logoblog

Cari

Tutup Iklan

Antara Mitos Dan Kearifan Lokal Dana Mbojo

Antara Mitos Dan Kearifan Lokal Dana Mbojo

KM LENGGE,- Sekitar tahun 2014 lalu ketika saya bersama dua orang kawan sedang berada di batas hutan Pegunungan Tarlawi, Desa Tarlawi,

Budaya

KM LENGGE
Oleh KM LENGGE
20 Januari, 2018 13:39:19
Budaya
Komentar: 0
Dibaca: 6295 Kali

KM LENGGE,- Sekitar tahun 2014 lalu ketika saya bersama dua orang kawan sedang berada di batas hutan Pegunungan Tarlawi, Desa Tarlawi, Kecamatan Wawo. Ada seorang pria agak tua yang saat itu kami taksir berumur sekitar 40an tahun mendatangi kami, beliau sepertinya sesepuh didaerah tersebut dan mengetahui keinginan kami untuk menyusuri lebih dalam pegunungan tarlawi, karena memang sekitar 2014 lalu didaerah bima sedang tren batu akik, dan tujuan kami menyusuri pegunungan tarlawi tidak lain dan tidak bukan adalah mencari batu akik.

Dimintanya sedikit air dari persediaan air yang kami bawa,setelah sedikit air kami pindahkan dari botol ke dalam gelas plastik kami lalu memberikannya ke beliau. Dibacakannya beberapa kalimat ke air yang kami sediakan yang lamat lamat kami dengar seperti membaca sebuah do’a, setelah meminum air dalam gelas kemudian beliau semburkan ke arah hutan tempat kami akan melanjutkan perjalanan.

Sempat timbul semacam pertanyaan dalam pikiran kami mengenai ritual yang beliau lakukan, salah seorang teman menganggap ritual tersebut syirik, saya sendiri menganggap hal tersebut biasa saja selama apa yang diniatkan oleh beliau adalah untuk kebaikan kami. Mungkin bagi kita yang sudah masuk kepikiran modern itu adalah sebuah ritual kolot setempat, tradisi masyarakat lokal yang tidak akan bisa diterima dengan logika.

Sebuah ritual alam tidak hadir dan di lakukan begitu saja oleh masyarakat Dana Mbojo. Ia terlahir dari berbagai pengalaman dan pemikiran pemikiran masyarakat pada jamannya. Hasil dari suatu musyawarah. Yang erat kaitannya pada hubungan antara manusia dengan alam lingkungan. Mitos  dan ritual itu menjadi bagian dari pengetahuan dan kepercayaan masyarakat dana Mbojo. Tidak bisa dipungkiri kepercayaan ini sangat mempengaruhi sistem pengelolaan alam dan lingkungan, juga budaya dana mbojo.

 

Kalau memang kita mencarinya dengan logika, sebuah penghormatan kepada gunung dan hutan, sebuah penghormatan kepada alam, segala kehidupan diatas muka bumi akan tetap terjaga apabila seimbang dengan alam. Hutan dan gunung adalah daerah resapan air, sebagai daerah yang bisa memberikan isinya untuk dimanfaatkan oleh manusia. Apalagi masyarakat dana mbojo yang bermukim di atas pegunungan dan notabene bermata pencaharian dengan cara bercocok tanam, alam sangat bermakna bagi mereka Dan penghormatan kepada makna alam inilah yang diwujudkan dalam sebuah ritual. Yang kalau kita cermati maksud tersiratnya yang sebenarnya adalah penghormatan untuk menjaga gunung dan hutan tetap lestari sehingga keseimbangan manusia dan alamnya selalu terjaga. Kita sebagai manusia kadang-kadang salah menafsirkan maksud tersebut. Yang tidak percaya mengatakannya mitos tak berarti, dan yang percaya tanpa memahami maksudnya malah menjadi syirik.

 

Baca Juga :


Ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan rasa nasionalisme. Apa sebenarnya makna dari selembar kain berwarna merah dan kain berwarna putih yang dengan semangatnya kita kibarkan setiap hari senin dan hari hari besar negeri ini?sebuah ritual yang lucu dan tidak berguna apabila kita tidak memahami makna yang terkandung di dalamnya. Merah putih dan ritual yang menyertainya akan memiliki arti ketika kita memiliki kecintaan terhadap negeri ini.

Begitupun dengan ritual beberapa tahun lalu dipegunungan Tarlawi, sebuah ritual yang dilakukan karena kecintaan terhadap alam, sebuah ritual yang mengharapkan adanya keseimbangan antara alam dan manusianya, Sebuah kearifan lokal yang kalau kita konversikan dengan masa modern ini adalah bahwa gunung dan hutan dihormati karena ia keramat. Keramat bukan karena hutannya diisi mahluk gaib. Bukan juga karena hal-hal mistis lainnya. Melainkan keramat karena pohon-pohonnya menjaga sungai-sungai tetap mengalir. Karena kuat akar-akarnya menjaga air laut yang menjadi hujan bisa disimpannya sehingga tidak membanjiri lembah-lembah. Kalau kita kaitkan dengan kejadian kejadian sekarang, banjir menimpa dana Mbojo dan daerah daerah lainnya,mungkinkah karena “ritual” kecintaan dan penghormatan terhadap alam sudah tidak ada??(*)

* Muhammad Ramadhan,S.Pd

    Citizen Journalism

   



 
KM LENGGE

KM LENGGE

KM Lengge Wawo Sekretariat : Jln Lintas Bima Sape KM 17 Komplek Lapangan Umum Wawo, Maria Utara Bima - Contac Person : 085338436666/085312521100 - Email : wawolengge@gmail.com - Koordinator : Edy Irfan Anggota : Galank, Ahyar, Benk, Jhuan, Andri

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan