Cari

Tutup Iklan

Budaya

Tradisi

Tradisi "Ngejot" Ajakan Bermurah Hati dari Lombok

Tradisi "Ngejot" Ajakan Bermurah Hati dari Lombok

Ahyar ros
Oleh Ahyar ros
18 Juni, 2017 16:45:37
Budaya
Komentar: 0
Dibaca: 2660 Kali


Ratusan warga jalan beriringan. Sebagian besar adalah ibu rumah tangga, remaja, dan anak-anak, berkumpul di lapangan Dusun Karang Tojang, Desa Lenek Pesiraman, Kabupaten Lombok Timur, sekitar 55 kilometer arah timur Kota Mataram, NTB. Menjelang azan magrib berkumandang, mereka mengikuti ritual ngejot (bertandang), yang dalam tradisi suku Sasak ini adalah mengantarkan santapan berbuka puasa yang dilaksanakan menjelang akhir lebaran Idul Fitri di Lombok. Menebar kebaikan, saling menghormati, dan berbakti kepada orang tua, pemimpin adalah makna tersirat dari tradisi ngejot ini.

Satu tahun lalu, tepatnya di Dusun Karang Tojang, Lombok Timur, saya bersama seorang sahabat jurnalis Lombok Post, Fathul, berdiri di lapangan Dusun Karang Tojang. Sore itu, langit terlihat cerah. Acara hampir dimulai, ratusan warga berkumpul di lapangan, di sebuah area khsusus, petak yang diberi pembatas dengan tali dilengkapi tikar leso (tikar terbuat dari pandan), sebagai alas duduk mangku adat, kepala desa, dan penghulu. 

Menurut cerita dari Syarifuddin (41) pria asal Lenek, tradisi ngejot telah dilakukan oleh para orang tua dan nenek moyang di desanya sejak dahulu. Ngojet ini terus dirawat hingga kini agar silaturahmi dan ajaran kedamaian yang telah dibangun orang tua terdahulu terjaga dengan baik," cerita pria yang akrab disapa Gayep ini kepada saya.  

Sebelum memasuki area ini, setelah berwudhu, beberapa pemuda membawa abah-abah (santapan berbuka puasa), yang disimpan di dalam dulang (wadah), berjalan mengitari area khusus itu sebanyak tujuh kali. Kepala desa yang menerima abah-abah menyampaikan kata sambutan, dan (ijab kabul). Penghulu memimpin pembacaan doa. Kepala desa juga menyerahkan beras, gula pasir, buah, dan pangan lokal Lombok lainnya kepada warga.

Prosesi adat selesai, warga pun dengan membawa dulang (wadah) di kepala berjalan beriringan pulang. Barang bawaan itu diserahkan kepada orang tua, kakak, adik, dan kerabat terdekat di lingkungannya.

Tanda bakti seorang anak

Tradisi ngejot ini biasanya digelar di Gubuk Jero. Ini adalah tempat yang masih dianggap sakral di desa itu, pada sebuah pepaosan (bale-bale adat), tempat tokoh desa adat setempat duduk selama ritual berlangsung. Dalam satu dekade terakhir ini ada rangkaian yang berubah dari acara itu karena tempat yang biasa digunakan relatif sempit. Selain itu, makanan hantaran diberikan kepada keluarga terdekat, tokoh agama, tokoh adat, dan pemerintah di lingkungannya.

Rangkaian yang berubah itulah yang ingin dirajut kembali agar hubungan harmoni masyarakat dengan tokoh di desa terjalin dan terjaga dengan baik. Ngejot dimaknai sebagai rasa syukur warga (manusia) kepada Allah SWT yang telah memberikan kehidupan. Ini dilambangkan dengan mengitari pepaosan sebanyak tujuh kali. Ini sebagai simbolisasi bumi dan langit yang terdiri atas tujuh lapis.

Spirit Persaudaraan

Dalam tata pemerintahan, ngejot sebagai wujud nyata saling ketergantungan dan kontrak politik antara pemerintah dan rakyat untuk saling asuh dan asah. Dari aspek sosial, ngejot bisa pula dimaknai sebagai manifestasi dari hubungan antarstrata sosial, yang bermakna tidak ada sekat kaya dan miskin karena yang berada pun menerima makanan dari keluarganya yang miskin. Semua melebur, menyatu, dan merajut kebersamaan akan keberhasilan menyelesaikan panggilan rukun Islam ketiga itu.

Ngejot juga digambarkan bakti kepada orang tua, penghormatan adik ke kakak, menjalin hubungan silaturahmi, kerukunan, dan kedamaian. Nilai-nilai itu pula yang tersurat dan tersirat selama Bulan Suci Ramadhan, seperti berjuang melawan hawa nafsu, yang dalam kehidupan komunal etnis Sasak (suku asli Lombok) antara lain diwujudkan dalam bentuk saling laik dan ayo (bertandang atau silaturahmi), saling sapa, dan salin tandak antara sesama (memberi).

Dengan spirit persaudaraan itu, menjelang tiba waktu berbuka puasa kaum ibu dan remaja putri dengan membawa dulang (wadah) piring bersusun berisi lauk pauk disangga di kepala, mengitari gang perkampungan mengantar hidangan kepada handai taulannya (tetangganya) dan kerabat lainnya.

Dalam setiap Ramadhan, tradisi ngejot dijadikan sebagai momentum warga Lenek, Lombok, merekatkan hubungan yang telah terputus, dan terkoyak sehingga ngejot sebagai wadah merekatkan kembali ajakan untuk merawat semai kedamaian itu sendiri.

Usai acara ngejot berlansung, saya berdialog dengan seorang warga Lenek. Dari obrolan bersamanya, saya menemukan alasan yang cukup mengentak. Ngejot adalah cara sederhana mereka saling mendoakan dan berbakti kepada orang tua dan pemimpin (tokoh agama, adat) mereka. Nilai keikhlasan, ketulusan, serta merawat tradisi sesuatu yang tak ternilai dengan materi.

Saya menyaksikan bahwa cinta kepada sesama adalah nilai-nilai universal yang kemudian menjaga hati semua orang untuk selalu bertaut. Saya menyaksikan bahwa kasih sayang antar sesama adalah jantung dari sehatnya hubungan antar sesama warga. Ketika anggota masyarakat saling menyayangi, mereka akan menjadi kesatuan yang utuh, mereka saling membantu, saling memperhatikan, demi menjaga satu sama lain.

Merayakan ngejot adalah cara terbaik kita belajar bermurah hati, merawat kebaikan dan kedamaian antar sesama warga demi terjaganya keharmonisan. Begitu mudahnya kita berbuat kebaikan. Saya beruntung Ramadhan itu ikut menyaksikan prosesi ngejot. Tradisi Ngejot harus dirawat sebagai kekayaan budaya Lombok, yang menyimpang nilai-nilai kebaikan. Jika ditanya tahun Ramadhan ini, apakah mau kesana lagi atau tidak? saya akan menjawab, ya. Insyallah, saya ikut lagi. (Ahyarros) -03

 



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2017 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan