logoblog

Cari

Tutup Iklan

Merarik: Wisata Budaya Di Pulau Lombok

Merarik: Wisata Budaya Di Pulau Lombok

Merarik: Wisata Budaya di Pulau Lombok Oleh: Wardie Pena Dalam suatu pertemuan penulis di kota Bogor, seorang perempuan Sunda sempat bertanya

Budaya

Marzuki Wardi
Oleh Marzuki Wardi
26 Desember, 2017 11:25:09
Budaya
Komentar: 0
Dibaca: 21546 Kali

Merarik: Wisata Budaya di Pulau Lombok

Oleh: Wardie Pena

Dalam suatu pertemuan penulis di kota Bogor, seorang perempuan Sunda sempat bertanya ketika dia mengetahui status pernikahan saya. “Waktu nikah dulu, berarti Bapak nyongkolan, ya?” katanya. Sebagai seorang yang asing dan baru pertama kali bertemu dengannya, tentu saya cukup kaget. Terlebih, ketika seorang teman laki-laki dari perempuan tersebut yang berdiri tak jauh darinya menyahut dengan mimik heran, “Wah, jadi Mas menculik dong?” Spontan dua pertanyaan tersebut kemudian menimbulkan keingintahuan teman-teman yang berasal dari daerah lain di Nusantara. Mereka meminta saya menjelaskan secara kronologis, apa dan kenapa menculik itu biasa ditempuh dalam proses pernikahan adat Sasak.

Tentu dengan perkembangan teknologi komunikasi dan informasi seperti saat ini, orang-orang bisa saja dengan mudah mengeksplorasi apa yang ingin mereka ketahui. Termasuk perihal adat-istiadat atau budaya daerah lain di Nusantara. Namun, apa yang didapat dari internet terkadang boleh jadi tidak memuaskan hasrat keingintahuan mereka. Karena itu, tidak heran jika mereka meminta saya untuk menjelaskan detail salah satu ikon budaya di daerah Lombok, NTB ini: merarik.

Timbulnya pertanyaan di atas tidak terlepas dari stereotip bahwa menculik merupakan sebuah keniscayaan dalam proses pernikahan adat Sasak. Disamping itu, adanya istilah “memaling” sebagai langkah awal dalam prosesi tersebut juga merupakan salah satu faktor yang menyetarakan merarik dengan kawin lari—meskipun tidak semua pasangan menempuh cara ini.

Sejauh ini, memang terdapat perbedaan pendapat dari tokoh adat Sasak mengenai hal tersebut. Haji Lalu Syapruddin, misalnya. Menurut pendapat beliau, banyak yang keliru dalam memahami  kata maling dalam proses merarik. Maling dalam hal ini tidak dapat diartikan sama dengan maling pada umumnya yang dilakukan oleh pencuri. Namun, maling dalam merarik itu maksudnya adalah dipalingkan dari kekuasaan sang Ayah dari pihak perempuan. Bukan maling atau mencuri sebagaimana yang dipahami secara umum.[1]

Selain beliau, tokoh lain yang mengomentari tradisi ini adalah M. Yamin. Merarik  berasal dari kata arik yang berarti adik perempuan. Karena itu, merarik secara bahasa berarti menikahi seorang gadis untuk dijadikan seorang istri kemudian dipanggil arik oleh suaminya dalam kehidupan keseharian mereka.[2]

Pendapat ini kemudian hampir mirip dengan pendapatnya Lalu Lukman. Menurut beliau, kata merarik berasal dari dua kata, mara yang berarti datang dan “ri’” yang berarti diri. Jadi, merarik berarti mendatangkan diri atau menyerahkan diri. Yaitu, penyerahan diri dari dua makhluk yang berlainan jenis untuk hidup bersama.[3]

Walaupun para tokoh di atas memiliki pandangan yang berbeda tentang istilah merarik. Tapi, setidaknya, benang merah yang dapat kita tarik adalah proses dari merarik ini dilangsungkan tanpa pengetahuan Ayah atau keluarga dari perempuan yang hendak dinikahi. Lagi pula, sebagaimana fokus di awal tadi, yang ingin saya sampaikan dalam tulisan ini adalah faktor yang mendorong pemuda Sasak dalam proses merarik. Adapun, beberapa faktor di bawah ini merupakan hasil pemgamatan secara langsung di lapangan dan komunikasi dengan beberapa tokoh adat.

  1. Tradisi suku Sasak

Masyarakat Sasak yang pada umumnya melangsungkan pernikahan dengan kawin lari ini tidak terlepas dari rangkaian histrois. Yakni, karena memang cara tersebut sudah menjadi tradisi dari para leluhur Sasak. Sehingga sampai saat ini warisan tersebut masih berkembang, baik di kalangan masyarakat primitif maupun yang cenderung dinilai modern.

  1. Restu Orang Tua

Selain telah menjadi tradisi, tidak jarang juga masyarakat yang melakukan kawin lari karena alasan tidak direstui oleh orang tua perempuan. Karena dengan cara itu, keluarga dari pihak perempuan mau tidak mau akan merestui anaknya ketika ia dilarikan, sebab jika anaknya dikembalikan maka itu akan menjadi aib atau fitnah besar keluarganya.

  1. Rivalitas (Persaingan)

Dalam tradisi Sasak, dikenal adanya istilah beberayean (pacaran) dan midang (mengunjungi rumah seorang gadis). Hal ini menimbulkan adanya keleluasaan dari pihak laki-laki untuk mendatangi rumah si gadis yang ia inginkan dengan cara baik-baik (midang) dan memungkinan beraye (pacar) si gadis lebih dari satu orang pria. Oleh sebab itu, pria yang satu akan merasa khawatir apabila suatu waktu pacarnya akan dibawa lari pemuda lain yang menjadi saingannya. Maka, untuk menghindari kemungkinan ini, pemuda yang menjadi pacarnya akan menculik si gadis terlebih dahulu sebelum pemuda saingannya tersebut. Filosofinya, dalam bahasa Sasak, adalah “Pataq reket pare rau, semarang ceket iye mauq” yang kurang lebih bermakna siapa yang cerdik, dialah yang dapat.

  1. Kondisi Ekonomi

Dalam hal pernikahan, masyarakat Sasak terkenal dengan ungkapan mereka, “Edaq ceriten mayit ndeq tetukaq” atau masyarakat lain dengan dialeq yang berbeda mengatakan, “Ndeq arak ceritene mayit ndeqne gin tetukaq” (tidak ada ceritanya mayit yang tidak akan dikubur). Ungkapan ini membuktikan keyakinan mereka yang kuat bahwa sesulit apapun kendala dalam keuangan, pasti akan dilewati (terlunasi) juga.

Atas dasar itu, banyak pemuda Sasak nekad untuk menikah dengan cara kawin lari meskipun mereka terhimpit secara ekonomis (keuangan). Tidak lain yang diharapkan untuk menyelesaikan biaya nikah adalah pinjaman uang baik dari keluarga, kerabat, teman, maupun tanggungan dari orang tua sendiri. Namun, berkat keyakinan mereka yang sangat kuat, hutang tersebut pasti dilunasi dalam jangka waktu yang tidak lama sesuai dengan perjanjian dengan pihak yang memberi hutang.

 

Baca Juga :


Disamping kondisi di atas, masyarakat Sasak juga seringkali dihadapkan pada sebuah pertimbangan yakni apabila pihak laki-laki yang hendak menikah dengan cara melamar, mereka biasanya dianggap sudah memiliki persiapan ekonomi yang matang sehingga orang tua si gadis calon istrinya tidak jarang meminta uang mahar yang tinggi. Maka, untuk menghindari ini, si pemuda tersebut terpaksa menempuh kawin lari, sebab tawar menawar mahar dapat dilaksanakan di kemudian hari pada proses membicarakan ajikrama atau pesuka (mahar) dengan orang tua.

  1. Maskulinitas (Kejantanan)

Pemuda Sasak rata-rata memiliki nyali (keberanian) yang cukup tinggi dalam menunjukkan kejantanan mereka. Ini terlihat ketika mereka mengadu keberanian dalam berbagai acara tradisional seperti peresean[4] dan sebagainya. Mereka, terutama masyarakat primitif, akan merasa bangga ketika bisa menunjukan kejantanan mereka di muka umum.

Penjiwaan seperti ini akan terbawa dalam hal pernikahan sehingga membawa lari seorang gadis yang menjadi calon istrinya adalah pilihan utama. Hal ini merupakan sebuah kebanggaan yang dapat ditunjukkan kepada pemuda (Sasak) lainnya. Disamping itu, si gadis juga terkadang akan merasa bangga ketika ia bisa dibawa lari oleh seorang pemuda yang akan menjadi calon suaminya.

  1. Superioritas

Faktor yang terakhir ini dapat berlansung apabila seorang pemuda berkeinginan untuk menikah dengan seorang gadis yang ia kenal dekat, namun si gadis merasa belum siap atau tidak mau menikah dengan pria tersebut. Maka alternatif terakhirnya adalah dengan membawa lari si gadis tersebut. Adapun tekhnik yang sering ditempuh dalam proses ini adalah dengan tim yang terdiri dari 2 atau lebih orang. Satu orang bertugas untuk mengelabui si gadis agar bisa keluar dari kekuasaan orang tua atau keluarganya. Satu orang lainnya bertugas menjemput dan membawa si gadis ke suatu tempat atau lansung ke rumah calon suaminya.

 

Faktor-faktor di atas bukanlah sebuah hal yang mutlak. Tentu saja masih terdapat faktor atau alasan lain yang mendorong terjadinya kawin lari di kalangan pemuda Sasak. Uraian singkat ini hanyalah sebuah usaha menyuguhkan wisata budaya Sasak kepada teman-teman di luar pulau Lombok. Karena itu, mohon kepada para pemangku dan pemerhati adat Sasak agar tidak menafsirkan uraian singkat ini sebagai sebuah kelancangan kultural.

Lombok Tengah, 26 Desember 2017.

Wardie Pena, menulis Cerpen, Esai dan Resensi. Beberapa diantaranya telah dimuat di berbagai media lokal dan nasional. Bulan Agustus lalu, artikel opininya di bidang pendidikan masuk nominasi 10 besar dan mendapat penghargaan dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI. Buku tunggalnya, Negeri Antah Berantah (Penerbit MM, 2016).

[1] Disampaikan dalam Pelatihan dan Pembekalan Pengurus Bale Sangkep Desa Sintung dan Desa Kekait di Universitas Muhammadiyah Mataram pada tanggal 30 April.

[2] Aniq Ahmad, F. 2012. Konflik Peran Gender Pada Tradisi Merarik di Pulau Lombok, Conference Proceedings: Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS XII), halaman 2324.

[3] Ibid.

[4] Tradisi adu ketangkasan (semacam olahraga) dengan saling memukuli dengan sebuah tongkat yang terbuat dari rotan.



 
Marzuki Wardi

Marzuki Wardi

Penulis bernama pena Wardie Pena ini lahir dengan nama Marzuki Wardi. Sejak lahir hingga saat ini ia masih tinggal di Desa Sintung, Kecamatan Pringgarata, Lombok Tengah.

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan