logoblog

Cari

Tutup Iklan

Masihkah Ada Harapan di Desa Saya?

Masihkah Ada Harapan di Desa Saya?

Saya sering berfikir mengapa harus ada orang miskin di desa saya di tengah alamnya yang subur? Tidak bisakah kesuburan alam itu

Budaya

Ahyar ros
Oleh Ahyar ros
23 Desember, 2017 17:43:34
Budaya
Komentar: 0
Dibaca: 2757 Kali

Saya sering berfikir mengapa harus ada orang miskin di desa saya di tengah alamnya yang subur? Tidak bisakah kesuburan alam itu menjadikan warga desa saya hidup sejahtera atau minimal dapat memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari? Apa sebabnya alam yang subur tidak memberikan kesejahteraan? Sederet pertanyaan itu terus menganggu saya, setidaknya sejak saya duduk di bangku madrasah tingkat pertama.

Sejahtera, mungkin kata itu sudah lama hilang dari ingatan sebagian besar rakyat Indonesia. Atau sengaja dihapus, sebab puluhan tahun merdeka rakyat tak kunjung merasakan manisnya buah kemerdekaan itu. Bagi rakyat Indonesia saat ini, kebutuhan dasar saja dapat terpenuhi sudah cukup, karena mengharap kesejahteraan mungkin adalah sebuah “kemustahilan”.

Tapi benarkah demikian? Benarkah untuk menjadi sejahtera tidak tersedia lagi peluang di negeri ini? Saya tak tahu jawabnya, saya hanya akan bercerita soal desa kelahiran saya untuk mencoba melihat kemungkinan kemungkinan yang ada.

Saya lahir di desa Perian, sebuah desa kecil di sebelah selatan kaki gunung Rinjani. Desa saya memiliki kondisi tanah yang subur, di topang iklim tropis dengan  persediaan air melimpah. Hampir semua warga desa mengantungkan hidup pada pertanian, termasuk menjadi peternak sapi.

Di tengah kesuburan alam, cukup banyak warga desa saya hidup miskin. Sebagian lagi di bibir kemiskinan. Pemerintah menyebutnya pra sejahtera. Hakekatnya sama saja. Mereka hidup dalam kesulitan yang mendasar. Sulit sandang, sulit papan dan juga sulit pangan. Sementara petani yang ada saat ini makin tua, makin kurang produktif dan makin sulit diajak melakukan inovasi di sektor pertanian ini.

Masihkah ada harapan di desa saya? Bisakah sektor pertanian terus menjadi tumpuan kehidupan? Apa yang harus dilakukan di desa saya untuk memperbaiki keadaan? Untuk memastikan tidak ada lagi warga desa yang hidup miskin dan melarat? Banyak pertanyaan yang saya sendiri tidak tahu harus bertanya ke siapa. Tetapi dari perantauan, saya menyakinkan diri saya bahwa keadaan di desa saya tidak akan selamanya demikian. Perubahan yang lebih baik Insha Alloh akan datang.

Saya meyakini betul sektor pertanian di desa saya sepatutnya bisa terkelola lebih produktif. Keprihatinan terhadap keadaan ini mendorong sayaterus berfikir apa yang bisa saya lakukan untuk desa saya. Saya bertekad selesai menempuh pendidikan master di UGM, kembali ke desa mebangun “Balai Tani”.

Balai Tani yang saya bayangkan adalah tempat dimana petani berkumpul dengan tujuan produktif. Berembuk dan bertukar pikiran tentang berbagai masalah, termasuk penentuan harga jual produksi tani. Balai tani juga menjadi pusat informasi, pelayan dan konsultasi

pertanian. Sekaligus fasilitator berbagai pelatihan peningkatan pengetahuan dan kualitas sumberdaya petani. Petani di desa saya harus didorong untuk melakukan hal-hal yang baru. Seperti pemanfaatan limbah pertanian sebagai pakan ternak organik. Sehingga para peternak tak perlu khawatir dengan kekurangan stok rumput sebagai pakan utama. Begitu pula dengan limbah kotoran ternak (sapi) dapat dimanfaatkan untuk menjadi bahan pembuatan pupuk organik yang dapat digunakan oleh petani meningkatkan kesuburan tanah, dan mengurangi ketergantungan terhadap penggunaan pupuk kimia.

Mimpi saya tentang balai tani di desa saya ini mungkin bagi banyak orang adalah mimpi yang sederhana. Bukan mimpi yang besar dan megah. Tapi bagi orang desa saya, punya mimpi yang sederhana mungkin lebih berguna di tengahtengah kehidupan yang tidak mudah bagi mereka.

 

Baca Juga :


Impian saya membangun balai tani mungkin juga bukan ide yang orisinil. Saya tidak tahu adakah balai tani di desa lainnya. Yang saya tahu, di desa saya petani tidak terorganisir dengan baik. Pengetahuan mereka terbatas, lahan mereka juga kian susut. Mereka harus dipastikan mampu mengelola lahannya dengan cara yang efektif dan produktif. Termasuk juga dalam pengelolaan peternakan.

Saya harus mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya. Kembali ke desa adalah pilihan saya. Pilihan yang saya ambil dengan sadar untuk memperjuangkan satu cita-cita saya: membantu petani di desa saya untuk hidup lebih baik. Semoga Allah Subhanuhu Wataala memberi kemudahan bagi cita-cita saya itu. Saya harus bergegas menuntaskan pendidikan di Yogya dan kembali ke desa.

Masihkah ada harapan di desa saya? Dalam hati saya yang terdalam saya ingin menjawab tegas: masih. Tetapi saya tidak ingin banyak berkata-kata. Saya ingin bekerja dan membuktikannya nanti. Desa adalah masa depan. Desa adalah tumpuan harapan. Semoga!

Penulis

M. Zainul Asror

Alumnus STKIP Hamzanwadi Pancor

Master Pembangunan Sosial & Kesejahteraan, UGM

Yogyakarta, Mei 2015.



 
Ahyar ros

Ahyar ros

Peraih Beasiswa (Menulis Tempo & S2 LPDP Sholarship) Saat ini sedang kuliah di Institut Pertanian Bogor (IPB)

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan