logoblog

Cari

Tutup Iklan

Pemalik Leket Bayan

Pemalik Leket Bayan

KM. Sajang Bawak Nao _ Hal yang sangat perlu diperhatikan bagi para pendatang dan para wisatawan yang ingin mengunjungi Bayan dengan

Budaya

KM. Sajang Bawak Nao
Oleh KM. Sajang Bawak Nao
01 Desember, 2017 21:08:27
Budaya
Komentar: 0
Dibaca: 2620 Kali

KM. Sajang Bawak Nao _ Hal yang sangat perlu diperhatikan bagi para pendatang dan para wisatawan yang ingin mengunjungi Bayan dengan ragam budayanya seperti Maulid Adat dan sebagainya, tapi sebelumnya kami akan mengajak anda untuk perkenalan Wilayah Bayan terlebih dahulu.

Bayan yang terletak di Kabupaten Lombok Utara merupakan daerah awal masuknya Islam di Pulau Lombok, yang dibawa oleh para Wali Songo terbukti dari adanya Masjid Kuno Bayan sebagai masjid pertama dan menjadi pusat penyebaran agama Islam pada abad ke 16 di Pulau Lombok, kemudian terjadilah penggabungan antara adat sasak dan agama Islam. Di areal masjid yang bentuk bangunannya masih sangat tradisional ini dikelilingi oleh beberapa maqam para leluhur penyebar agama Islam di Pulau Lombok seprti maqam Gauz Abdul Razak yang disebut makam Reaq terletak di barat daya masjid, maqam Titik Mas Pelawangan di bagian selatan masjid, maqam Titik Mas Penghulu dibagian timur laut masjid berderet kearah barat maqam Sesait, maqam Karang Salah dan Makam Desa Anyar.

Konstruksi atap masjid kuno Bayan mencerminkan tingginya penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi masyarakat adat Bayan. Atap bangunan dengan kemiringan yang sangat tajam tampaknya mempercepat jatuhnya air hujan ke tanah.

Menapaki pintu masjid ini para pemeluk menunjukkan penghormatannya pada sang Khalik dengan berjalan menunduk. Memang pintu masjid itu nyaris tidak tampak karena atapnya yang menjurai kebawah sekitar satu meter dari permukaan tanah. Ini membuat orang yang masuk mau tak mau harus menundukkan kepala. Sikap menunduk ditambah larangan-larangan tadi, adalah symbol penghormatan dan pengabdian pada Tuhan Yang Maha Kuasa, bahwa betapa kecilnya manusia di hadapan Sang Khaliq, dan shalat itu juga sebenarnya cara menghambakan diri pada Sang Pencipta. Atas kehendaknya manusia itu ada, dan kepada-Nya pula manusia akan kembali.

Pemaliq Leket” adalah sesuatu yang tabu untuk dilakukan, apabila dilanggar maka akan berdampak kepada kemalangan bagi pelanggarnya. Dalam bahasa Sasak pada umumnya juga disebut “Tulah Manuh” atau Kualat. Ketaatan masyarakat adat Bayan terhadap adat dan agama itu terlihat pula saat mengunjungi tempat tinggal para pimpinannya. Misalnya untuk memasuki kampu yang dihuni tokoh agama (Maq Lebe dan Inaq Lebe) dan tokoh Adat (Maq Lokaq dan Inaq Lokaq) siapapun dia harus menngenakan pakaian adat Sasak Bayan seperti sarung, ikat kepala (sapuq) dan tanpa baju bagi para pria, serta semacam kemben (Jawa) untuk wanita. Selain itu komunitas adat Bayan juga dilarang memakai pakaian dalam dan perhiasan. Aturan yang sama berlaku juga bila orang memasuki masjid kuno.

 

Baca Juga :


Demikianlah proses Maulid adat Bayan, yang bagi peneliti kelebihan Bayan mungkin menjadi inspirasi dan media keilmuan yang tiada berkesudahan. Bagi para tamu pengunjung, dari Bayan mereka akan memperoleh suguhan unik dan sarat makna yang dimanapun dan kapanpun tidak dapat dijumpai di luar Pulau Lombok.

 



 
KM. Sajang Bawak Nao

KM. Sajang Bawak Nao

Nama: Hajrul Azmi TTL : Bawak Nao, 12 Desember 1991 Alamat: Bawak Nao Desa Sajang Kecamatan Sembalun Pekerjaan : Swasta Tempat Kerja: SMK NW Kokok Putik No HP. 083129302602 087763391798

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan