logoblog

Cari

Tutup Iklan

"Bejaranan" Warisan Budaya Pejanggik Takkan Hilang

kebudayaan-kebudayaan lama pada masa kerajaan pejanggik masih dapat kita jumpai jejaknya di Desa pejanggik Kecamatan Praya Tengah,situs-situs tersebut berupa sebuah tempat

Budaya

"Bejaranan" Warisan Budaya Pejanggik Takkan Hilang

"Bejaranan" Warisan Budaya Pejanggik Takkan Hilang

Firman PurnaWirawan
Oleh Firman PurnaWirawan
08 Oktober, 2017 17:10:56
Budaya
Komentar: 0
Dibaca: 532 Kali

kebudayaan-kebudayaan lama pada masa kerajaan pejanggik masih dapat kita jumpai jejaknya di Desa pejanggik Kecamatan Praya Tengah,situs-situs tersebut berupa sebuah tempat yang memiliki nilai yang berharga bagi masyarakat desa Pejanggik maupun masyarakat Lombok pada umumnya. Bukan hanya bangunan Bale Beleq yang membuat Desa pejanggik terkenal akan tetapi ada budaya yang hingga saat ini di jalankan yaitu Bejaranan. Bejaranan pada zaman dahulu adalah selalu bersifat sakral.

Maksudnya selalu berhubungan dengan hal-hal yang sifatnya gaib. Selain untuk tontonan dahulu jaranan juga digunakan untuk upacara-upacara resmi yang berhubungan dengan roh-roh leluhur keraton. Pada zaman kerajaan dahulu jaranan seringkali ditampilkan di keraton. Moter sekenam pituk kali istilah ini biasa disebut oleh orang sasak sebagai ungkapan atau sebutan pada ragam gerak terakhir dalam tari Jaran Pejanggik.

Gerakan ini adalah gerakan tahap terakhir atau penutup dari tarian ini, yaitu gerakan yang ditutup dengan gerakan memutar mengelilingi atau mengitari berugag sekenam (semacam rumah yang bertiang enam) searah dengan jarum jam sebanyak tujuh kali putaran. Setelah praje diputar berkeliling tujuh kali. Putaran mengitari berugak tersebut maka akan didudukkan di atas kursi yang dipersiapkan khusus di atas lantai berugak tersebut. Nilai simbolis yang bernuansa religius yang terkandung pada gerakan tari ini yaitu mengitari sekenam searah dengan jarum jam adalah merupakan simbolis bahwa agama Islam memiliki rukun iman sebanyak enam yang harus selalu dijaga dan dipegang teguh oleh umat islam dalam keadaan apapun.

Pada awal munculnya Bejaranan Pejanggik, para sekahe atau penari dan pemusik Bejaranan Pejanggik tidak menggunakan kelambi atau baju (telanjang dada) melainkan hanya menggunakan sapuq, sabuq anteng, dan kain olong saja, kemudian perubahan berikutnya. Kostum Bejaran Pejanggik ini mulai menggunakan pakaian sehari-hari, namun dengan menggunakan pakaian sehari-hari dimana antara sekahe satu dengan Sekahe lainnya menggunakan kaos yang berbeda bentuk, motif, dan warna Menimbulkan kesan tidak rapi dan tidak seragam.

Dengan seiring berjalannya waktu Bejaran Pejanggik mulai mendapat apresiasi dari pemerintah daerah yang memberi perubahan pada kostumnya yang dipertahankan hingga saat ini yaitu baju atau kelambi yang digunakan agar terlihat rapi dan seragam antara penari satu dengan penari lainnya. Pemusik dan penari Bejaranan Pejanggik menggunakan kostum yang sama, tidak ada perbedaan pada kostumnya. Sebagai pembedanya yaitu penari membawa properti dan pemusik membawa alat musik. Sabtu, 7 Oktober 2017, Dusun Bageq tenten bejaran.

Bejaran Desa Pejanggik disewa untuk monggok Praje (bahasa sasak) anak-anak ynag ingin khitanan/sunatan. Acara yang dilakukan malam hari itu banyak mendapat perhatian bagi warga lain. Karena baru pertama kali Bejaran ini dilakukan di Dusun Bageq Tenten. Pastinya tidak kalah menarik dari budaya lain yang bisa memikat para penonton. Tentunya Juga kita yang sebagai Pemuda tidak mau kalah sama orang tua. Yang jauh jauh datang untuk menyaksikan hanya untuk melihat bagimana proses Bejaranan ini.

Baca Juga :


"baru pertama kali melihat proses bejaranan ini, rasanya ingin duduk diats sebagai praje", ujar teman.

Namun bejaranan ini akan lebih menakjubkan kalau ada alat musik untuk dimainkan. Alat musik merupakan salah satu bagian penting dari sebuah tari begitupun dalam tari Jaran Pejanggik. Pemusik pada tari Jaran Pejanggik berjumlah 7 orang, adapun alat musik yang digunakan dalam tarian ini yaitu Suling, Preret, Gendang, Jidur, Rencek, Gong, dan Kepong. Dalam penyajian tari Jaran Pejanggik diawali dengan suara instrumen musik prepet. Intinya bukan kecilmolan yang memiliki musik akan tetapi Bejaranan pun memilikinya.

Bahkan Musiknya Tradisional juga yang membuatnya tambah luar biasa. Diharapkan kepada tokoh tari tetap mempertahankan tari tersebut sebagai warisan budaya.Kepada generasi muda agar tetap melestarikan, dengan mempelajari lebih dalam lagi tentang tari Jaran Pejanggik. Dan semoga dari artikel ini kita lebih banyak mengenal lagi tentang Warisan budaya dan lebih dipertahankan lagi. []



 
Firman PurnaWirawan

Firman PurnaWirawan

Nama saya Firman Purnawirawan. Saya kuliah di IAIN MATARAM dan masuk organisasi para sahabat yaitu PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia). Saya anak ke dua dari tiga bersaudara.

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2017 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan