logoblog

Cari

Malean Sampi, Konsumsi Wisata Masyarakat Gunung Jae

Malean Sampi, Konsumsi Wisata Masyarakat Gunung Jae

Poto-poto: lombokbaratkab.go.id Telah menjadi ciri hampir setiap etnis di Nusantara, ketika masyarakatnya berbahasa, berkesenian, berbusana serta berprilaku dalam berbudaya lokal. Di Lombok

Budaya

Pangkat Ali
Oleh Pangkat Ali
17 Januari, 2017 09:01:45
Budaya
Komentar: 0
Dibaca: 28963 Kali

Poto-poto: lombokbaratkab.go.id

Telah menjadi ciri hampir setiap etnis di Nusantara, ketika masyarakatnya berbahasa, berkesenian, berbusana serta berprilaku dalam berbudaya lokal. Di Lombok Barat sendiri, budaya lokal yang dimaksud adalah permainan rakyat yang sejak lama berkembang dikalangan petani. Permainan ini mereka sebut “male’an sampi”. Apa makna simbolis dari male’an, sebuah permainan masyarakat Gunung Jae ini?

Di kecamatan Narmada, ada sebuah permainan rakyat yang sejak lama berkembang dikalangan para petani. Namanya malean. Kata ini berasal dari kata ‘maleq’ yang dalam bahasa Sasak diartikan ‘kejar’. Malean dapat diartikan mengejar atau kejar-kejaran.

Permainan ini ada kemiripan dengan Karapan Sapi di Madura dan Berapan Kebo di daerah Sumbawa sana. Cuma bedanya, Karapan Sapi di Madura bersifat kompetitif. Sementara berapan kebo dan malean ini hanya berbentuk parade atau iring-iringan yang dalam bahasa Sasak disebut ‘bedelok’

Permainan ini berawal dari kegiatan akhir dari proses pengolahan tanah sebelum ditanami padi. Bagian akhir ini disebut ‘ngirek’ yaitu kegiatan menggaru atau meratakan tanah dengan alat ‘gau’ yang ditarik sapi. Pada sawah yang keadaannya rata dan berlumpur, mereka biasanya memacu sapinya sekaligus melepas ketegangan dan kelelahan setelah bekerja. Lama kelamaan, kegiatan ini dirasakan cukup atraktif serta mengundang perhatian para petani lainnya, sehingga kemudian dijadikan sebagai suatu bentuk permainan mengasyikkan yang mereka sebut ‘malean sampi’.

Dalam perkembangan selanjutnya, malean sampi diselenggarakan secara lebih luas dan lebih menarik dengan cara saling mengundang desa-desa sekitar kecamatan Narmada. Tamu yang diundang oleh desa penyelenggara, biasanya dijamu makan dan minum sebagai layaknya sebuah pesta besar, serta dimeriahkan dengan berbagai bunyi-bunyian seperti gamelan. Tidak jarang juga pada malam harinya, diselenggarakan pertunjukan keramaian rakyat seperti tari gandrung.

Dewasa ini, malean sampi juga diselenggarakan untuk merayakan hari-hari besar nasional dan sudah masuk kalender tahunan pariwisata Lombok Barat sebagaidaya tarik obyek wisata. Sehari sebelum acara malean sampi diselenggarakan, pihak penyelenggara telah menyiapkan arena berupa sepetak sawah yang paling luas. Arena sawah yang luas ini mereka sebut ‘Inen Bangket’ (induk sawah) yang dalam keadaan sudah dibajak dan berair.

Selain itu, disiapkan juga sebuah ‘pelengkungan’ dari anyaman daun kelapa atau enau yang nantinya harus dilewati oleh setiap peserta. Persiapan peserta sendiri, jauh lebih awal, karena sapi-sapi harus sehat, segar serta tangkas.

Bahkan tidak menutup kemungkinan, ada seorang peserta yang menyertakan seorang ‘belian’ (dukun) yang bertugas menjaga kesehatan sapi dari gangguan pesaing dari ilmu hitam yang dimiliki.

 

Baca Juga :


Sarana perlengkapan berupa gau, juga harus disiapkan. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah para penunggang atau joki yang akan mengendalikan gau dan sapi mereka. Perlengkapannya adalah berupa perlengkapan sapi berupa, ‘kerotok’ berukuran sangat besar jika dibandingkan dengan kerotok yang biasa dipakai di tempat lain. Kerotok raksasa ini berukuran kurang lebih 60x75 cm.

Aturan permainan dari malean sampi ini sangat sederhana yaitu, ada 4-5 pasang peserta berjalan beriringan yang dalam bahasa Sasak disebut ‘bedelok’. Pada saat hendak memasuki pelengkungan, sapi harus dipacu secepat-cepatnya sambil berteriak, ho...ho...ho, agar sapinya bisa berlari sekencang mungkin. Saat itulah puncak permainan malean sampi yang tak lepas dari sorak sorai pengunjung dan penonton. “Sorak sorai penonton inilah klimaks dari permainan malean sampi ini,” tutur tokoh masyarakat dusun setempat, Mirate kepada Penulis pada suatu kesempatan pertemuan.

Adapun syarat-syarat dan aturan yang harus dipatuhi oleh setiap peserta adalah, sapi yang dikendalikan harus berlari lurus, tangkas melewati pelengkungan dan tidak menyentuh atau menabraknya. Dulu, yang memberikan penilaian dalam permainan ini adalah, penonton, yaitu di samping harus mentaati dan memenuhi ketentuan di atas, juga yang dinilai adalah faktor ketangkasan dan keserasian gerak sapinya. Keserasian ini oleh masyarakat Sasak disebut ‘tandang’ yaitu, telinga dan ekor sapi terangkat. Sapi-sapi seperti inilah biasanya sebagai pemenang dalam permainan malean sampi ini. Pemiliknya akan mendapatkan pujian serta menjadi terkenal. Harga sapinyapun akan menjadi melambung tinggi.

Inilah malean sampi, sebuah permainan masyarakat Gunung Jae yang memiliki potensi pelestarian budaya yang perlu ditangani serius. Jangan sampai terkikis, lalu punah ditelan zaman.

Dengan adanya permainan malean sampi ini, diharapkan akan semakin bergairah serta mendorong para peternak sapi untuk terus meningkatkan kualitas sapinya. Yang tak kalah pentingnya, malean sampi dapat dijadikan sebagai salah satu ikon lokasi wisata secara khusus di Gunung Jae. Apalagi di tempat ini sudah dibangun pasilitas wisata yang dilatarbelakangi perbukitan serta danau yang menyejukkan. Ini sangat menarik sebagai sebuah destinasi wisata baru.

Menurut rencana, Gunung Jae akan dijadikan sebagai salah satu lokasi atraksi penyelenggaraan permainan malean sampi, sehingga secara berkelanjutan dan berkala, dapat sebagai konsumsi wisata bagi masyarakat Gunung Jae khususnya dan masyarakat Lobar umumnya. Semoga!  () -01

 



 
Pangkat Ali

Pangkat Ali

Save Our Gumi Paer...LOMBOK Lalu Pangkat Ali, kesehariannya sebagai ASN -Pejabat Fungsional Pranata Humas Permkab.Lobar. Tinggal di Desa Kopang-Lombok Tengah. CP & WA: 081907941070. Fb: Fotografer Kopang & Eliza Agniya

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2020 | Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan