logoblog

Cari

Tutup Iklan

Bebubus Batu, Tradisi Masyarakat Sapit

Bebubus Batu, Tradisi Masyarakat Sapit

KM. Sukamulia – Ritual Bebubus Batu, demikianlah masyarakat Desa Sapit dan sekitarnya menyebut sebuah tradisi yang sejak dahulu kala dilaksanakan oleh

Budaya

KM. Sukamulia
Oleh KM. Sukamulia
20 Februari, 2018 22:46:41
Budaya
Komentar: 0
Dibaca: 5202 Kali

KM. Sukamulia – Ritual Bebubus Batu, demikianlah masyarakat Desa Sapit dan sekitarnya menyebut sebuah tradisi yang sejak dahulu kala dilaksanakan oleh masyarakat Desa Sapit Kecamatan Suela. Menurut keterangan yang kami dapatkan dari masyarakat Sapi, Ritual Bebubus Batu dilaksanakan sejak abad IX Masehi. Sesungguhnya ritual ini dilaksanakan setiap tahun, hanya saja belum pernah dipublikasikan secara luas sehingga baru pada tahun 2018 ini nama ritual tersebut buming di kalangan dunia pariwisata budaya masyarakat Lombok.

Ritual Bubus Batu merupakan salah satu ritual adat yang berkaitan dengan tradisi menghaturkan rasa syukur kepada sang pencipta dengan mempersembahkan berbag jenis hasil bumi masyarakat Desa Sapit. Secara khusus, Ritual Bebubus Batu bertujuan untuk memohon keselamatan dan kesuburan lahan pertanian dan perkebunan kepada Yang Maha Tunggal. Hal ini tergambar dari prosesi ritual adat yang dilaksanakan di sepanjang acara itu. Jika diperhatikan dengan seksama, di sepanjang prosesi ritual Bebubus Batu terdapat puji-pujian dan permohonan keseleamatan kepada Allah SWT.

Jika kita memperhatikan prosesesi ritual tersebut maka tidak akan muncul persepsi-persepsi yang negative atas pelaksanaannya sebab ritual ini memang memiliki nilai ritus yang tinggi dan penuh dengan nilai-nilai adat setempat yang dipadukan dengan syariat islam. Yach, kiranya penulis tidak perlu panjang lebar memberikan pencerahan kepada pihak yang menganggap ritual ini adalah ritual sesat dan melannggar syariat islam sebab setelah menyaksikan prosesinya secara langsung maka penulis memahami makna dan tujuan dilaksanakannya ritual tersebut.

Yach, ritual Bebubus Batu tidak jauh berbeda dengan ritual Ngaturang Ulaq Kaya, Ritual Buburang Pare, Ritual Taeq Lajuq Taeq Daya dana tau ritual Maulid Adat yang dilaksanakan oleh masyarakat Bayan. Atau ritual Ngayu-Ayu dan Tetulaq Gubuk yang dilaksanakan oleh masyarakat Sembalun. Dan atau ritual Selamet Makem di Makam Selaparang dan Makam Tunjung Desa Selaparang, serta ritual-ritual sejenisnya yang dilaksanakan oleh masyarakat adat di berbagai wilayah Lombok. Sesungguhnya, semua ritual adat itu tidak mengabaikan kaidah syariat islam sebab di puncak acaranya pasti diadakan dzikiran dan doa. Dengan demikian, jelaslah bahwa tradisi-tradisi dimaksud merupakan tradisi adat gama atau bahasa kerennya tradisi yang pelaksanaannya dikemas dengan akulturasi nilai-nilai adat dan nilai-nilai islam.

Okeh,,, kawan-kawan pencinta budaya Sasak, kali ini penulis hanya sekedar menuangkan apa yang penulis saksiakan selama mengikuti prosesi Ritual Bebubus Batu yang dilaksanakan di Batu Pandang Desa Sapit Kecamatan Suela pada tanggal 31 Januari 2018. Penulis belum mendapatkan informasi lengkap mengenai apa dan bagaimana latar belakang, tujuan, urutan prosesi dan segenap kelengkapan yang disajikan dalam pelaksanaan ritual adat tersebut. Oleh sebab itu, pastinya tulisan ini memiliki banyak kekurangan terkait dengan informasi lengkap ritual Bebubus Batu yang hanya kita temukan di Desa Sapit. Dengan demikian, izinkan penulis menceritakan segelumit pengalaman yang penulis saksisikan selama mengikuti prosesi ritaual adat Masyarakat Sapit itu. Jika ada kekeliruan maka mohon diluruskan.

Tepat pada pukul 12.40 wita (bakda dzuhur), Pemangku Adat Desa Sapit keluar bersama rombongannya. Mereka berjalan dengan rapi sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan. Pemangku Adat Desa Sapit berjalan paling depan dengan pakaian adat yang lengkap dan kedua tangannya memegang sebuah cawan yang terbuat dari bahan kuningan (Bokor: Sasak) yang berisi lekesan dan bunga rampai. Beliau bertugas sebagai pemimpin barisan. Sang pemangku berjalan dengan langkah yang teratur dan pasti.

Di belakang pemangku berjalan 14 orang gadis pembawa sajian dan seorang anak laki-laki yang berada di bagian tengah. sebala gadis itu memakai pakaian adat khas Sapit. Sebelas orang yang berjalan di belakang Pemangku Adat memakai jilbab dan baju berwarna hita pekat, kain sesekan (tenun) berwarna dasar hitam dengan corak benang berwarna merah, serta ikat pinggang yang juga terbuat dari bahan kain tenun berwarna dasar merah dengan corak garis-garis lurus berwarna putih, hijau dan kuning. Di antara barisan 11 orang gadis itu berjalan seorang anak laki-laki dengan pakaian yang terdiri dari sapuk sebagai ikat kepala, baju berwarna hitam, ikat pinggang berwarna merah dan kain panjang (lempot : Sasak) bermotif batik dengan kedua tangan memegang bokor yang berisi yang berisi lekesan dan bunga rampai.

Di belakang sebelas orang gadis itu berjalan juga 4 orang gadis pembawa sajian dengan pakaian adat yang sama hanya saja kain yang digunakan agak berbeda dengan 11 orang gadis tadi. Ke lima orang gadis desa ini menggunakan jilbab dan kain berwarna hitam pekat, ikat pinggang dari kain tenanun berwarna dasar merah. Yang membedakannya dengan 11 gadis tadi adalah warna dasar kain tenunnya, dimana 4 orang gadis di barisan belakang ini menggunakan kain berwarna dasar merah (Londong Abang: Sasak).

Gadi-gadi yang berjalan rapi di belakang sang pemangku dengan langkan penuh ke hati-hatian itu terlihat sangat elok dengan benda bawaan mereka masing-masing. Secara berurutan, gadis-gadis itu membawa: 1) Bokor yang berisi cawan air (Ceretan: Sasak) yang nantinya akan digunakan mengambil air di Mata Air Pajang, 2) Dulang berisi berbagai jenis panganan dan buah-buahan, 3) Dulang berisi beberapa jenis jajanan tradisional, setongkol jagung rebus dan satu buah mentimun, 4) Dulang berisi berbagai jenis panganan dan buah-buahan, 5) Dulang berisi beberapa jenis jajanan tradisional, setongkol jagung rebus dan satu buah mentimun, 6) Bokor yang berisi cawan air (Ceretan: Sasak), 7) Anak Laki-Laki membawa bokor yang berisi yang berisi lekesan dan bunga rampai, 8) Dulang berisi berbagai jenis panganan dan buah-buahan, 9) Dulang berisi beberapa jenis jajanan tradisional, setongkol jagung rebus dan satu buah mentimun, 10) Dulang berisi berbagai jenis panganan dan buah-buahan dengan buah Delima di bagian paling atasnya, 11)  Dulang Kecil yang berisi Batu Kemenyan (pedupan), 12) Dulang pisang, jagung, mentimun, jajanan tradisional dan beberapa hasil tani lainnya, 13) Dulang berisi pisang, jagung, mentimun, jajanan tradisional dan beberapa hasil tani lainnya, 14) Dulang berisi pisang, jagung, mentimun, jajanan tradisional dan beberapa hasil tani lainnya dan 15) Dulang berisi pisang, jagung, mentimun, jajanan tradisional dan beberapa hasil tani lainnya.

Barisan depan yang membawa segenap bahan yang akan dijadikan sanganan pada puncak ritual Bebubus Batu itu diikuti oleh masyarat setempat yang juga berjalan sangat hati-hati mengikuti barisan di depannya. Di antara barisan itu berjalan puluhan orang pemuda dengan seragam putih yang diikuti oleh rombongan ibu-ibu yang membawa berbagai jenis sanganan yang akan disajikan pada acara puncak ritual tersebut. Di bagian paling belakang iring-iringan ini berjalan gerub music tradisional yang tiada henti menabuh alat music yang mereka pegang sebagai pengiring prosesi ritual itu.

Rombongan itu diikuti oleh para pengunjung yang berasal dari berbagai daerah, termasuk pengunjung yang berasal dari luar negeri. Sungguh luar biasa, barisan itu tertata rapi sambil terus berjalan menyusuri gang kecil di Dusun Batu Pandang. Setelah berjalan sekitar 7 menit, iring-iringan itu mulai memasuki areal persawahan terasering warga setempat. Mereka berjalan dengan penuh kehati-hatian sebab pematang sawah yang mereka lalui agak kecil dan cukup licin. Iring-iringan itu terlihat sangat mempesona di atas pematang sawah. Mereka berbaris dengan rapi tanpa satupun yang saling mendahului dan sungguh perjalanan itu dilakukan penuh hikmad.

Setelah sekitar 25 menit berjalan menapaki pematang sawah (pundukan: Sasak), maka sampailah iring-iringan tersebut di lokasi pelaksanaan puncak ritual Bebubus Batu, yakni Kampu Batu Pandang yang merupakan salah satu peninggalan kepurbakalaan Desa Sapit yang konon pada zaman dahulu batu itu sangatlah tinggi sehingga batu itu disebut Batu Pandang.

Awalnya penulis penasaran akan apa dan bagaimana sich perwujudan Batu yang dirituskan itu. Dan setelah penulis lihat dengan mata tanpa kaca alias mata telanjang maka penulis mengerti bahwa sesungguhnya batu itu adalah Benda Kepurbakalaan yang di dalam Ilmu Sejarah disebut dengan nama Menir. Perlu diketahui bahwa fungsi utama Menhir pada zaman purba adalah sebagai tempat mengikatkan hewan yang akan dipersembahkan sehingga jelaslah bahwa fungsi aslinya masih digunakan hingga saat ini yang dimana puncak Ritual Bebubus Batu dilaksanakan di tempat itu. Artinya, pada ritual Bebubus Batu, Menhir itu dijadikan sebagai tempat untuk mempersembahkan rasa syukur warga Sapit kepada Yang Maha Kuasa (Allah SWT).

Sesamapi di Kampu Batu Pandang, sang Mangku dan gadis-gadi pembawa sajian meletakkan barang-barang bawaannya di depan (sebelah kiri) gerbang Kampu dengan rapi, lalu mereka mengambil tempat duduk masing-masing. Sang pemangku duduk di depan Kampu (kanan gerbang), gadis-gadis pembawa sajian duduk rapi di depan Kampu (pojok kiri) sedangkan para pemuda berseragam putih mengambil tempat di sebelah kanan pemangku.

Sejenak mereka beristirahat di depan Kampu itu dan setelah segenap rombongan sampai di lokasi, Pemangku memimpin beberapa orang lainnya untuk membersihkan area dalam Kampu. Setelah bagian dalam Kampu itu dibersihkan, sang Pemangku memerintahkan dua orang petugas untuk mengambil air di Mata Air Pajang. Satu diantaranya membawa kendi air (ceretan: Sasak) dan satunya lagi membawa dulang kecil berisi kelengkapan makan sirih (lekesan: Sasak) dan bunga rampai. Mata air itu berjarak sekitar 700 meter dari Kampu, kedua orang petugas itu berjalan menapaki pematang sawah, lalu menuruni tebing yang cukup terjal dan ahirnya mereka sampai di atas tebih yang di bawahnya terdapat sungai yang cukup dalam. Di tebing itulah sumber mata air itu muncul yang konon mata air itu tidak pernah mati yang meskipun terjadi kemarau panjang.

Sesampai di Mata Air Pajang, sang pembawa lekesan langsung meletakkan lekesan dan bunga rampai di sekitaran mata air. Setelah itu, petugas yang membawa ceret mengisi ceretan-nya dengan air bersih yang bersumber dari Mata Air Pajang itu. Mereka tidak berlama-lama di sana, setelah airnya penuh mereka langsung kembali menuju Kampu. Sesampai di Kampu, air itu mereka serahkan kepada sang pemangku dan beliau meletakkan air itu di antara barisan sanganan yang ada di depan kampu.

 

Baca Juga :


Setelah airnya siap, sang Pemangku meminta dua orang petugas untuk membawa dua buah dulang ke dalam area kampu. Dua buah dulang berisi psang dan berbagai jenis sanganan tradisional itu di letakkan di dekat Batu Pandang, di sana juga diletakan sebuah keris. Yach, munkin saja keris itu adalah keris sakti peninggalan nenek moyang orang Sapit. Beberapa orang petugas lainnya diperintahkan untuk mengangkat tiga buah dulang. Ketiga buah dulang yang berisi pisang dan berbagai jenis sanganan tradisional itu akan mereka taruh di tiga lokasi yang berada di sekitar persawahan warga setempat. Satu dulang lagi ditaruh di sekitar Kampu Batu Pandang, tepatnya di dekat perapian yang dibuat sebagai tempat membakar ayam (manuk pekalepan: Sasak).

Ketika orang-orang yang ditugaskan menaruh sajian di sekitaran swah warga itu kembali, Pemangku Adat bergegas mengajak Kiyai Penyembelih (tokoh agama yang ditugaskan menyembelih) untuk menyembelih tiga ekor ayam. Selesai dipotong, ayam yang sudah disembelih tadi dibawa mengelilingi pagar Batu Pandang dan darahnya dioleshkan pada pagar situs Kepurbakalaan tersebut.

Prosesi acara puncak Bebubus Batu agak alot sehingga penulis cukup lama menahan rasa penasaran. Sempat terbersit di dalam benak penulis, “kapan batu itu akan dibubus ?”. Kumandang pengajian mulai terdengar sayu-sayup sampai sebagai pertanda waktu shalat asar akan segera tiba. Segenap pelaku dan peserta ritual adat ini duduk tenang menunggu orang-orang yang ditugaskan untuk memanggang ayam tadi menyelesaikan pekerjaannya. Sementara tabuh gending terus mendayu mengiringi seluruh prosesu ritual adat tersebut.

Sementara itu, di tempat lainnya (masih dalam lokasi Kampu), golongan ibu-ibu sibuk mempersiapkan jajanan yang akan disajikan kepada segenap hadirin yang mengikuti ritual tersebut, termasuk tamu undangan. Yach termasuk juga penulis, heheeee. Ibu-ibu itu juga membagi tugas, ada dinatara mereka yang sibuk membuat wadah dari daun pisang (rondon: Sasak), ada yang sibuk menyajikan pisang, nasi ketan, jajan abuk, pelemeng dan wajik yang disajikan pada sebuah piring dan ada pula diantara mereka yang sibuk menyiapkan daun pisang sebagai tempat menyajikan nasi dan lauk pauknya. Sungguh, terlihat pembagian tugas yang sangat teratur dan di sinilah terlihat kerja sama dan kekompakan yang tinggi di antara seluruh elemen masyarakat Desa Sapit selaku penyelenggara ritual Bebubus Batu.

Waktu yang dinantikan tiba jua. Ayam yang dipanggang sudah matang dan petugasnya-pun menyerahkan ayam panggang tersebut kepada sang Pemangku yang duduk berdampingan dengan Ketua Adat Sembalun. Sajian jajanan dan nasi oleh golongan ibu-ibu juga sudah tertata dan tersaji dengan rapi. Itu artinya, acara puncak akan segera dimulai.

Melihat segenap persiapan sudah matang, Sang Pemangku bangun dari duduknya. Beliau mengambil ceretan yang berisi Air Pajang. Berlahan beliau membawa air itu mendekati Batu Menhir dan kemudiannya menyiramkannya pada seluruh baguan batu yang mereka sebut dengan nama Batu Pandang itu. Setelah itu beliau menyalakan dupa bersama seorang pendampingnya. Entah apa jabatan pendampingnya itu, nanti kita tanyakan kepada saudara Jannatan (Ketua Pokdarwis Langgara) beserta segenap ponggawanya,, heheee. Di depan Batu Menhir itu mereka berdua kemudian memanjatkan doa kehadirat Yang Maha Kuasa. Sedangkan di luar pagar Kampu, Ketua Adat Sembalun memaca dengan suaranya yang termat sangat merdu.

Setelah beberapa menit memanjatkan doa dengan penuh khusuk, pemangku dan pendampingnya mengeluarkan seluruh sesajen yang ada di dalam area Batu Pandang. Para Sekaha (pemain music tradisonal) diperintahkan untuk berhenti membunyikan alat music mereka. Dengan demikian, puncak prosesi Ritual Bebubus Batu segera dimulai. Pemangku selaku pemimpin acara itu mempersilahkan petugas yang telah ditunjuknya untuk memimpin dzikir dan doa. Segenap hadirin mengikuti puncak prosesi itu dengan khitmat.

Sebelum memulai dzikir dan doa, sanga pemimpin dzikir dan doa mengucapkan kalimat yang bernada doa. Kalimat-kalimat itu diucapkan dalam bahasa setempat, “Eee nenek dikaji siq kuasa, icanin gamaq kami  keselametan, kesehatan dait keafiatan. Eee bebek dikaji saq Maha Kuasa, peliharaq gamak tanaq kami, icanin tanaq kami kesuburan aget ne selamet selapuk tetaletan kami dait ridhoi gamaq apa siq laksanayang kami leq jelo niki sebagai ungkapan rasa syukur kami atas nikmat siq kami terimaq. Tunas paice”. Kurang lebih, demikianlah kalimat permohonan yang diucapkan oleh sang pemimpin dzikir dan doa sebelum beliau mulai memimpin segenap hadirin untuk berdikir dan berdoa bersama.

Usaia mengucapkan permohoanan tadi, dzikir dan doa pun dimulai. Segenap hadirin mengikuti sang pemimpin membaca ayat-ayat pendek, lalu  berdzikir bersama-sama dan mengamini doa yang diucapkan oleh sang pemimpin tadi.

Tepat pada pukul 16.02 wita, dzikir dan doa itu selesai yang artinya bahwa Ritual Bebubus Batu sampai pada puncak prosesinya. Para Pemuda Desa Sapit dan Pengurus Pokdarwis Langgara-pun bergegas membagikan hidangan yang tekah disiapkan kepada seluruh hadirin yang ada di tempat itu. Inilah puncak acara yang betul-betul dinantikan oleh segegap hadirin, dimana pada ahir acara itu mereka bisa makan bersama sambil bercerita berbagai kisah pengalaman mereka. Dengan demikian, jelaslah bahwa salah satu tujuan Ritual Bebubus Batu adalah untuk mempererat tali persaudaraan/silaturrahmi antara seluruh elemen masyarakat setempat dan berbagai pihak lainnya.

Nahhh, setelah membaca tulisan yang agak panjang ini, kiranya para pembaca dapat memahami bahwa Ritual Bebubus Batu bukanlah ritual memandikan arca dengan menggunakan bubus ataupun air bunga ramapi. Namun sesungguhnya Ritual Bebubus Batu itu adalah ritual mempersembahkan hasil bumi untuk dimakan bersama-sama dengan siapa saja yang menghadiri acara tersebut seraya memohon keselamatan kepada Allah SWT.

Warga dan pencinta Kampung Media serta para pencinta Wisata Budaya Lombok, kirnya inilah cerita yang dapat penulis sajikan terkait dengan apa yang telah penulis saksiskan selama mengikuti prosesi Bebubus Batu yang dilaksanakan pada hari Rabu, 31 Januari 2018 ini. Kurang dan lebihnya mohon maaf. Terimakasih atas kunjungannya dan salam dari kampung, Salam Budaya serta Salam Wonderful Lombok.

_By. Asri The Gila_



 
KM. Sukamulia

KM. Sukamulia

Nama : Asri, S. Pd TTL : Sukamulia, 02 Januari 1985 Jenis Kelamin: Laki-laki Agama : Islam Pekerjaan : Swasta Alamat, Dusun Sukamulia Desa Pohgading Timur Kec. Pringgabaya No HP : 082340048776 Aku Menulis Sebagai Bukti Bahwa Aku Pernah Ada di Dunia

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan