logoblog

Cari

Tutup Iklan

Tradisi Menenun Di Sembalun Yang Tergerus Zaman

Tradisi Menenun Di Sembalun Yang Tergerus Zaman

Hj Merzaen sudah menenun sejak tamat SD bertahun-tahun yang lalu. Perempuan separuh baya ini menuturkan sejak 300 tahun yang lalu,  menenun telah

Budaya

Novita Hidayani
Oleh Novita Hidayani
14 Desember, 2017 12:48:05
Budaya
Komentar: 0
Dibaca: 2987 Kali

Hj Merzaen sudah menenun sejak tamat SD bertahun-tahun yang lalu. Perempuan separuh baya ini menuturkan sejak 300 tahun yang lalu, menenun telah menjadi tradisi di Sembalun yang sayangnya kini telah mulai tergerus zaman. 

Perempuan yang menjadi ketua kelompok tenun di tempatnya ini menuturkan bahwa pada zaman dahulu setiap anak gadis di sana harus bisa menenun sebagai tanda bahwa mereka tidak lagi anak-anak dan telah tumbuh dewasa. 

"Zaman dulu, setiap rumah memiliki alat tenun. Setiap hari suara tenun bersahut-sahutan terdengar dari rumah ke rumah," kenang Hj. Merzaen. 

Sayangnya, tradisi menenun kini tidak lagi dilakukan. Kebanyakan anak gadis pergi sekolah bahkan tidak sedikit yang pergi modok ke pondok pesantren sehingga tak memiliki waktu lagi untuk belajar menenun. 

"Anak sekarang juga kebanyakan malas belajar karena menenun ini susah," tuturnya. 

Meski telah tergerus zaman, Hj. Merzaen adalah salah satu perempuan yang masih menekuni tradisi menenun. Hampir setiap hari di depan rumahnya ia menenun beraneka motif kain maupun selendang. Beberapa diantaranya adalah motif khas gunung rinjani. 

 

Baca Juga :


"Saya tetap menenun karena saya mencintai tradisi ini. Selain itu hanya ini yang dapat saya kerjakan untuk menghasilkan uang. Kelak saya juga berharap dapat mewarisi kain yang saya tenun kepada anak cucu saya," tambahnya.

Tenunan Hj. Merzaen sendiri dihargai berkisar dua ratua ribu sampai satu juta lebih tergantung kerumitan motif dan panjang kain. Selain itu ada kain tenunan yang umurnya sudah ratusan tahun tetapi tidak dijual karena telah menjadi warisan turun temurun. 

"Saya berharap semoga banyak pihak dapat membantu kelestarian kerajinan tenun di daerah ini," kata Hj. Merzaen diakhir wawancara. (nov)



 
Novita Hidayani

Novita Hidayani

email: hidayaninovita@gmail.com facebook: Novita Hidayani twitter: @yfoundme

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan