logoblog

Cari

Tutup Iklan

Tradisi Sedekah Lawang Agung

Tradisi Sedekah Lawang Agung

Tradisi merupakan adat kebiasaan turun-temurun dari nenek moyang  yang masih di jalankan oleh masyarakat dan menjadi bagian hidup mereka. Di banyak tempat

Budaya

Randal Patisamba
Oleh Randal Patisamba
24 Oktober, 2017 15:09:03
Budaya
Komentar: 0
Dibaca: 2528 Kali

Tradisi merupakan adat kebiasaan turun-temurun dari nenek moyang  yang masih di jalankan oleh masyarakat dan menjadi bagian hidup mereka.

Di banyak tempat di Sumbawa, tradisi masih dan tetap di pertahankan dan di laksanakan oleh masyarakat sebagai bagian dari proses daur hidup mereka. Nilai-nilai suatu tradisi dapat di yakini sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah swt dan penghormatan kepada leluhur. Tradisi juga di maknai sebagai nilai positif kearifan lokal di dalam bermasyarakat. 

Nilai-nilai inilah yang tetap di pegang teguh oleh masyarakat Desa Pernek melalui Sadekah Lawang Agung. Berawal dari kondisi masyarakat Pernek yang pernah mengalami masa-masa sulit. Pada jaman dahulu terjadi musim kemarau yang berkepanjangan. Ketersediaan bahan pangan di rasa sedikit sekali akibat gagal panen yang terjadi pada waktu itu. Sumber mata air juga mulai berkurang. Di tambah dengan banyaknya warga masyarakat yang terserang berbagai macam penyakit. Boleh di kata, kehidupan mereka saat itu mengalami cobaan yang cukup berat. Banyak warga masyarakat yang kemudian mencari nafkah berupa bahan makanan seperti padi dan jagung ke kampung lain untuk menopang kehidupan mereka.

Berangkat dari kejadian tersebut, para pemuka agama dan pemuka adat melakukan urung rembuk untuk membahas kondisi yang sedang di alami oleh warga. Hasil urung rembuk tersebut mereka sepakati mencari seseorang yang di yakini akan sanggup memberi mereka jalan keluar. Setelah mencari ke segala penjuru, akhirnya mereka menemukan seorang sandro bernama Papin Idik di sebuah kampung yang sekarang di kenal dengan Kampung Bugis. Papin Idik menyarankan agar di lakukan tiga ritual.

Ritual Liuk Desa, para warga di suruh berkeliling kampung sambil membaca doa memohon kepada Allah swt agar seluruh warga kampung di jauhkan dari gangguan jahat. 

Ritual Bagi Bete di lakukan di gerbang (lawang) kampung selama dua hari. Seorang tetua perempuan-biasanya isteri ketua adat, membagi bete jagung (semacam kembang jagung)  kepada anak kecil. Para anak-anak kemudian berhamburan untuk mendapat bete yang paling banyak. Ini dimaknai bahwa selain padi, jagung juga merupakan makanan pokok pada saat itu. 

 

Baca Juga :


Besoknya selepas ba'da azar atau hari ke tiga, di laksanakan Acara Sedekah Lawang Agung. Para pemuka agama, tokoh masyarakat beserta warga lainnya berkumpul di gerbang (lawang) kampung. 

Pemuka agama memimpin doa tolak bala. Memohon doa kepada Allah swt agar hidup mereka senantiasa di beri rasa aman tenteram, damai dan sejahtera, diberi keselamatan di dunia dan akherat. 

Selesai berdoa mereka kemudian makan bersama (Mangan Baliuk) menyantap makanan dan penganan dalam sebuah nyiru yang di alasi daun pisang. 

Kemarin, setelah sekian tahun kemudian, saya ikut merasakan sasanau sakral Sedekah Lawang Agung. Khusyu’ dalam kesyukuran dan larut dalam kebersamaan, mereka. Membangun silaturrahim memaknai peristiwa di masa lalu. Meresapi nilai dari sebuah tradisi.



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan