logoblog

Cari

Tutup Iklan

Kecantikan Kearifan Suku Samawa dalam Festival Raja Kepe

Kecantikan Kearifan Suku Samawa dalam Festival Raja Kepe

Setelah melaju sepeda motor dari Bima hingga ke Empang, Sumbawa. perjalanan memakan waktu 3 jam, berhubung itu Sabtu (14/10/2017) jadi jalan

Budaya

Fahrurizki
Oleh Fahrurizki
16 Oktober, 2017 10:47:58
Budaya
Komentar: 0
Dibaca: 15036 Kali

Setelah melaju sepeda motor dari Bima hingga ke Empang, Sumbawa. perjalanan memakan waktu 3 jam, berhubung itu Sabtu (14/10/2017) jadi jalan agak ramai oleh pengendara yang berakhir pekan atau pulang kampung, tepat pukul 3.00 Wita sore saya tiba di Empang dalam lawatan budaya event Festival Raja Kepe. Event ini berlokasi di ujung Timur wilayah Kabupaten Sumbawa tepatnya Kecamatan Empang. Festival di adakan di lapangan Empang pinggir jalan lintas Sumbawa – Bima.

Begitu tiba di Empang, terlihat masyarakat sedang ramai di ruas jalan, tampaknya mereka sedang menunggu peserta pawai. Tibanya di lapangan, peserta dan masyarakat sudah sangat ramai, mobil dan sepeda motor memenuhi pinggir jalan, dari dalam lapangan terdengar suara MC mempersiapkan acara, saya pun mencari tempat parkir untuk sepeda motor.

Seusai memarkir sepeda motor dalam areal parkir kantor setempat saya pun menuju kedalam acara. Tampak berbagai kostum yang dikenakan masyarakat Empang sangat beragam, mulai dari Batedung pakain khas perempuan Samawa hingga topi yang terbuat dari daun lontar yang bernama Soko Jontal. Mencari posisi untuk foto dan tampaknya di sebelah paggung utama sangat strategis, juga di tempat tersebut sudah ada berbagai fotografer dan cameramen dari TV swasta.

Posisi sudah pas dan acara di gelar oleh MC / pemandu dari atas panggung utama, dan ternyata MC adalah Haji Hasanuddin, salah seorang sesepuh Tana Samawa, beliau saya kenal baik biasa saya panggil dengan Daeng, sebuah panggilan untuk menghormati seorang dituakan pada pulau Sumbawa. Juga seorang sejarahwan dan budayawan Tana Samawa, juga adalah Pembina dalam Lembaga Adat Tanah Samawa (LATS).

Berbagai pertunjukkan dan atraksi budaya di tampilkan tengah lapangan oleh kelompok peserta dari berbagai instansi dan sekolah, orang di balik tribun tamu saling berdesakan ingin melihat pertunjukkan secara jelas. Keceriaan masyarakat pada event tersebut tampak pada wajah-wajah mereka yang selalu tersenyum pada setiap pertunjukkan. Semua bersorak dan bertepuk tangan setelah pertunjukkan selesai di panggung utama kemudian perserta tersebut melanjutkan ke tahap pawai di jalan raya.

Atraksi budaya yang dipertunjukkan adalah tradisi keseharian masyarakat tana Samawa khususnya Empang, mulai dari Mengantarkan anak mengaji, upacara menanam padi, Male, melahirkan hingga proses menikahkan anak. Semua sangat menarik, terlebih dalam tata cara membawa anak mengaji, dahulu di Empang ada seorang Guru Ngaji yang terkenal yaitu Dea Imam. Beliau adalah guru agama seluruh masyarakat Empang dan Sumbawa, hidup pada era 1900-an.

 

Baca Juga :


Dalam pertunjukkan tersebut yang paling menarik dan mengundang sorak serta tawa penonton adalah prosesi kelahiran yaitu Baranak Badadi diperankan oleh ibu-ibu yang sangat lihai, dari atas panggung Daeng Hasanuddin menjelaskan apa itu Baranak Badadi, yaitu proses panjang mulai dari mengandung hingga melahirkan, dirangkai dengan upacara adat calon bayi maupun bayi serta anak-anak.

Pada masa mengandung diselenggarakan acara Biso Tian, upacara pada proses kelahiran pertama hingga upacara Beang Singin atau Basasingin, yaitu pemberian nama, gunting rambut serta upacara Baterok melubangi kuping bayi perempuan.

Setelah pertunjukkan Baranak Badadi kemudian di ikuti lagi oleh pertunjukkan tradisi Bada yang sangat mengundang tawa seluruh penonton. Sembari pertunjukkan berlangsung dari atas panggung Daeng Hasanuddin menjelaskan Bada yaitu pemberitahuan khusus kepada seorang wanita yang akan dinikahkan. Bada dilaksanakan pada waktu Subuh, pemberitahuan pada si wanita disampaikan oleh wanita yang paling dituakan pada keluarganya. Biasanya si Wanita di damping oleh Ibu calon mertua serta para wanita dewasa lainnya.

Setelah Bada disampaikan, si wanita akan menangis sejadi-jadinya entah itu bahagia atau tidak namun dia tetap menerima keputusan tersebut. Saat si wanita menangis biasanya akan di iringi oleh suara Guntung atau Gonteng yaitu membunyikan lesung dengan irama khusus dan khas.

Acara sudah berlangsung lama namun masih banyak kelompok peserta lainnya yang masih menunggu antrian untuk pertunjukkan. Saya pun pindah tempat mencari objek lain untuk di foto, akhirnya saya memilih diluar jalan raya, namun keadaan sangat ramai hingga jalan mengalami kemacetan. Setelah dari jalan raya kemudian saya memilih untuk menuju Plampang untuk mengunjingi kakak, di Plampang saya tidak begitu lama karena harus balik ke Bima. setelah mandi dan makan saya berpamitan untuk balik ke Bima. hari semakin gelap malampun datang di tengah hutan Sumbawa menuju Dompu agak ramai oleh kendaraan berhubung pada malam minggu jadi tidak terlalu kuatir mengendarai motor sendiri.



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan