logoblog

Cari

Tutup Iklan

Filosofi Bekereng Bebendang

Filosofi Bekereng Bebendang

Bekereng-Bebendang adalah identitas perempuan sasak -Rohani Inta Dewi- Berbicara tentang bekereng bebendang (memakai kain/tenun) tidak hanya berbicara tentang praktik dan bagaimana cara bekereng

Budaya

Filosofi Bekereng Bebendang

Filosofi Bekereng Bebendang

Filosofi Bekereng Bebendang

rohani inta dewi
Oleh rohani inta dewi
22 September, 2017 16:20:50
Budaya
Komentar: 3
Dibaca: 1414 Kali

Bekereng-Bebendang adalah identitas perempuan sasak

-Rohani Inta Dewi-

Berbicara tentang bekereng bebendang (memakai kain/tenun) tidak hanya berbicara tentang praktik dan bagaimana cara bekereng bebendang yang baik dan benar, mana kain yang berkualitas dan tidak, mana kain yang murah dan mahal, siapa yang membuatnya dan darimana kereng dan bendang ini dibuat dan diproduksi. Tidak juga hanya berbicara tentang ekonomi dan peluang pariwisata untuk dikomersilkan.

Tapi lebih dari itu, kereng dan bendang berbicara tentang kehidupan sosial, budaya, geografis, ekonomi, sosiologi, antropologi, sejarah, politik, bahkan perilaku keseharian masyarakatnya. Hal tersebut bisa dilihat dari motif kereng dan bendang yang sangat beragam dan kaya. Di Lombok saja di masing-masing kabupaten memiliki khas motif masing-masing. Seperti motif subhanale, lepang, kembang komak, dan regi enem dilombok tengah. Motif kotak, abang,dan jong di Lombok Utara, dan motif di Lombok timur.

Berdasakan hasil pelagak lekong belah (ngobrol santai tidak serius dan kaku) dengan para perempuan penenun di Lombok Utara (bayan) dan Lombok tengah (sukarare dan sade) beberapa waktu lalu mengenai bagaimana pola penyebaran pengetahuan dan proses menemukan motif. Jawaban mereka sederhana mengenai pengetahuan dan skill (keahlian) menenun sudah diajarkan sejak mereka berumur 9 tahun atau 11 tahun, tidak sedikit juga yang belajar secara otodidak hanya melihat dan mencoba sendiri langsung bisa, mereka mengatakannya sebagai anugerah sejak lahir mungkin karena faktor gen karena para leluhur dan orangtuanya juga penenun.

Pemaparan perempuan tenun yang lain juga karena ada salah satu awig-awig (aturan) tidak tertulis yang ada sejak dulu dan terus mereka ikuti dan taati yaitu apabila mereka belum bisa menenun maka belum boleh menikah (sumber:perempuan penenun sukarare). Selanjutnya mengenai dari mana sumber ide mengenai motif mayoritas dari mereka mengatakan secara turun temurun dan berdasarkan apa yang mereka rasakan dan lihat pada saat meneun. Salah satu contoh motif lepang, mereka mengatakan bahwa motif ini lahir pada saat dijalan hendak menenun dan hampir menginjak lepang (kodok/katak) jadi pada saat proses menenun dimulai akhirnya motif inilah yang tercipta.

Baca Juga :


Makna filosofis lain yang terandung dalam tradisi bekereng bebendang adalah juga berkaitan erat dengan kehidupan dan ritual. Contoh di masyarakat suku sasak bayan.  Kain, kereng dan bendang tidak hanya mereka buat untuk dijual dan dikomersikan tapi erat kaitannya dengan ritual yang mereka lakukan. Dimana setiap ritual mereka ada kaitannya dengan kain. Ada beberapa motif khusus yang tidak boleh untuk dirubah dan dimodifikasi karena sudah memiliki pakem tersendiri. Ada kain khusus juga yang digunakan oleh pria dan wanita, tidak sembarang menggunakan mana yang disukai karena kain, kereng dan bendang adalah identitas.

Bekereng bebendang tidak lagi bisa dilihat sebagai hal yang biasa, seolah tidak ada makna yang terkandung dalam tradisi bekereng bebendang, seolah hanya berfungsi sebagai penutup badan, bahkan beberapa generasi muda (perempuan sasak) sudah malu menggunakan kereng dan bendang. Konotasi yang muncul apabila bekereng bebendang adalah perempuan kolot norak, dan ndeso. Tentunya hal tersebut tidak bisa kita sandarkan kesalahan penuh terhadap generasi muda, karena selama ini mereka memang tidak mendapatkan informasi dan pengetahuan mengenai filosofis bekereng bebendang dari generasi sebelumnya. Semoga artikel ini bermanfaat untuk kita semua, dan menciptakan rasa cinta dan bangga terhadap sasak, Lombok, NTB, dan Indonesia. []

 



 

Artikel Terkait

3 KOMENTAR

  1. Pangkat Ali

    Pangkat Ali

    22 September, 2017

    Terus gali dan mencari tahu.......qt (sasak) punya banyak potensi sebagai kearifan lokal (Maaf, di sekotong dimana?)


    1. Pangkat Ali

      Pangkat Ali

      23 September, 2017

      Taman baru....selatan SMPN 1 sekotong, btul?...dulu namanya Gunung Kosong......


    2. rohani inta dewi

      rohani inta dewi

      23 September, 2017

      tampi asih, nggeh sangat sepakat. tiang di sekotong tengah taman baru.


 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2017 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan