Amin dan abang dari Rabiatu adawiah

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan