logoblog

Cari

Tutup Iklan

Ritual Selamet Olor di Hutan Adat Bangket Bayan

Ritual Selamet Olor di Hutan Adat Bangket Bayan

Ritual Selamet Olor Ritual Selamet Olor merupakan salah satu ritual yang dilaksankan oleh Masyarakat Adat untuk menyambut datangnya musim hujan, setelah ritual

Budaya

Renadi
Oleh Renadi
15 Oktober, 2017 15:12:44
Budaya
Komentar: 0
Dibaca: 9049 Kali

Ritual Selamet Olor

Ritual Selamet Olor merupakan salah satu ritual yang dilaksankan oleh Masyarakat Adat untuk menyambut datangnya musim hujan, setelah ritual ini dilaksanakan maka para petani sudah bisa untuk menyipkan pembibitan. Dalam masyarakat Adat Bayan pada umumnya, yang memiliki lahan pertanian di Bangket Bayan pada khususnya selalu menanam jenis padi lokal pada musim hujan, yaitu padi bulu.

Kebutuhan Selamet Olor adalah dari iuran yang dikumpulkan oleh para petani yang menggunakan air dari hutan adat bangket bayan, yaitu berupa uang bolong dan juga rupiah. Hasil iuran ini digunakan untuk membeli ayam dan atau kerbau sebagai bahan makanan yang digunakan. Untuk kerbau digunakan pada bangaran senin, yaitu ditahun dal, sedangkan untuk ayam digunakan selama tiga tahun lainnya.

Pelaksanaanya tidak tergantung bulan tetapi justru tergantung pada musim, yaitu sebelum datangnya musim hujan.

Selamet olor ini dilaksanakan sekali dalam dua tahun yaitu ditahun alip, jimawal, dal, dan wau. Empat haun lainnya yaitu ehe, se, be jimahir tidak dilakukan selamet olor di hutan adat bangket bayan, terkecuali dialiran sungai selain mata air bangket bayan. Pada tahun ini adalah bangaran senin sehingga ternak yang disembelih kerbau, sedangkan pada tahun alip, jimawal, dan wou, ternak yang disembelih cukup dengan ayam saja (Kerbau tidak diwajibkan).

Lokasi pelaksanaan untuk ritua selamet oler yaitu dihutan adat bangket bayan, tepatnya disebelah barat pedangan/bagian utara hutan bangket bayan. Areal hutan ini disebut dengan Gumi Dalem, yang termasuk juga bangket bayan dan bangket lendang. Batas terluar dari Gumi Dalem ini disebelah timur adalah Lokok Pelok, sebelah Utara adalah lokok penempuran, antara lokok pelok dengan lokok reak, sebelah barat adalah lokok reak, dan batas sebelah selatan adalah sempopo.

Yang memimpin dalam ritual ini adalah Inan Aiq, yaitu orang yang bertugas untuk menjaga mata air yang ada dihutan adat, serta mengatur kebutuhan air untuk para petani. Inan aiq adalah pejabat adat yang ditunjuk dan disepakati berdasarkan garis keturunan dengan cara dimusyawrahkan. Pada tahun ini yang menjabat sebagai Inan Aik adalah Jantilah yang juga dikenal dengan nama panggilannya Aman Senen.

Tahapan prosesi dari selamet olor yaitu persiapan bahan dan alat yang akan digunakan, yaitu berupa ternak yang akan disembelih, bumbu-bumbu yang digunakan, dan juga peralatan dapur seperti periuk dan lain sebagainya.

Pada puncak acara, yaitu menyembelih ternak oleh Kyai Lebe atau kyai santri sebagai pemimpin dalam acara meriap dan juga memimpin doa. Ternak yang disembelih akan dicincang menjadi bagian kecil-kecil oleh kaum laki-laki, sedangkan untuk kebutuhan nasi yang akan menyiapkan adalah kaum perempuan.

 

Baca Juga :


Bahan makanan yang semua sudah siap, maka ditaruh pada tempat-tempat tertentu sebelum dihidangkan pada acara meripa. Titik – titik sebagai lokasi nenok yaitu di Perumbaq Daya, Gedeng Daya, dan Pedangan. Orang bertugas untuk menaruh makanan atau nenok di Perumbaq Daya adalah Perumbaq Daya (jika ada) tetapi karena saat ini lagi kosong, maka yang melakukan adalah Amaq Lokaq Walin Gumi. Untuk di Gedeng Daya dilakukan oleh Amaq Lokaq Pande, sedangkan yang bertugas di pedangan adalah Inan Aik. Jika semua lokasi sudah selesai nenok, maka dilaksanakanlah prosesi meripa (puncak acara yang dipimpin oleh Kayi Lebe). Dengan berakhirnya acara atau ritual selamet olor, maka para petani sudah bisa memulai prosesi pertanian pada musim hujan, yaitu penanaman padi bulu.

Padi bulu merupakan jenis tanaman yang sangat erat hubungannya dengan masyarakkat Adat Bayan, karena dalam setiap ritual yang dilaksanakan harus ada padi bulu sebagai bahan makanan utama pada saat meriap. Proses penanaman padi bulu sampai panen memiliki beberapa tahapan prosesi secara adat, bahkan sampai disimpan dalam lumbung.

Tahapan yang dilakukan yaitu mulai dari mengambil benih dilumbung dengan berbusana adat, kemudian padi bulu di rendam dalam air sekitar dua hari, lalu dikeringkan. Dalam beberapa hari akan tumbuh benih kecambah, maka pada saat itu baru disebar kelahan yang sudah disiapkan untuk pembibitan sampai usia benih siap ditanam yaitu sekitar 30 sampai dengan 45 hari.

Selama benih berkembang, maka petani menyiapkan lahan persawahan sebagai lokasi tanam. Proses pengolahannya dilakukan selama dua kali, yang pertama disebut belesaq dan yang kedua disebut dengan jejarian.

Pertama belesaq, adalah proses yang dilakukan untuk membuat lahan lebih gembur serta memperbaiki petakan sawah yang kedepannya digunakan sebagai tempat untuk menanam tanaman jalar lokal yaitu tanaman komak. Petakan ini berfungsi untuk menjaga air selama padi berkembang dan juga bisa memberikan kesuburan pada petakan sawah sehingga tanaman bisa menjadi lebih sehat dalam perkembangannya.

Kedua yaitu jejarian, proses ini adalah tahapan terkahir dalam pengolahan lahan, karena dalam tahapan ini sawah diolah sampai merata tingkat kegemburan lahan yang sebelumnya tidak rata karena digunakan untuk membuat petakan sawah. []



 
Renadi

Renadi

Pengelola Pendidikan Masyarakat Adat dan Pariwisata Budaya Bayan

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan