logoblog

Cari

Tutup Iklan

Begawe/Roah Gubuk, Spirit Persatuan

Begawe/Roah Gubuk, Spirit Persatuan

Pelataran Kemaliq Lingsar-Lombok Barat (Lobar) dipenuhi pengunjung. Sebagian dari mereka didominasi pejabat pemerintah. Dari bupati, Ketua DPRD, FKPD, Sekda, Asisten, Staf

Budaya

Pangkat Ali
Oleh Pangkat Ali
29 November, 2017 16:17:08
Budaya
Komentar: 0
Dibaca: 2648 Kali

Pelataran Kemaliq Lingsar-Lombok Barat (Lobar) dipenuhi pengunjung. Sebagian dari mereka didominasi pejabat pemerintah. Dari bupati, Ketua DPRD, FKPD, Sekda, Asisten, Staf Ahli, Pimpinan SKPD, Camat, kepala desa, bahkan pejabat di bawah kepala desa, kepala dusun dan RT pun tumpah ruah. Menyusul masyarakat biasa dan para pelaku budaya. Mereka sengaja hadir untuk melengkapi kemeriahkan acara pagi ini. Ya, hari ini pemerintah setempat melalui Dinas Pariwisata Lobar, sedang menggelar acara Begawe/Roah Gubuk. Acara ini sebagai rangkaian dari gelaran acara puncak Perang Topat yang akan digelar beberapa ke depan.

Begawe Gubuk, dikembangkan dalam rangka mempersatukan semangat dan spirit masyarakat. Semangat dan spirit ini, dianugerahkan bagi masyarakat Lobar yang “besemeton” (bersaudara) antara Suku Sasak dan orang Lombok yang beragama Hindu, bukan orang Bali, tapi orang Lombok yang beragama Hindu dan orang Sasak yang beragama Islam. “Kalau orang Bali, yang lahir dan tinggal di Bali, tapi orang Bali yang lahir di Lombok, itu orang Sasak yang beragama Hindu,”  papar Kepala Dinas Pariwisata Lobar, Ispan Junaidi saat memberikan arahah pada gelaran Begawe/Roah Gubuk di pelataran Kemaliq Lingsar, Senin (27/11).

Semangat dan spirit kebersamaan sering dipilosofikan dengan Pure dan Kemaliq. Dimana ada Pure, di sana ada Kemaliq. Itulan spirit besemeton. Pilosofi besemeton ini disambung dan disimbulkan dengan gelaran begibung, makan bersama dalam satu nampan. Menurut Ispan, acara Begawe Gubuk ini akan ditradisikan, sepekan sebelum acara puncak Perang Topat. Diharapkan, tiap kecamatan se Lobar akan melakukan kegiatan yang sama di masing-masing wilayah kecamatan. Smuanya sebagai even budaya.

Memang spirit ini sungguh mahal. Spirit merasa besemeton sangat mahal sekali. Apalagi di tengah-tengah suasana dunia sekarang ini yang sedang porak poranda, dimana orang banyak bertengkar, bercerai berai, dimana-mana orang penuh dengan pertikaian. Maka mulai hari ini, diawali dari Lingsar, spirit ini menuju spirit nusantara dalam rangka merajut harmoni dan mencegah keangkaramurkaan dan disintegrasi. Besar harapan semua, tahun 2018 mdatang, rangkaian Begawe Gubuk ini, akan dihadiri Presiden RI, Joko Widodo (Jokowi).

Acara Begawe Gubuk pun dihajatkan untuk mensyukuri nikmat Tuhan, dimana pelaksanaan pembangunan inprastruktur jalan di wilayah Sayang-sayang (Kota Mataram) menuju kecamatan Narmada. Dari luar kompek pelataran Pure dan Kemaliq, sudah menghabiskan dana yang tidak sedikit. Totalnya lebih dari Rp.7 milyar.  Sebagai pengelola kepariwisataan di Lobar, sudah sepantasnya bertanggung jawab dan berterima kasih selaku pengelola pariwisata dan budaya. Tanggung jawab itu secara khusus bagi warga Banjar dan Krame Pure yang telah memberikan hibah dan kerja sama untuk penggunaan lahan di sebelah utara pelataran. Saat itu pun para Banjar dan Krame Pure sengaja hadir, tujuannya untuk bersama-sama hadir, begibung serta mengiuti agenda acara Gawe Gubuk.

Sudah sepantasnya pihak pemerintah berterima kasih atas kerelaan hati para Banjar dan Krame Pure yang telah menghibahkan lahannya, maka pembangunan lahan parkir, lahan PKL serta lahan kebutuhan kegiatan seluruh even budaya di Taman Lingsar ini. Setidaknya, ini merupakian sebuah kebijakan yang patut digugu, karena tanah pemerintah yang digunakan oleh masyarakat sudah biasa dilakukan, tetapi tanah masyarakat yang digunakan untuk kebutuhan pemerintah, ini yang luar biasa. “Kalau dihitung secara finansial, totalnya mungkin lebih dari Rp.15 Milyar,” tegas Ispan seraya mengaku konsekwen, tahun 2018 mendatang, pihaknya akan berjanji, melalui dana DAK, pembangunan yang belum selesai akan segera diselesaikan.

Senada dengan Ispan, Bupati Lombok Barat, H. Fauzan Khalid pun menginspirasi, masalah kebhinekaan di republik ini salah satu sorotan banyak pihak. Dan salah satu momentum Gawe Gubuk serta Perang Topat di Lingsar ini, semakin menemukan titik strategisnya. Demikian juga dengan pertemuan alumni Universitas Al-Azhar-Mesir-Cairo di Islamic Center-Mataram beberapa waktu lalu. Salah satu inti rekomendasi pertemuan itu adalah, NTB akan dijadikan sebagai model penerapan Islam moderat di dunia. “Di satu sisi, NTB khususnya Lombok, 90 persen lebih beragama Islam,” kata Fauzan.

Di lain sisi kata mantan Ketua KPU NTB ini, umat-umat agama lain, hidup dengan tengan, aman damai dan dengan tenang pula melakukan semua kegiatan keagamaan. Ini patut disyukuri dan dibanggakan. Kebhinekaan dan toleransi yang kuat di daerah NTB sebagai nikmat yang harus disiarkan kepada semua orang supaya bisa diteladani.

 

Baca Juga :


Polosofi perang topat kata Fauzan, memang betul-betul cerminan dari kebhinekaan, cerminan dari toleransi. Keseluruhan prosesinya melibatkan dua komunitas berkeyakinan berbeda, Islam dan Hindu. Keseluruhan prosesi dan kegiatan yang mengiringi setiap kegiatan prosesi itu, melibatkan dua agama. Dan di dalamnya mencerminkan nilai toleransi. “Contoh kecil, pada hari ini kita menggelar Begawe Gubuk, kemudian nanti menjelang Perang Topat, ada prosesi arakan hewan kerbau,” jelas bupati.

Pada prosesi arakan hewan kerbau ini, sengaja tidak menggunakan hewan berupa sapi, melainkan kerbau. Karena sapi merupakian hewan yang disucikan. Demikian pula kenapa tidak babi, karena teman-teman Hindu pun menghormati umat Islam yang mengharamkan babi. Maka dipilhlah kerbau. Dan pilihan ini tanpa konflik, tetapi betul-betul atas dasar kesadaran dari orangtua terdahulu. Generasi sekarang tinggal melanjutkan kebijakan dan hikmah yang sudah diciptakan dan dicontohkan oleh para tetua dahulu.

Setelah mengupas tentang kebhinekaan, Fauzan juga menyinggung tentang pariwisata. Di Lobar telah menetapkan patiwisata sebagai industri andalan untuk mengangkat harkat dan kesejahteraan masyarakat Lobar. Dan beberapa tahun terakhir, pihaknya telah menciptakan dan mengembangkan destinasi baru. Awalnya hanya Senggigi, sekarang melebar ke Sesaot, Buwun Sejati, Pakuan, Taman Lingsar, Gunung Sasak, Gunung Jae. “Dan destinasi di bagian Selatan yang potensi luar biasa yaitu Sekotong,” kata bupati seraya menyatakan, pembangunan destinasi ini dikerjakan secara pelan-pelan, karena dari sisi modal belum sempurna. Tapi yang sangat membanggakan yang pasti adalah, partisipasi dan keikutsertaan masyarakat untuk mendorong, agar destinasi pariwisata baru ini bisa berkembang dengan lebih cepat dan pesat.

 Terkait even Perang Topat yang digelar beberapa hari lagi, bupati berharap gemanya terus ditingkatkan. Tujuannya bukan untuk sombong, tetapi ingin memberikan isarat kepada orang bahwa, masyarakat Lobar siap menjadi contoh, menjadi daerah terdepan dalam merealisasikan masalah kebhinekaan ini.

Usai memberikan arahan, bupati didaulat untuk melepas puluhyan burung dara sebagai simbul perdamaian. Pada kesempatan yang sama, bupati juga membuka even perisaian sebagai bagian dari kegiatan perang damai, yaitu Perang Topat di Lingsar. Simbul kebersamaan lainnya adalah, dilanjutkan dengan ‘begibung’, makan bersama dalam satu wadah nampan berisi lauk ares, urap, kuah, dan opor. []



 
Pangkat Ali

Pangkat Ali

Save Our Gumi Paer...LOMBOK Lalu Pangkat Ali, kesehariannya sebagai ASN -Pejabat Fungsional Pranata Humas Permkab.Lobar. Tinggal di Desa Kopang-Lombok Tengah. CP & WA: 081907941070. Fb: Fotografer Kopang & Eliza Agniya

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan