logoblog

Cari

Tradisi Sunat Adat Mantoi Warga Saneo

Tradisi Sunat Adat Mantoi Warga Saneo

Kearifan lokal merupakan bagian dari budaya suatu masyarakat, kearifan local juga merupakan identitas kepribadian suatu masyarakat yang kemungkinan tidak dimiliki oleh

Budaya

KM Ncuhi Saneo Woja
Oleh KM Ncuhi Saneo Woja
01 Agustus, 2017 09:52:40
Budaya
Komentar: 0
Dibaca: 61615 Kali

Kearifan lokal merupakan bagian dari budaya suatu masyarakat, kearifan local juga merupakan identitas kepribadian suatu masyarakat yang kemungkinan tidak dimiliki oleh masyarakat lain. Pasalnya, identitas ini adalah warisan yang secara turun temurun dari satu generasi ke generasi lain atau generasi berikutnya. Warisan itu, beragam adanya, yaitu sesuai dengan ajaran agama yang diyakini oleh suatu masyarakat.   Pada era dewasa ini, budaya masyarakat yang dikenal sangat religious kini semakin luntur, bahkan terkikis dan hilang.

Meskipun demikian, masih ada suatu daerah yang masih kental akan budaya kearifan lokal yang hingga kini masih terus dipertahankan keberadaannya. Tepatnya di Desa Saneo, Kecamatan Woja, Kabupaten Dompu. Di desa ini,   ada suatu adat lama yang masih bertahan hingga saat ini. Yaitu tradisi Sunat sesuai dengan adat. Prosesi sunat adat di desa ini, diketahui sudah ada sejak jaman nenek moyangnya (jauh sebelum jaman Kesultanan Dompu). Berdasarkan penuturan masyarakat setempat, desa Saneo merupakan satu-satunya desa dari 81 Desa dan kelurahan di Kabupaten Dompu yang masih mempertahankan budaya lokal.

Hal ini lah yang membuat masyarakat desa Saneo, berbeda dengan desa lainnya. Meskipun tidak semua daerah yang melakukan hal yang sama, akan tetapi sudah banyak yang melakukan prosesi sunat di Rumah Sakit, Puskesmas, Klinik dokter Umum, atau bahkan dilakukan secara massal tanpa melakukan upacara adat yang menjadi ciri khas setiap masing-masing daerah. Di pastikan, itu disebabkan oleh terkontaminasinya budaya barat dengan budaya lokal, sehingga, membuat budaya lokal semakin terkikis.

Desa Saneo yang masuk dalam Provinsi Nusa Tenggara Barat yang didalamnya terdapat tiga jenis suku,  yaitu suka Sasak, Samawa, Mbojo (SASAMBO) ini, pada prosesinya, terdapat satu jenis sesajen yang disebut PANGAHA SINCI (jajan yang berbentuk bunga, bulat seperti cincin). Makanan atau jajan yang terbuat dari tepung beras itu, jumlahnya pun cukup fantastik, yaitu mencapai ribuan. Rupanya, jumlah tersebut ditentukan oleh tingkatan anak yang akan disunat. Misalnya, jika anak pertama yang disunat, maka jumlah jajannya mencapai lebih dari seribu, jika anak yang disunat adalah anak kedua atau ketiga, maka jumlah jajanya dibawah seribu. Sehingga jika dibentuk seperti pohon, maka tingginya akan melebihi tinggi orang dewasa.

Uniknya, berdasarkan kepercayaan masyarakat setempat,  jika jumlah jajan yang dijadikan sebagai sesajen (Di sebut SOJI ra NDOSO dalam bahasa Dompu) tidak sesuai dengan tingkat anak yang disunat, maka anak tersebut akan mengalami ganguan seperti, gangguan jiwa bahkan akan hilang ingatan. Kepercayaan ini, turun temurun dipercayai sejak jaman dulu.  Untuk memenuhi jumlah jajan yang akan dijadikan sebagai sesajen itu, biasanya warga yang memiliki hajatan akan membuatnya jauh hari sebelum acara sunat dilakukan. Sebagai bahan tambahan dalam prosesinya, warga juga menambahkan bahan lain seperti, beras kuning, lilin, telur, kain kuning, kapur dan daun sirih, buah pinang, buah kelapa dan yang lainnya.

 

Baca Juga :


Saat upacara tiba, terlebih dahulu jajan pangaha sinci dan bahan lainnya diturunkan dari rumah dengan ditopang oleh belasan orang, kemudian jalannya didahului oleh anak yang disunat. Begitu tiba ditempat acara, anak yang disunat disambut dengan shalawat oleh para ulama dan petuah desa. Setelah itu, anak disunat akan melakukan ritual MAKKA atau sumpah suci. (Tas Ruma ee, Mada Ra Lao Maru Ku Aka Sori Miri, Ra Maru Pita Ku Lima Nteko, Ku Ne.e Ngupa Siwe Mantika). Artinya, Ya Allah, Saya Tidur Ditengah Sungai Yang Mengalir, Tidur Diatas Lapisan Kelima, Saya Ingin Mendapatkan Perempuan Yang Cantik.

Setelah MAKKA, kemudian dilakukan prosesi compo sampari atau memasukan keris pusaka pada pinggang anak yang disunat. Caranya pun terbilang unik, yaitu terlebih dahulu diputar mengelilingi tubuh anak sebanyak tiga kali diiringi oleh shalawat. Setelah itu, dilanjutkan dengan dzikir. Prosesi tersebut dilakukan berdasarkan kepercayaan masyarakat agar anak yang akan disunat tidak merasakan kesakitan saat disunat.

Setelah melalaui beberapa rangkaian, tiba lah anak untuk disunat. Namun sebelum disunat, anak terlebih dahulu disiram atau dimandikan dengan air yang disebut air suci. Lagi-lagi, cara tersebut dipercaya untuk menguatkan anak agar tidak merasakan kesakitan ketika disunat. Proses sunat diiringi oleh suara gendang dan suling yang ditabuh oleh orang khusus. Itu dilakukan, untuk memancing roh leluhur agar ikut menyaksikan proses sunat seorang anak. () - 05



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan