logoblog

Cari

Lawas Tana Samawa dan Cinta Sang Candra

Lawas Tana Samawa dan Cinta Sang Candra

Delapan tahun lalu tepatnya 2009, teman-teman cineas muda Lombok yang domotori Salman Faris dan Ming Muslimin membuat sebuah film perekat bangsa

Budaya

Abu Macel
Oleh Abu Macel
26 Mei, 2017 07:25:34
Budaya
Komentar: 0
Dibaca: 62564 Kali

Delapan tahun lalu tepatnya 2009, teman-teman cineas muda Lombok yang domotori Salman Faris dan Ming Muslimin membuat sebuah film perekat bangsa dengan judul “Sape Ampenan Satu Cinta”

Alas Barat Kabupaten Sumbawa adalah salah satu lokasi pengambilan gambar. Dalam sebuah adegan, dua orang lelaki paruh baya duduk di tangga rumah memegang rebana sambil menyuarakan syair lawas berbahasa sumbawa.

Telinga saya terus fokus mendengar kedua lelaki itu berdendang dengan dialek samawa. Mata saya memperhatikan gerakan tangan yang memukul rebana. Sesekali rebana itu dipukul keras dan sesekali lembut.

Saat syair diucapkan, suara rebana mengiringinya dengan lembut. Saat syair tak disuarakan, rebana itu dipukul dengan tempo yang lebih cepat dan suaranya terdengar keras. Kedua pelantun saling bergantian menyuarakannya dan di akhir bait disuarakan bersama.

Secara harfiah saya tak bisa menetrjemahkannya, namun energy yang dikirim kedua lelaki tua itu memandu saya untuk memahami beberapa kata yang tertangkap telinga.

Itulah Sakeco, seni lawas masyarakat Tana Samawa yang disebut juga seni Ratib. Irama dan suara pelantunnya membawa setiap pendengar bisa tersenyum, tertawa terbahak dan hatinya senang tenteram.

Menurut beberapa sahabat Sumbawa dan beberapa refrensi yang ditemukan, Sakeco ini merupakan seni tutur yang berisi pantun nasihat, sesindiran bahkan keritikan yang ditujukan kepada penguasa dan masyarakat pada semua tingkatan agar tentunya menjadi lebih baik.

Mendengar Sakeco menuntun saya untuk menyukainya meski sekadar nada dan iramanya saja. Justru ini menjadi kebanggan tersendiri ditengah kegelisahan saya terhadap seni suara dan musik yang menjadi industri dan menggerus seni lokal di Desa.

Kebanggaan saya kian menguat manakala berselancar di internet. Sebagai pengguna siber, saya menemukan Sakeco yang dilantunkan anak muda di Youtube. Dibumbui perangkat musik elektrik menjadikan Sakeco dapat dikemas dengan beragam genre. Dan ini menjadikannya akan tak tergilas waktu.

Pesan dalam liriknya kian diperluas. Pakem pembuka selalu diawali dengan berendah hati menyapa penonton. “Hadirin ku yang mulia harapan, kami mohon tenang ku bada hader pang ika Ade lebih kurang, sia menong Sia maaf tu gamana kami sate tu karante”. Kemudian dilanjutkan dengan pesan lainnya yang berisi keindahan semesta alam yang menuntun kita untuk menjaganya.

Saling dukung saling sadu, lema dapat detu hajat. Sai tau noto basukur, bakan nonda ade tu rasa. Yang mengirim pesan agar selalu saling mendukung dan saling mempercayai sebagai bentuk ungkapan rasa syukur atas karunia dan nikmat yang dirasakan.

 

Baca Juga :


Diujung Pulau Sumbawa, Suku Mbojo juga memiliki seni “Rawa Mbojo”. Seni lawas ini dilantunkan diiringi gesekan biola. Syairnyapun berisi pesan kebaikan dalam menghadapi persoalan kehidupan.

Di Lombok juga demikian, ada Bekayat dan Ciloka. Bekayat merupakan seni bertutur. Berisi kisah perjuangn Nabi dan para sahabat serta sejumlah kisah cinta dan kisah hikmah lainnya. Sedangkan Ciloka merupakan seni suara yang diiringi alat musik petik tradisional yang sekarang berkembang dengan sentuhan tehnologi elektrik.

Ketiga suku besar di NTB ini memiliki benang merah tradisi kebudayaan yang linier dalam mencintai kehidupan. Diungkap dalam syair lawas yang mulai digemari kaum muda.

Sebuah tradisi mengirim cinta lewat syair ini tentu ada juga dibelahan tanah nusantara ini bahkan dunia. Harta benda berupa ajaran nenek moyang kita yang luhur ini sedang dirakit oleh seorang sahabat. Dikumpulkan dengan semangat cinta.

Adalah Candra Malik yang diizinkan Tuhan berkhidmat menjadi “Gajah Mada” masa kini. Menyatukan persaudaraan dalam budaya. Atau menjadi “Wali” yang bersaksi melalui “Syahadat Cinta” dan “Sabda Cinta”. Juga melalui buku “Makrifat Cinta”

Dengan membawa segudang cinta miliknya yang dikemas melalui musikalilasi teatrikal, Sang Candra berkeliling menebar cinta ke pelosok desa dan dusun menyapa saudara dalam “Tirakat Nusantara”.

[salam dari kampung: fairuz abu macel]

Sumber Lyric Sakeco: www.karangbelo.blogspot.co.id 



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan