logoblog

Cari

Tutup Iklan

Taji Mara, Cara Orang Tonggorisa Menikmati Musim Panas

Taji Mara, Cara Orang Tonggorisa Menikmati Musim Panas

Dari kejauhan terdengar suara yang keluar dari pengeras suara di pinggir sawah desa Tonggorisa, dengan membaca nama-nama dan nomor. Awalnya saya

Budaya

Fahrurizki
Oleh Fahrurizki
03 November, 2017 18:15:02
Budaya
Komentar: 0
Dibaca: 2736 Kali

Dari kejauhan terdengar suara yang keluar dari pengeras suara di pinggir sawah desa Tonggorisa, dengan membaca nama-nama dan nomor. Awalnya saya mengira bahwa itu pacuan kuda lokal setelah menengok kedalam areal persawahan sumber dari suara tersebut, saya melihat tak ada satupun kuda namun ada hanya orang-orang yang sedang asik memegang layang – layang atau biasa disebut Mara oleh masyarakat lolal.

Dan ternyata ini adalah pertandingan layangan saya kira kemudian di pinggir areal perlombaan ada tiga orang juga sedang asik nonton, sayapun menanyakan lagi pada mereka apakah betul ini pertandingan Mara, iya betul dek, kata salah seorang yang sedang asik menonton.

Tidak menyangka bisa mendapati aktivitas Taji Mara ini ketika pulang bersilaturahmi dari rumah keluarga di desa Samili, Woha. Sangat jarang sekarang layangan bisa dilihat pada area perkotaan, apalagi jenis Mara untuk pertandingan ini. Dari arah utara terdengar suara panitia pertandingan membaca nama-nama yang sangat aneh sekali didengar yaitu Hanoman, Putra Angin dan lain sebagainya. Lalu saya menanyakan kembali pada orang sebelah saya yang sedang juga asik menonton, itu nama-nama Mara yang disebutkan ya pak, Tanya saya, iya betul, kata bapak itu.

Aktivitas ini dikenal dengan nama Taji Mara oleh masyarakat Desa Tonggorisa, Palibelo, Kabupaten Bima. Kegiatan ini biasa dilakukan pada musim panas menjelang masuk musim hujan. Dimana sebenarnya Taji Mara yang berawal masyarakat menyejukkan diri di pinggir sawah sambil bermain layangan, kemudian berkembang menjadi banyak dan lalu muncul gagasan untuk memeriahkannya dengan membuat perlombaan.

 

Baca Juga :


Wah ini semakin menarik sahut saya dalam hati. Tak mengira ternyata ada aktifitas yang sangat menarik ini, dimana cara menilai perlombaan sangat unik dan cerdas. Dimana deretan papan di pancang  di arah barat dan pada papan tersebut sudah ada nomor dan pengukur yang digambar pada papan, peserta tinggal mengikat tali Mara mereka, dan di ujung timur ada seorang yang bertugas menerbangkan layangan disebut “Ma Co`o Mara”.

Setelah semua peserta sudah siap mengikat tali Mara mereka pada papan. Lalu para Ma Co`o Mara tinggal menunggu hembusan angin yang bagus dan besar. Angin mulai datang dari selatan, panitia memberi aba-aba dalam hitungan satu hingga tiga, serentak mereka melempar Mara di ikuti teriakan para penonton menyebutkan nama Mara yang mereka jagokan. Angin bertiup tambah kencang hingga 1 menit panitia memberikan aba-aba perlombaan selesai, setelah itu tinggal mengumpulkan nilai Mara siapa yang terbang mencapai angka tertinggi yang ditunjukkan oleh tali pada papan. Setiap papa nada petugas dari panitia yang mencatatnya, kemudian dikumpulkan dan Mara siapa yang mencapai angka tertinggi langgsung diumumkan saat itu juga.

Perlombaan Taji Mara bisa berlangsung selama 1 minggu dan dalam sehari perlombaan bisa berjalan dri jam 1 siang hingga 5 sore menjelang Maghrib, kata masyarakat yang sedang asik menggulung tali Mara  bersiap untuk pulang. Setiap peserta perlombaan mempunyai Mara satu hingga 5, kadang ada juga yang sambil menjual pada penonton maupun peserta lainnya dengan harga bekisar dari Rp. 20.000 hingga Rp.50.000 yang disesuaikan dengan record Mara. Pada tribun panitia terdengar suara perlombaan akan dilanjutkan besok, dan seluruh masyarakat serta peserta lomba bergegas untuk pulang “Maira Ta Dula Waura Rindi Ai” kata panitia dengan menggunakan Ngahi Mbojo (bahasa Bima) yang keluar pada pengeras suara, yang berarti ao kita pulang hari sudah mulai gelap.     



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008 - 2017 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan